jurnalistik.co.id – BOALEMO, Kominfotik – Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Boalemo resmi mulai beroperasi dan menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) pada ajaran perdana. Pada kegiatan awal ini, sekolah menampung total 299 siswa untuk jenjang SD, SMP, dan SMA.
Pada perencanaan awal, jumlah siswa di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Boalemo mengikuti pagu masing-masing jenjang sebanyak 90 orang. Namun, untuk kondisi saat MPLS berlangsung, SD baru terisi 76 siswa, SMP 85 siswa, dan SMA 86 siswa. Di luar data pengisian tersebut, ada tambahan siswa lama dari Sekolah Rakyat rintisan sebanyak 52 orang.
Dalam peninjauan pelaksanaan MPLS yang digelar pada Rabu (5/8/2026), Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail berinteraksi langsung dengan para siswa. Peninjauan ini menjadi penanda bahwa sekolah terintegrasi tersebut telah masuk pada tahap operasional pada tahun ajaran berjalan.
Gusnar Ismail menyampaikan bahwa program ini merupakan prioritas. Ia menegaskan, “Sekolah ini adalah program prioritas bapak Presiden Prabowo Subianto. Alhamdulillah sekarang sudah jadi dan melaksanakan MPLS. Sekolah Rakyat ini tiga jenjang, SD sampai SMA dan bisa menampung 1.066 siswa,” ungkap Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail saat meninjau pelaksanaan MPLS di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Boalemo, Rabu (5/8/2026).
Selain menyebut kapasitas jangka panjang sekolah, Gusnar juga menjelaskan sasaran utama penerima layanan pendidikan di sekolah tersebut. Ia menyatakan bahwa siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Boalemo merupakan anak-anak dari keluarga miskin yang masuk dalam desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
Menurut Gusnar, sekolah ini disiapkan dengan fasilitas belajar yang modern serta diarahkan pada kualitas pendidikan. Ia juga menyoroti dukungan lingkungan belajar berupa tempat tinggal atau asrama yang dinilai memadai, sehingga aktivitas belajar dapat lebih terfokus bagi para siswa.
Berita Terkait
Gusnar menekankan arah pembinaan yang ingin dibangun melalui pendidikan di sekolah terintegrasi. Ia mengatakan, “Jadi fokusnya hanya belajar dan belajar. Ini yang diharapkan oleh bapak presiden, kita mempersiapkan dan membentuk generasi unggulan bangsa yang cerdas, mandiri, berkarakter, dan berakhlak mulia,” pungkas Gusnar.
Dengan dimulainya MPLS, sekolah memberi ruang bagi siswa untuk beradaptasi pada lingkungan pendidikan baru sekaligus memahami aturan dan budaya belajar yang akan dijalani ke depan. Tahap awal ini juga menjadi momen penting dalam penataan layanan sekolah, mulai dari pengenalan kegiatan hingga pembiasaan sistem pembelajaran sejak hari-hari pertama.
Keberadaan Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Boalemo yang menjangkau tiga jenjang pendidikan—SD hingga SMA—diharapkan dapat memudahkan kesinambungan pembinaan bagi peserta didik. Pada tahun ajaran perdana, penerimaan 299 siswa menjadi titik awal implementasi, sambil tetap merujuk pada pagu 90 siswa untuk masing-masing jenjang dan adanya tambahan 52 siswa dari sekolah rintisan.
Pada pelaksanaan MPLS ini, peninjauan Gubernur Gorontalo menegaskan komitmen program dan pengawasan terhadap kesiapan operasional. Secara keseluruhan, sekolah terintegrasi tersebut diarahkan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih terstruktur, dengan dukungan fasilitas modern dan tempat tinggal/asrama yang memadai, agar proses pembentukan karakter serta kualitas akademik dapat berjalan sejak awal.
Pada hari pelaksanaan MPLS, peninjauan Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail ikut menegaskan sekolah terintegrasi tersebut berada pada fase penerapan di tahun ajaran yang sedang berjalan. Interaksi langsung dengan siswa juga memperlihatkan kesiapan kegiatan pembelajaran sejak awal masuk sekolah.
Program Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Boalemo disusun untuk menjangkau penerima layanan pendidikan dari kalangan keluarga kurang mampu. Gusnar menyebut sasaran utamanya berasal dari kelompok masyarakat pada desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), sekaligus memperkuat tujuan membentuk layanan pendidikan tiga jenjang.
Dalam MPLS, sekolah memberi kesempatan kepada peserta didik untuk beradaptasi dengan lingkungan belajar yang lebih terstruktur, termasuk memahami tata tertib dan budaya akademik yang akan dijalani. Sejalan dengan itu, fasilitas belajar yang disebut modern serta ketersediaan tempat tinggal atau asrama yang dinilai memadai diharapkan membuat proses belajar lebih fokus dan konsisten pada arah pembinaan.












