Internasional

Iran-Oman sepakat jalur pengiriman melalui Selat Hormuz, Baqaei: kesepakatan di tahap akhir

×

Iran-Oman sepakat jalur pengiriman melalui Selat Hormuz, Baqaei: kesepakatan di tahap akhir

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Iran says it has agreed Strait of Hormuz shipping route with Oman

jurnalistik.co.id – Iran mengklaim telah mencapai kesepakatan dengan Oman terkait rute pengiriman yang melintasi Selat Hormuz. Keterangan ini disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, namun rincian teknisnya tidak diumumkan kepada publik.

Menurut Baqaei, pembicaraan itu berada pada “tahap akhir” dengan pernyataan bahwa kesepakatan tersebut “in the final stages”. Ia tidak menjelaskan bentuk rute secara lebih spesifik, termasuk detail mengenai skema pelayaran yang dimaksud.

Meski begitu, Baqaei menegaskan bahwa perjanjian dengan Oman tidak otomatis menjamin keselamatan navigasi di selat tersebut. Penilaian itu ia kaitkan dengan kondisi keamanan yang, menurut pandangan Iran, masih dipengaruhi oleh blokade pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat.

Hingga saat ini, pihak Amerika Serikat belum memberikan komentar resmi mengenai usulan atau proposal yang dibahas terkait pembukaan rute tersebut. Ketegasan soal belum adanya tanggapan ini turut memperlihatkan bahwa langkah yang disebut Iran belum mendapatkan konfirmasi terbuka dari Washington.

Situasi di Selat Hormuz menjadi pusat perhatian setelah serangan yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari. Sejak peristiwa tersebut, Teheran “sebagian besar” memblokir selat yang biasanya menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak serta gas alam cair dunia.

Perubahan pada jalur tersebut berdampak pada dinamika pasar, yang terlihat dari pergerakan harga minyak global yang berlangsung fluktuatif. Dalam konteks yang sama, sinyal politik dari Amerika Serikat juga ikut menguat, terutama setelah peringatan Presiden Donald Trump pada hari Selasa.

Trump mengatakan bahwa Iran akan “hit very hard” jika Selat Hormuz tidak dibuka “very soon”. Pernyataan tersebut muncul setelah pejabat senior AS menyebut pembicaraan telah mengalami kemajuan sehingga pengiriman berpotensi bisa dilanjutkan pada akhir pekan ini, meski tanpa kepastian jadwal yang benar-benar final.

Iran, menurut pemberitaan yang sama, menyatakan tidak sedang bernegosiasi dengan Amerika Serikat dan tidak memiliki rencana untuk melakukannya. Dengan demikian, pembahasan mengenai pembukaan kembali selat justru terus diposisikan sebagai isu utama dalam diskusi antara kedua negara serta melibatkan peran mediator.

Dalam keterangannya, Baqaei menyebut ada kesepakatan dengan Oman mengenai “geographical coordinates of the route”. Ia juga menekankan bahwa faktor-faktor yang membuat Selat Hormuz tetap tidak aman, menurut penilaian Iran, masih berasal dari sisi Amerika Serikat.

Berdasarkan kutipan yang disampaikan melalui kantor berita resmi Iran, IRNA, Baqaei menyebut “particular naval blockade and other aggressive and threatening actions against Iran and its interests” sebagai elemen yang dinilai tetap berpengaruh terhadap tingkat keamanan di kawasan tersebut. Ia mengaitkannya dengan blokade angkatan laut AS atas pelabuhan Iran di kawasan.

Selain itu, disebut juga adanya blokade lain di Laut Merah yang menargetkan pelabuhan Arab Saudi. Blokade tersebut, menurut narasi yang disampaikan, dilakukan oleh kelompok Houthis yang didukung Iran di Yaman sejak 20 Juli.

Dengan klaim adanya kesepakatan rute bersama Oman, Iran menempatkan kemajuan tersebut sebagai bagian dari proses yang sedang bergerak. Namun, penekanan Baqaei soal belum adanya jaminan keamanan memperlihatkan bahwa, bagi Teheran, pembukaan rute hanyalah satu sisi dari persoalan, sementara sisi lainnya tetap berpusat pada hambatan dan tindakan yang berasal dari blokade.

Di tengah belum adanya komentar resmi dari AS, perkembangan ini tetap menjadi sinyal politik yang dapat memengaruhi perhitungan berbagai pihak terkait jalur strategis tersebut. Bagi Iran, koordinat rute telah disepakati bersama Oman, tetapi aspek keamanan—terutama terkait blokade—masih menjadi penentu utama apakah navigasi bisa berlangsung dengan aman.