jurnalistik.co.id – Tes anti-doping pada Tour de France 2026 mencuri perhatian karena digelar di luar jam yang lazim, tepatnya pada tengah malam. Langkah ini melibatkan nama-nama besar, termasuk pemegang jersey kuning Tadej Pogacar serta rival utamanya, Jonas Vingegaard.
Pada Sabtu, Pogacar dari Slovenia dan Vingegaard menjalani tes di tengah malam. Vingegaard kemudian terjatuh dan tersingkir pada tahap berikutnya, memunculkan dugaan bahwa perubahan jadwal tidur dapat berpengaruh terhadap kondisi tubuhnya.
Laporan menyebut ada lima tim yang mengalami pengujian terhadap para pembalap di rentang 11 malam hingga 6 pagi selama edisi 2026. Waktu ini berada di luar jam pengujian normal, yang umumnya jarang terjadi pada ajang sebesar ini.
BBC Sport memahami bahwa untuk menjalankan upaya seperti ini diperlukan “exceptional circumstances”, atau keadaan yang benar-benar luar biasa, demi membenarkan usaha tambahan tersebut. Di situasi tertentu, waktu dianggap menjadi faktor penting sehingga pengujian perlu dilakukan secara cepat.
Sejumlah pihak di paddock menilai strategi malam hari dinilai “effective” untuk mengubah cara olahraga menyikapi masa lalu yang sempat ternoda kasus-kasus doping. Mereka berharap pendekatan ini membantu mendorong olahraga bergerak menjauh dari bayang-bayang ketidakbersihan di masa lalu.
Namun, ada pula penolakan. Jonathan Vaughters, yang kini menjadi bos EF-Education Easypost dan dulu pernah menjadi rekan setim Lance Armstrong yang pernah terlibat skandal besar, menyatakan dukungan terhadap tes malam. Ia menulis di X: “Two am testing is one of the very effective ways to prevent peptide (EPO, HGH) and testosterone micro dosing. If [the] UCI had tested us in 2001 at 2am? We’d all have been suspended and saved the sport 25 years of drama.”
Vaughters menekankan bahwa pengujian dini hari dapat menjadi cara yang efektif untuk mencegah praktik “micro dosing” berbasis peptida, termasuk yang disebut EPO, HGH, serta testosteron dalam dosis sangat kecil. Bagi Vaughters, langkah semacam itu berpotensi menekan drama panjang dalam sejarah olahraga.
Sementara itu, pihak lain termasuk serikat pesepeda, CPA, menyatakan pengujian dengan membangunkan pembalap di tengah malam berpotensi berbahaya dan tidak perlu. Mereka memandang pendekatan tersebut bukan hanya soal kepatuhan, tetapi juga mempertimbangkan risiko terhadap keselamatan dan pemulihan atlet.
Di sisi lain, badan pengatur olahraga, UCI, membenarkan tes malam. Dalam pernyataannya, UCI menyebut “fight against doping is an absolute priority” atau perang melawan doping sebagai prioritas mutlak.
UCI juga menyampaikan, “The UCI of course acknowledges that night-time testing can disrupt riders’ rest and recovery, and wishes to reiterate that carrying out such controls outside normal hours remains an exceptional measure, reserved for limited and justified circumstances.” Lebih lanjut, UCI menegaskan, “While fully aware of how onerous such a measure is for riders, the UCI nevertheless underscores that these controls serve an overriding interest: the fight against doping.”
UCI menyatakan kendali di luar jam normal tetap merupakan langkah luar biasa yang hanya digunakan pada kondisi terbatas dan dapat dibenarkan. Dengan kata lain, alasan utamanya adalah menjaga efektivitas program anti-doping.
Seberapa jarang tes malam dilakukan?
Untuk dilakukan di tengah malam, International Testing Agency (ITA) sebagai pelaksana pengujian atas nama UCI harus menempuh prosedur khusus. Banyak pihak di paddock menggambarkan tes malam sebagai sesuatu yang tidak lazim.
Di Prancis, pengujian pada rentang 11 malam hingga 6 pagi dibatasi. ITA harus meminta izin terlebih dahulu, dalam kasus ini dari kantor kejaksaan publik di Paris.
BBC Sport menyebut alasan spesifik tes malam tersebut tidak diungkap. Termasuk tidak dijelaskan detail bagaimana tes dijalankan, lokasi pengujiannya, maupun kapan hasil pengujian akan dirilis.
Pada Senin, yang merupakan hari istirahat kedua Tour, semua 166 pembalap yang masih bertahan juga dites. Tes pada hari tersebut dilakukan antara pukul 8 malam hingga 11 malam, tetap di luar jam siang yang umum.
Secara tipikal, ITA melakukan sekitar 600 tes dalam Grand Tour berdurasi tiga pekan. Prosesnya sering berlangsung setelah sebuah tahap, dan biasanya melibatkan pengambilan sampel urine yang dipantau delegasi melalui jendela.
Apa yang dicari lewat tes malam?
Tes malam dinilai membantu memerangi skema micro-dosing. Polanya adalah mengonsumsi dosis yang sangat kecil zat yang meningkatkan performa, lalu zat tersebut keluar dari sistem dalam hitungan jam sehingga hanya menyisakan “short window” atau jeda waktu singkat untuk mendeteksi jejaknya.
Jika seorang pembalap mengetahui adanya rentang beberapa jam yang tidak biasa untuk pengujian, sebagian kalangan percaya itu bisa menjadi peluang untuk melakukan micro-dosing. Karena itu, pengujian malam dianggap berpotensi mempersempit celah tersebut.
Berita Terkait
Vaughters menjelaskan mekanismenya melalui pengamatannya sendiri. Ia berkata: “If you introduce a low enough dose of a peptide hormone, the clearance time can be four hours. If you take it at 11pm, it’ll be out of the system at 3am, so it makes a difference.”
