jurnalistik.co.id – Masyarakat yang mencari informasi kini makin sering berinteraksi dengan rekomendasi yang muncul dari platform digital, bukan semata-mata dari pemberitaan yang disusun media. Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, menilai pergeseran ini perlu dicermati karena memengaruhi cara audiens membentuk preferensi dan sudut pandangnya.
Menurut penilaian Nezar, perubahan tersebut terlihat dari cara informasi ditampilkan di layar pengguna. Konten yang hadir tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh media, melainkan turut dipengaruhi sistem yang mempelajari kebiasaan dan minat pengguna.
Nezar menyatakan bahwa dinamika platform media sosial membuat kendali terhadap audiens berangsur bergeser. Pada titik ini, ia melihat hubungan antara media konvensional dan audiens tidak berjalan dengan pola lama, karena platform bereaksi lebih cepat dan lebih masif terhadap respons pengguna.
“Saat ini media kehilangan audiens, yang mengontrol audiens adalah platform. Platform media sosial berkembang jauh lebih cepat, lebih dalam, lebih agresif, sehingga menggeser pola hubungan antara media konvensional dan media tradisional dengan audiens,” ujar Nezar di Jakarta, dikutip Jumat (11/9/2026).
Dalam penjelasannya, Nezar menekankan bahwa pergeseran kendali tersebut diperkokoh oleh algoritma yang mempelajari perilaku pengguna. Setiap interaksi—mulai dari cara pengguna menanggapi konten—kemudian menjadi data yang dipakai platform untuk menentukan isi apa yang kembali ditayangkan.
Ia menggambarkan mekanismenya melalui jejak aktivitas sederhana yang sering dianggap remeh. Aktivitas seperti “tanda likes” diproses oleh sistem pembelajaran untuk memperkirakan kecenderungan pengguna, lalu mendorong konten yang dianggap paling sesuai dengan minatnya.
Berita Terkait
“Jadi semua yang kita berikan tanda likes itu kemudian dicatat dalam machine learning yang dipakai oleh media sosial. Jadi apa yang kita suka akan selalu datang kepada kita, itulah yang disebut dengan echo chamber,” jelas Nezar.
Gagasan tersebut mengarah pada konsep ruang gema, yakni kondisi ketika pengguna cenderung terus melihat informasi yang sejalan dengan preferensi yang telah terbentuk sebelumnya. Dalam situasi seperti itu, variasi sudut pandang bisa berkurang karena sistem rekomendasi terus memperkuat pola yang sudah terbaca dari perilaku pengguna.
Bagi Nezar, yang patut dicermati bukan hanya soal kecepatan platform menyajikan konten, tetapi juga kedalaman pengaruh algoritma dalam membentuk arus informasi. Dengan semakin intensifnya pembelajaran berbasis interaksi, audiens dapat mengalami perubahan kebiasaan konsumsi informasi tanpa harus menyadari proses yang terjadi di balik layar.
Nezar juga memandang bahwa pergeseran pola ini mempunyai implikasi pada bagaimana audiens memutuskan apa yang layak diikuti. Ketika rekomendasi makin dominan, media menghadapi tantangan untuk tetap relevan dalam persaingan perhatian yang diatur oleh mekanisme platform.
“Echo chamber” yang ia sebutkan pada dasarnya menggambarkan lingkaran yang berulang: minat yang terpetakan mendorong konten yang mirip, lalu respons berikutnya memperbarui pembacaan sistem. Akibatnya, informasi yang tampil bisa terasa konsisten dengan apa yang pengguna sukai sebelumnya, sehingga diskursus yang berbeda menjadi lebih sulit muncul.
Dari pandangan tersebut, perhatian tidak cukup berhenti pada konten yang terlihat di beranda. Yang lebih menentukan justru cara algoritma bekerja, bagaimana ia mengumpulkan data dari interaksi, dan bagaimana ia memutuskan konten mana yang paling mungkin “mengikuti” selera pengguna.
Nezar mengingatkan bahwa perubahan kendali atas audiens tidak terjadi secara mendadak, melainkan berlangsung bertahap seiring platform media sosial terus berkembang. Karena itu, ia mendorong agar perkembangan algoritma dan dampaknya terhadap kebiasaan mencari informasi menjadi bahan pertimbangan dalam memaknai ekosistem digital saat ini.












