Internasional

Ancamannya bagi kapal tanker minyak di Timur Tengah jadi yang terburuk sejak perang Iran dimulai, kata analis

×

Ancamannya bagi kapal tanker minyak di Timur Tengah jadi yang terburuk sejak perang Iran dimulai, kata analis

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Threat to oil tankers in Middle East worst since start of Iran war, analysts say

jurnalistik.co.id – Ancaman terhadap kapal tanker minyak di Timur Tengah kini berada pada titik terburuk sejak perang antara Iran dan sekutunya mulai berlangsung, demikian penilaian para analis. Mereka menilai situasi makin menekan rute pengiriman, setelah rangkaian serangan menargetkan jalur alternatif yang selama ini dipakai untuk menghindari hambatan di sekitar Selat Hormuz.

Dalam beberapa waktu terakhir, perhatian pasar bergeser karena serangan tidak hanya terjadi pada satu titik. Para pelaku industri menilai, perubahan rute membuat manuver logistik semakin sulit, sementara risiko keamanan ikut meluas dan berdampak ke kelancaran arus perdagangan minyak.

Matthew Wright, analis di perusahaan pelacakan kapal Kpler, menyebut ancaman tersebut menjadi yang paling berat dalam periode krisis ini. Ia mengatakan, “In terms of threat to the trade of crude, we’re at the worst period that we’ve been in since this since this crisis began,” dan menilai tekanan yang muncul sekarang memiliki lapisan-lapisan baru.

Menurut data Kpler, jumlah kapal yang melewati Selat Hormuz pada hari Minggu hanya delapan unit dan pada hari Sabtu sebelas unit. Angka itu kontras dengan kondisi sebelum konflik, ketika kapal melintas lebih dari 100 kali per hari.

Sebelum perang dimulai, sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia melewati selat tersebut. Namun, ketika konflik berjalan, banyak kapal beralih ke skema penghindaran, termasuk mematikan sistem identifikasi otomatis agar tidak terdeteksi.

Perubahan tersebut juga terlihat pada pola lalu lintas setelah kesepakatan sementara dengan AS yang dicapai pada awal Juni. Wright menyebut jumlah kapal sempat meningkat kembali, tetapi serangan yang kembali terjadi antara kedua negara sekitar sebulan kemudian justru menekan pergerakan secara signifikan.

Selain membuat pelayaran lebih berisiko, praktik “going dark” turut mengubah cara pemantauan terhadap kapal. Dalam konteks ini, “going dark” berarti kapal mematikan transponder saat melintasi Selat Hormuz, sehingga menyulitkan pelacakan.

Tekanan berpindah ke jalur alternatif di Laut Merah

Selama sebagian besar periode perang, sebagian kapal tanker yang membawa minyak dari Arab Saudi memilih melewati jalur lain, yakni rute alternatif di Laut Merah. Rute tersebut berada di antara Arab Saudi dan Afrika bagian barat.

Namun, rangkaian serangan terbaru oleh kelompok Houthi di Yaman membuat risiko di jalur alternatif ikut naik. Tim Wilkins, managing director Intertanko—organisasi perdagangan yang mewakili pemilik kapal tanker—menilai kondisi keamanan bukan hanya memburuk, tetapi juga makin rumit dan meluas.

Wilkins mengatakan industri menghadapi situasi, “facing a broadening, deteriorating, and increasingly complex security situation”. Ia menambahkan bahwa wilayah berisiko kini bergerak sampai ke perairan Arab Saudi dan merambah bagian-bagian dari Laut Merah.

Dampak lanjutannya tidak berhenti pada keselamatan kapal, melainkan juga memengaruhi pasar serta prinsip kebebasan bernavigasi. Wilkins menekankan, “So that’s having another impact on the market, on freedom of navigation as well.”

Dalam pembaruan terbaru, Houthi yang didukung Iran mengumumkan apa yang mereka sebut sebagai blokade pada pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi di Laut Merah pada 20 Juli. Sementara itu, badan UK Maritime Trade Operations juga melaporkan sejumlah serangan terhadap kapal dalam sepekan terakhir.