Vaughters juga menambahkan bahwa teknologi pengujian berkembang cepat. Namun, ketika pembalap dan tim terus mendorong batas performa, risiko doping tetap menjadi faktor yang selalu ada.
Pada tes malam, Vaughters berpendapat: “It sucks if it happened all the time – but it’s happening once or twice a year. Listen, it’s a great deterrent. One night of lost sleep; lose a little sleep – gain a lot of credibility.”
Ia menempatkan efek jera sebagai inti dari strategi itu: kehilangan tidur satu malam dinilai lebih kecil daripada potensi hilangnya kepercayaan publik jika doping lolos.
Secara umum, masa ketika pembalap meningkatkan nilai darah lewat penggunaan EPO lalu beralih ke transfusi darah diyakini sudah banyak tidak lagi dominan. Dalam konteks itu, latar kamar hotel di malam hari sering disebut tabu dalam olahraga karena terkait praktik semacam tersebut.
Dari sisi sistem deteksi, Wada menggunakan athlete biological passport (ABP). Sejak dekade 1990-an hingga era 2000-an, termasuk kasus Lance Armstrong yang pernah menipu dunia seolah bersih saat mendominasi olahraga, ABP dipandang kini cukup canggih untuk menangkap ketidaksesuaian yang tercatat.
Meski demikian, tetap ada pembalap yang terkena sanksi. BBC Sport mencatat ada pesepeda yang dilarang dalam beberapa waktu terakhir, namun tidak ada nama yang berprofil tinggi. Di level bawah, lebih sering terjadi penangkapan terhadap pembalap yang tergoda kembali pada EPO serta human growth hormones.
ITA juga menyampaikan penjelasan kepada BBC Sport. Mereka menyebut: “Due consideration has been given to minimise as much as possible the impact testing activities have on riders.” Namun ITA menegaskan tanggung jawabnya: “However, the ITA, on behalf of the UCI, has the responsibility to ensure the effectiveness of the cycling anti-doping program and the integrity of cycling races.”
ITA menambahkan bahwa “As such, effective testing must, in limited and justified circumstances, be capable to occur outside standard daytime hours.” Dengan kalimat itu, ITA menegaskan pengujian efektif harus mampu dilakukan di luar jam standar ketika kondisinya dibenarkan.
Wacana lain dan kritik dari serikat pesepeda
CPA tidak sejalan dengan arah sistem tes yang ada. Adam Hansen, presiden CPA sekaligus mantan pembalap, menyampaikan kekecekaannya lewat X.
Ia menulis: “Our position is clear that the CPA is extremely disappointed with the current direction of anti-doping in professional cycling.” Hansen kemudian menyoroti beban finansial yang ditanggung pembalap. Ia menulis: “Did you know that cyclists are the only athletes in the world who pay out of their own pockets to fund extra doping controls, long-term sample storage and for data analysis?”
Hansen mengatakan beban itu merupakan konsekuensi langsung dari sejarah olahraga. Ia menambahkan bahwa meski bersepeda modern kini jauh lebih bersih, pembalap yang masih aktif membayar kesalahan generasi sebelumnya, lalu mempertanyakan: “Is that fair?”
Ia juga menyinggung narasi dari SafeR initiative, ketika sebagian anggota menyebut kecelakaan terjadi karena pembalap kehilangan fokus atau menunduk ke layar komputer sepeda. Namun Hansen meminta agar orang mempertimbangkan “human cost” atau biaya manusia dari sistem doping saat ini.
Ia menulis ajakan berpikir praktis: “think about how you perform at your normal day job after only four hours of sleep, or after being woken up right in the middle of your REM [sleep] cycle at 2am for a blood test.” Bagi Hansen, biaya itu terlalu besar dibandingkan manfaat pengujian yang dilakukan dengan skema yang dianggap mengganggu.
Hansen menegaskan seruan “quality over quantity”. Ia menyatakan para pembalap membiayai ITA secara langsung, dan menurutnya menambah jumlah tes bukanlah solusi. Ia menulis: “The riders are directly funding the ITA, and we have repeatedly argued that increasing more tests is not the solution.”
Menurut Hansen, dana itu seharusnya diarahkan untuk peningkatan perangkat laboratorium, supaya mampu mendeteksi jejak zat terlarang dalam kadar paling kecil. Ia menulis: “Instead, those funds should be invested in upgrading testing laboratory equipment capable of detecting the absolute smallest traces of banned substances.”
Ia melanjutkan bahwa pendekatan itu akan menghasilkan lebih sedikit tes namun lebih presisi, menangkap pelaku nyata dan sekaligus mengurangi “constant harassment of clean riders.”
Di tengah perdebatan tersebut, ITA juga menyiapkan studi kelayakan terkait pendekatan lain. Mereka menjalankan feasiblity study untuk memanfaatkan data tenaga (power data) pembalap sebagai bagian dari strategi anti-doping.
Kelompok Swiss itu bekerja sama dengan lima tim untuk mengumpulkan data, dengan tujuan mendukung metode tradisional yang sudah digunakan. Meski begitu, masih ada skeptisisme di kalangan bersepeda mengenai apakah pendekatan ini benar-benar memberi manfaat tambahan, terutama karena dalam lebih dari lima tahun terakhir tidak ada kontroversi doping besar.
Meski begitu, Hansen dan pihak-pihak lain memandang isu doping tidak pernah sepenuhnya hilang. Bahkan ketika pembalap level bawah masih sering ditemukan bersalah, kecepatan rata-rata di balapan besar disebut terus merangkak naik. Karena itu, olahraga yang pernah terpukul skandal masa lalu tetap berusaha membangun dan menjaga citra yang lebih bersih.







