Bisnis & Ekonomi

Rupiah Berpeluang Dekati Rp18.000/US$ Analis Soroti Yield Treasury dan Brent

×

Rupiah Berpeluang Dekati Rp18.000/US$ Analis Soroti Yield Treasury dan Brent

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Analis Sebut Rupiah Berpotensi Tembus Rp18.000/US$, Ini Sebabnya - Market

jurnalistik.co.id – Rupiah dinilai berpeluang mendekati level Rp18.000 per dolar AS dalam waktu dekat, seiring dorongan tekanan eksternal yang masih kuat di pasar.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan skenario tersebut cukup terbuka karena dolar AS memperoleh dukungan dari kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury dan masih tingginya harga minyak.

“Peluang rupiah menembus Rp18.000/US$ dalam waktu dekat memang cukup terbuka, terutama karena tekanan eksternal masih kuat,” kata Lukman kepada Bloomberg Technoz, Jumat (25/9/2026).

Menurut Lukman, kenaikan yield US Treasury menjadi salah satu penopang utama penguatan dolar. Ia menyebut yield US Treasury tenor 10 tahun saat ini berada di kisaran 5,2%.

Dengan kondisi tersebut, tekanan terhadap rupiah dinilai ikut meningkat melalui pergerakan arus dana dan sentimen yang dipengaruhi imbal hasil di instrumen AS.

Di luar yield Treasury, Lukman menyoroti harga minyak yang masih bertahan di atas level US$100 per barel. Ia menilai, tingginya Brent mendorong besarnya kebutuhan impor energi, sehingga menjadi tambahan faktor yang memperkuat tekanan eksternal terhadap Indonesia.

Ia juga menyebut perkembangan pembicaraan antara AS dan Iran di New York sebagai salah satu faktor penting bagi arah pergerakan rupiah ke depan.

Dalam pandangannya, kombinasi tiga pemicu tersebut—yield Treasury yang berada di kisaran 5,2% untuk tenor 10 tahun, Brent yang masih berada di atas US$100, serta dinamika pembicaraan AS-Iran di New York—berpotensi menjaga kondisi pasar tetap menekan rupiah.

Dengan begitu, peluang rupiah menguji Rp18.000 per dolar AS dinilai masih layak dicermati pada periode “waktu dekat,” terutama jika tekanan eksternal tersebut tidak mereda.

Meski demikian, Lukman menempatkan faktor eksternal sebagai penentu utama, sehingga pergerakan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada kelanjutan tren yield US Treasury, pergerakan Brent, dan perkembangan pembicaraan AS-Iran.

Dalam konteks tersebut, penguatan dolar yang berpotensi berlanjut dipandang terkait langsung dengan daya tarik aset berdenominasi AS. Saat imbal hasil US Treasury menguat, arus dana cenderung lebih tertarik bergerak ke instrumen yang menawarkan tingkat imbal hasil lebih tinggi, sehingga posisi mata uang seperti rupiah ikut tertekan.

Lukman juga menilai, pergerakan imbal hasil tidak berdiri sendiri, melainkan memengaruhi persepsi pasar terhadap arah nilai tukar. Ketika pelaku pasar menilai tren yield tetap mendapat dukungan, ekspektasi terhadap dolar ikut terbentuk dan menjadi penopang bagi volatilitas yang dapat mendorong rupiah bergerak lebih lemah dalam waktu dekat.

Selain faktor yield, harga minyak dinilai tetap menjadi “penahan” bagi stabilitas sentimen. Dengan Brent masih bertahan di atas kisaran US$100 per barel, kebutuhan impor energi dinilai tetap besar. Kondisi ini membuat tekanan eksternal terhadap Indonesia cenderung tidak mudah mereda, terutama saat pasar global sedang responsif terhadap perubahan komoditas.

Pada saat yang sama, Lukman menempatkan perkembangan pembicaraan AS dan Iran di New York sebagai variabel tambahan yang berpotensi mengubah peta risiko. Dinamika hubungan kedua pihak dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap minyak dan arus dana, yang pada akhirnya kembali berdampak pada arah rupiah.

Karena itu, peluang rupiah untuk menguji level Rp18.000 per dolar AS tidak hanya dilihat dari satu indikator, melainkan dari interaksi ketiga pemicu yang sedang berjalan. Jika tren yield US Treasury tetap di kisaran yang mendukung penguatan dolar, Brent tetap berada di atas US$100, dan perkembangan AS-Iran tidak mengurangi ketidakpastian, tekanan terhadap rupiah diperkirakan akan terus layak dicermati.