Di area Selat Bab el-Mandeb, Kpler mencatat jumlah kapal pengangkut komoditas yang lewat pada Sabtu mencapai 28. Dari jumlah itu, enam kapal dilaporkan mematikan transponder, yang menunjukkan upaya menghindari deteksi.

Arus minyak ekspor dan waktu pemulihan

Para analis menyatakan tidak semua kapal otomatis berhenti melintas, karena serangan Houthi terutama menargetkan pengiriman yang terkait Arab Saudi. Meski begitu, total pergerakan kapal disebut hanya berada pada kisaran 50% dari level sebelum serangan.

Titik yang lebih menekan terlihat pada aktivitas bongkar muat minyak mentah untuk ekspor ke Asia. Kpler menyebut jumlah kapal yang sedang memuat minyak mentah untuk tujuan tersebut turun hingga sekitar empat per hari, yang menjadi level terendah sejak awal perang.

Spokesperson Hapag-Lloyd, perusahaan pelayaran global, menyatakan beberapa kapal masih melewati Laut Merah. Namun perusahaan menegaskan sikap pemantauan dan penyesuaian jaringan, dengan pernyataan: “monitor developments closely and will adjust the network if circumstances change”.

Spokesperson itu juga menggarisbawahi bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz akan memberi kecepatan bagi sebagian kapal untuk pergi. Akan tetapi, pemulihan arus kargo normal membutuhkan waktu lebih panjang. Ia mengatakan, “Services have been suspended and ships redeployed elsewhere, so a return to normal flows would most likely take three to four months.”

Upaya diplomasi dan reaksi pasar

Di sisi diplomasi, Iran menyatakan pembicaraan dengan Oman berlangsung, tetapi menegaskan belum ada kesepakatan yang segera membuka selat untuk lalu lintas normal. Menurut pernyataan pihak kementerian luar negeri, Esmaeil Baqaei mengatakan setiap kesepakatan tidak akan menghapus pembatasan yang ada selama “US aggression” terus berlanjut. Ia menyatakan, any agreement would not lift the current restrictions while US “aggression” continued.

Wright dari Kpler menilai, meski percakapan dengan Oman berpotensi menghasilkan langkah konstruktif, keterlibatan AS menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Ia juga menekankan kekhawatiran bahwa negosiasi dapat menjadi “false start” bila tidak ada konsesi dari minimal salah satu pihak, dengan catatan bahwa, “any deal would need the involvement of the US and the fear is that current negotiations could be a ‘false start’ without concessions on at least one side.”

Walau demikian, pasar menunjukkan reaksi yang tidak sepenuhnya sejalan dengan harapan pemulihan cepat. Harga minyak justru turun tajam setelah Donald Trump menyatakan ia akan membatalkan serangan yang direncanakan terhadap Iran, dengan alasan kemungkinan adanya pembicaraan ke depan.

Brent crude tercatat turun 4,4% menjadi $84,05 per barel setelah sempat anjlok hingga 7,3% ke level $81,55 lebih awal pada hari yang sama. Pergerakan tersebut menggambarkan bahwa pelaku pasar masih menilai risiko pengiriman dan ketidakpastian keamanan sebagai faktor dominan.

Peter Sand, chief analyst di Xeneta—perusahaan pelacakan dan analisis industri pelayaran—mengatakan konflik membuat industri seperti kembali ke titik awal. Ia menyebut, “the fighting had taken the shipping industry back to to square one” dan menilai kondisi saat ini berada dalam keadaan yang buruk. Sand mengatakan, “things were in ‘a terrible state, regardless of which shipping type you’re you’re looking at’.”

Menurut Sand, alternatif untuk mengirim kargo, baik berupa hidrokarbon maupun pengiriman kontainer, tidak benar-benar menawarkan solusi yang nyaman. Ia menambahkan, “The alternatives for getting cargo, whether that’s hydrocarbons or container shipping, are really not great… it is really still troubling times with no clarity and no change of fortunes within sight.”