jurnalistik.co.id – Reruntuhan pesawat Pan American Airways jenis Clipper Endeavor akhirnya ditemukan, 74 tahun setelah kapal terbang itu jatuh ke Samudra Atlantik. Penemuan ini kembali mengingatkan bagaimana satu kecelakaan besar dapat mendorong perubahan keselamatan penerbangan yang wajib diterapkan hingga hari ini.
Pada misi penelusuran, tim menggunakan drone yang dilengkapi sonar untuk mencari di sekitar perairan lepas pantai Puerto Riko. Pesawat ditemukan sekitar 2.000 kaki (610 meter) di bawah permukaan laut.
Clipper Endeavor dilaporkan jatuh pada 11 April 1952, tak lama setelah lepas landas. BBC melaporkan pesawat mengalami kegagalan pada beberapa mesin sebelum kemudian terjun ke air.
Meskipun seluruh penumpang dan awak selamat dari benturan awal, situasi di saat-saat kritis menjadi faktor yang menentukan. Pesawat diketahui tenggelam cepat, sementara banyak penumpang kesulitan menemukan rompi dan rakit penolong.
Dari total 69 penumpang dan awak yang berada di dalam pesawat, hanya 17 orang yang selamat. Dengan demikian, 52 orang meninggal dunia dalam kecelakaan tersebut.
Perubahan prosedur keselamatan penerbangan
Kecelakaan ini kemudian mendorong reformasi besar dalam keselamatan penerbangan, termasuk penerapan pengarahan keselamatan yang wajib sebelum setiap penerbangan komersial. Intinya, kru kabin harus menjelaskan di mana letak pintu keluar pesawat serta posisi rompi pelampung.
Di samping itu, awak pesawat juga wajib menerangkan cara menggunakan rompi, termasuk bagaimana mengembangannya. Reformasi semacam ini menjadi standar yang kini melekat dalam briefing sebelum pesawat lepas landas.
Menurut pakar keselamatan penerbangan John Cox, kekacauan yang terjadi seusai pendaratan air menjadi “catalyst” bagi aturan modern. Aturan tersebut menuntut perlengkapan pelampung yang lebih baik di pesawat dan briefing awal mengenai bagaimana memakainya, seperti yang disampaikan kepada AP.
Berita Terkait
Josh Gates, pembawa acara Expedition Unknown, juga menyinggung dampak kecelakaan itu. Ia mengatakan, “Every time you step onboard an airplane today, you are safer because of what happened to Clipper Endeavor and her passengers three-quarters of a century ago,”
“We are all stunned and elated by this discovery, yet also humbled to remember what happened in that place so long ago,” ujar Russ Matthews, presiden Air/Sea Heritage Foundation. Dalam kesempatan lain, Matthews menyatakan ia “astonished that such an important story had largely faded from public memory.”
Russ Matthews memimpin pencarian reruntuhan bersama Air/Sea Heritage Foundation, dengan kolaborasi Discovery Channel melalui program Expedition Unknown serta beberapa organisasi lain. Keterlibatannya bermula pada 2019 setelah ia membaca cerita tentang sebuah luggage tag dari penerbangan tersebut yang terbawa hingga Florida.
Upaya penelusuran kemudian diperkaya dengan penelusuran arsip. Matthews menyusun jejak momen terakhir pesawat menggunakan laporan dari Civil Aeronautics Board, yang menjadi pendahulu US Federal Aviation Administration (FAA). Tim juga menelusuri dokumen dari sidang publik di Puerto Riko, termasuk peta yang digambar oleh pilot Angkatan Udara yang menyaksikan kecelakaan.
Dengan memadukan catatan historis dan data cuaca saat peristiwa berlangsung, peneliti mempersempit area pencarian menjadi hamparan dasar laut seluas 10 mil laut persegi. Rencana untuk menemukan reruntuhan pada 2024 sempat dihentikan karena kondisi cuaca yang buruk, namun Matthews menegaskan timnya bertekad kembali sebelum peringatan 75 tahun kecelakaan.
Terobosan datang saat drone menemukan reruntuhan pada lintasan pertamanya di area pencarian pada 2 Juni. Reruntuhan tersebut diketahui telah terbelah menjadi dua bagian. Survei lanjutan berbasis foto kemudian mengonfirmasi bahwa temuan itu memang Clipper Endeavor.
Gambar hasil survei memperlihatkan bahwa logo Pan Am dan nama pesawat masih terlihat pada badan pesawat. Gates menuturkan pengalamannya saat penemuan ditampilkan di lokasi kapal permukaan; ia menyebut, “To have a front-row seat to an expedition like this as it’s unfolding is tremendous, and so I feel really lucky that we were able to be a part of it,”
Di luar nilai historis, penemuan ini juga membawa harapan baru bagi keluarga penumpang pesawat lain yang diduga jatuh di laut. Salah satu yang disebut adalah Malaysia Airlines Flight 370, yang menghilang 12 tahun lalu dengan 269 orang di dalamnya dan hingga kini belum ditemukan meski pencarian besar-besaran di Samudra Hindia telah dilakukan.
Discovery Clipper Endeavor akan ditampilkan dalam episode khusus Expedition Unknown pada musim gugur tahun ini. Hingga saat artikel ini diterbitkan, kabar penemuan reruntuhan tersebut menjadi penanda bahwa kisah kecelakaan yang lama hilang dapat terus membawa dampak pada standar keselamatan penerbangan.








