Internasional

AS dan Iran mulai pembicaraan untuk kesepakatan damai awal di Swiss

×

AS dan Iran mulai pembicaraan untuk kesepakatan damai awal di Swiss

Sebarkan artikel ini
US and Iran begin talks on initial peace deal in Switzerland
Ilustrasi: US and Iran begin talks on initial peace deal in Switzerland

jurnalistik.co.id – Amerika Serikat dan Iran memulai pembicaraan tatap muka untuk membahas kesepakatan damai awal di Swiss, setelah para pejabat kedua negara menandatangani kesepakatan awal guna mengakhiri perang pekan lalu. Pertemuan ini berlangsung setelah konflik bersenjata berlanjut di sejumlah wilayah, sementara kedua pihak mencoba mengubah dinamika menjadi jalan menuju perjanjian yang lebih final.

Kesepakatan awal itu memuat komitmen untuk mencapai kesepakatan akhir dalam waktu 60 hari. Di saat yang sama, perjanjian awal tersebut juga menetapkan penghentian permusuhan di “all fronts”, termasuk di Lebanon, serta membuka kembali Selat Hormuz. Namun, ketika pembicaraan langsung dimulai, situasi di lapangan di Lebanon masih dibayangi pertempuran antara Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Iran.

Adapun Iran mengumumkan pada Sabtu bahwa pihaknya telah menutup Selat Hormuz, meski data pelacakan menunjukkan kapal-kapal tetap dapat melintas melalui rute vital tersebut. Klaim penutupan ini muncul di tengah upaya kedua negara meredakan eskalasi yang dapat menggerus ruang negosiasi.

Wakil Presiden AS JD Vance menyampaikan bahwa pemerintahannya berharap ada kemajuan terkait “the nuclear issue” dan Lebanon. Pernyataan itu disampaikan saat delegasi AS hadir bersama delegasi Iran di resor Bürgenstock, kawasan pegunungan Swiss, untuk membahas langkah berikutnya setelah kesepakatan awal ditandatangani.

Pihak Teheran menyatakan sikapnya secara lebih tegas. Iran menegaskan akan “demanding that the other side fulfil its commitments”, yang berarti menuntut agar pihak lain memenuhi komitmen yang telah disepakati. Dalam suasana diplomasi langsung seperti ini, frasa tuntutan tersebut menjadi isyarat bahwa koordinasi implementasi kesepakatan awal akan menjadi bagian penting dari pembahasan.

Di sisi AS, JD Vance bergabung dengan Jared Kushner, putra-menantu Presiden Donald Trump, serta utusan khusus Steve Witkoff. Sementara itu, bagi delegasi Iran, mereka tiba di Swiss pada Sabtu malam dengan melibatkan Ketua parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.

Pembicaraan ini tidak berdiri sendiri, karena Pakistan juga hadir dalam peran mediator. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif serta kepala angkatan bersenjata negara itu, Field Marshal Asim Munir, ikut bergabung dengan para delegasi. Pakistan disebut telah bertindak sebagai perantara sepanjang perang, sekaligus menjadi tuan rumah putaran negosiasi sebelumnya antara AS dan Iran.

Kesepakatan awal ditandatangani oleh Presiden AS dan Presiden Iran pada awal pekan ini, dengan tujuan mengakhiri perang secara segera. Dokumen tersebut juga memuat rencana sebesar 300 miliar dolar (setara £224 miliar) untuk program “reconstruction” Iran, serta ketentuan bahwa AS akan menghentikan “all types of sanctions” terhadap Iran.

Meski demikian, isu program nuklir tetap menjadi pokok yang belum diselesaikan. Dalam kesepakatan awal, penanganan isu nuklir disebut masih akan dinegosiasikan selama periode 60 hari yang dapat diperpanjang. Dengan kata lain, kesepakatan awal lebih menempatkan kerangka dan langkah awal, sementara rincian paling sensitif masih menjadi agenda utama tahap berikutnya.

Di tengah perumusan agenda diplomatik, bentrokan yang mematikan terus terjadi antara Israel dan Hezbollah, bahkan setelah kesepakatan awal dan gencatan senjata yang disepakati pada Jumat. Israel menyatakan bahwa konflik dengan Hezbollah dipisahkan dari perang terhadap Iran yang dilakukan bersama AS pada 28 Februari, sehingga Israel berupaya membingkai eskalasi yang terjadi di Lebanon sebagai sesuatu yang tidak sepenuhnya identik dengan perang utama terhadap Iran.

Lebanon kemudian terseret ke dalam perang tersebut tidak lama setelah peristiwa di Israel. Hezbollah meluncurkan roket ke Israel sebagai respons atas serangan yang membunuh pemimpin tertinggi Iran. Setelah itu, Israel merespons dengan kampanye pemboman di seluruh Lebanon dan menempati sekitar 5% wilayah negara itu di bagian selatan, dengan tujuan mendorong kembali para pejuang Hezbollah dari perbatasan utara.

Dalam narasi Israel, pendudukan tersebut dilakukan dengan target penarikan yang tidak akan terjadi. Israel menyatakan tidak memiliki niat untuk mundur. Pernyataan itu menjadi latar yang memperumit pembahasan “all fronts” dalam kesepakatan awal, karena penghentian permusuhan di Lebanon akan menuntut pembuktian di lapangan, bukan hanya klausul dalam dokumen diplomatik.

Dengan berbagai elemen kesepakatan awal—mulai dari komitmen 60 hari menuju kesepakatan final, pembukaan kembali Selat Hormuz, hingga penghentian permusuhan di sejumlah front—pembicaraan langsung di Swiss diharapkan menjadi titik balik. Namun, keberhasilan langkah berikutnya akan sangat bergantung pada bagaimana masing-masing pihak menilai pemenuhan komitmen, terutama ketika isu nuklir masih menunggu negosiasi tahap berikutnya dan bentrokan di Lebanon belum benar-benar surut.