Olahraga

Bepe dan Cristian Gonzales Punya Optimisme Timnas Indonesia Akhiri Kutukan Runner-Up Piala AFF

×

Bepe dan Cristian Gonzales Punya Optimisme Timnas Indonesia Akhiri Kutukan Runner-Up Piala AFF

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Optimisme Bepe dan Gonzales Timnas Indonesia Akhiri Kutukan Runner Up Piala AFF

jurnalistik.co.id – Timnas Indonesia memulai perjalanan di Piala AFF 2026 pada Senin depan dengan menghadapi Kamboja. Laga itu akan digelar di Stadion Pakansari, Cibinong, setelah kompetisi resmi bergulir sejak 24 Juli lalu.

Pada pembukaan turnamen, Kamboja lebih dulu berduel dengan Singapura. Indonesia baru menjalani pertandingan pertamanya pada 27 Juli, dan momentum itu menjadi pembuka harapan baru bagi skuat Garuda di edisi kali ini.

Dalam rangka Trophy Tour Piala AFF 2026, dua legenda Timnas Indonesia, Bambang Pamungkas dan Cristian Gonzales, hadir dan menyampaikan optimisme terhadap kiprah tim asuhan John Herdman. Mereka menaruh keyakinan agar Indonesia bisa menuntaskan “kutukan runner-up” pada Piala AFF 2026 sekaligus merayakan 30 tahun bergulirnya turnamen dua tahunan tersebut.

Sejauh ini, Indonesia telah enam kali menembus partai puncak Piala AFF, yakni pada 2000, 2002, 2004, 2010, 2016, dan 2020. Namun, seluruh perjalanan menuju final berakhir dengan kekecewaan karena selalu harus menerima hasil sebagai runner-up.

Bepe, sapaan Bambang Pamungkas, menilai peluang juara pada tahun ini cukup besar. Menurutnya, materi pemain yang dimiliki John Herdman memberi harapan, terutama karena ada banyak pemain muda yang dinilai potensial.

Ia menyampaikan keyakinan itu lewat pernyataan, “Insya Allah tahun ini ada John, dengan materi yang cukup baik, dengan banyak pemain-pemain muda yang potensial dan memberikan harapan yang baru, semoga tahun ini bisa menjadi rezeki kita (juara),” ujar Bepe dalam acara Trophy Tour Piala AFF 2026 di Kota Kasablanka, Jakarta, Sabtu (25/7/2026).

Selain berbicara soal kekuatan tim, Bepe juga menekankan pentingnya dukungan dari suporter terhadap keputusan pelatih. Ia menginginkan tidak adanya perdebatan berlebihan terkait pemanggilan pemain karena baginya, pilihan yang diambil merupakan yang terbaik dari kondisi yang ada saat ini.

“Pemain yang sedang dipanggil berarti adalah yang terbaik menurut John. Kita harus sepakati itu,” ujar dia.

Pandangan serupa juga diungkapkan Cristian Gonzales. Ia menilai sebagai negara terbesar di Asia Tenggara, Indonesia seharusnya tetap konsisten membawa sikap optimistis untuk meraih titel Piala AFF.

Gonzales juga menyoroti perubahan yang ia lihat dari perkembangan permainan di bawah kepemimpinan John Herdman. Ia memandang perjalanan pelatih baru itu sebagai bagian dari proses yang bisa membawa tim ke hasil terbaik.

Gonzales menyatakan, “Ya, untuk seorang pemain kita selalu harus optimistis dan berpikir positif. Apalagi, ini pelatih baru dan baru pertama kali Piala AFF,” ucap Gonzales.

Ia kemudian menutup dengan doa untuk pertandingan pembuka Indonesia pada hari Senin. “Semoga yang terbaik untuk dia di hari Senin dan juga untuk pemain-pemain kita di Timnas Indonesia,” jelasnya.

Dengan skenario itu, laga pertama Indonesia melawan Kamboja bukan hanya menjadi pembuka fase grup, tetapi juga ujian awal bagi kepercayaan yang kini dibangun bersama. Optimisme para legenda menjadi penguat suasana menjelang pertandingan, sambil menunggu apakah kutukan runner-up pada edisi-edisi sebelumnya benar-benar bisa diakhiri di Piala AFF 2026.

Bagi Indonesia, pertandingan perdana melawan Kamboja sekaligus memberi gambaran nyata tentang cara tim beradaptasi setelah turnamen resmi bergulir. Laga di Pakansari juga diharapkan menjadi momentum untuk membangun ritme permainan sejak menit-menit awal.

Keyakinan yang disampaikan Bepe tidak hanya bertumpu pada komposisi skuad, tetapi juga pada kesatuan sikap seluruh ekosistem tim. Menurutnya, ketika suporter menerima pilihan pelatih, energi akan tersalurkan untuk mendukung jalannya strategi, bukan terseret perdebatan.

Pada sisi lain, Cristian Gonzales menekankan bahwa sikap optimistis perlu dijaga sebagai dasar mental sebelum pertandingan. Ia memandang perubahan yang berjalan bersama John Herdman sebagai bagian dari tahapan, sehingga pendekatan positif tetap relevan, terutama karena ini kali pertama sang pelatih tampil di Piala AFF.

Dengan catatan perjalanan Indonesia yang berulang kali mencapai partai puncak namun berujung menjadi runner-up, seluruh harapan pada edisi ini terasa lebih menuntut konsistensi. Dorongan untuk meraih hasil terbaik kian kuat ketika potensi pemain muda yang dibawa John Herdman dipandang mampu menjadi pembeda.