Bisnis & Ekonomi

Rupiah Menguat, Kuotasi Mendekati Batas di Bawah Rp17.600/US$

×

Rupiah Menguat, Kuotasi Mendekati Batas di Bawah Rp17.600/US$

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Menguat, Bergerak ke Bawah Rp17.600/US$ - Market

jurnalistik.co.id – Rupiah menguat pada pembukaan perdagangan Rabu (9/9/2026) dan bergerak mendekati level di bawah Rp17.600/US$. Pada awal sesi, mata uang Indonesia naik 0,9% menjadi Rp17.615/US$, seiring tekanan dolar AS yang melandai.

Pergerakan ini datang ketika sentimen valuta membaik dibandingkan sesi sebelumnya. Melemahnya tekanan dolar membantu kurs rupiah berada pada wilayah yang lebih kuat, meski tetap berada dekat ambang psikologis Rp17.600/US$.

Salah satu indikator yang menjadi acuan pelaku pasar adalah indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama. Dalam pembukaan perdagangan, indeks dolar AS tercatat melemah ke 98,8.

Turunnya indeks tersebut dikaitkan dengan ekspektasi inflasi AS yang diperkirakan relatif terkendali. Kondisi ini dinilai berpotensi memperkuat peluang pendekatan kebijakan yang lebih dovish dari The Fed.

Dalam perkiraan Bloomberg Economics, inflasi umum (headline) berada di angka 0,4%. Kenaikan inflasi tersebut disebut dipengaruhi oleh lonjakan harga bensin.

Sementara itu, inflasi inti (core) diproyeksikan sebesar 0,2%. Angka ini tetap menjadi perhatian utama karena menjadi salah satu tolok ukur arah kebijakan suku bunga.

“Jika inflasi inti menunjukkan angka yang lebih rendah dari perkiraan, kemungkinan besar itu cukup bagi The Fed untuk menahan suku bunga pada September,” sebut Anna Wong, Ekonom Bloomberg Economics, dalam catatannya.

Anna Wong juga menambahkan, bila inflasi inti justru naik secara mengejutkan, dinamika diskusi kebijakan dapat berubah. “Jika inflasi inti secara mengejutkan naik, kelompok hawkish berpotensi memenangkan perdebatan dan mendorong kenaikan suku bunga,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menempatkan data inflasi sebagai pemicu langsung bagi ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed. Ketika pasar menilai inflasi inti lebih jinak, imbal hasil dan kekuatan dolar biasanya ikut mereda karena prospek pengetatan dinilai berkurang.

Sebaliknya, jika inflasi inti melampaui ekspektasi, dolar berpotensi kembali menguat karena pasar cenderung mengantisipasi langkah penyesuaian suku bunga. Dalam konteks itu, rupiah akan mengikuti perubahan sentimen yang dibawa data.

Untuk rupiah, publikasi data inflasi AS yang akan dirilis pada Jumat pekan ini diproyeksikan ikut diterjemahkan ke ekspektasi mengenai Fed Fund Rate (FFR). Reaksi kurs sangat mungkin terjadi karena FFR menjadi acuan utama untuk arah kebijakan.

Namun, arah kurs tidak berdiri sendiri hanya dari inflasi. Pelaku pasar juga mempertimbangkan data ekonomi sebelumnya sebagai bagian dari gambaran kondisi perekonomian.

Pada pekan yang sama, data tenaga kerja Agustus dinilai cukup tangguh. Dalam laporan yang menjadi rujukan, pertambahan tenaga kerja disebut mencapai 162 ribu, sementara tingkat pengangguran bertahan di 4,1%.

Daya tahan tenaga kerja tersebut kemudian berpengaruh pada penilaian pasar mengenai probabilitas kenaikan suku bunga. Setelah menerima sinyal dari data tenaga kerja yang relatif kuat, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pekan depan dinilai meningkat.

Dengan latar itu, rupiah berada dalam posisi yang sensitif terhadap perubahan proyeksi kebijakan. Penguatan di awal perdagangan tidak menutup kemungkinan adanya volatilitas ketika pasar menunggu pembacaan data inflasi pada akhir pekan.

Meski dolar AS sempat melemah dan indeks berada di 98,8, arah berikutnya akan sangat bergantung pada apakah inflasi inti benar-benar sesuai proyeksi 0,2% atau justru bergerak berbeda. Perbedaan tipis pada angka tersebut dapat menggeser cara pasar mengukur kebutuhan The Fed dalam mempertahankan atau menyesuaikan suku bunga.

Karena itu, kurs rupiah berpotensi terus bergerak dalam rentang yang mencerminkan persaingan ekspektasi. Hari-hari menjelang rilis inflasi pada Jumat menjadi fase penentuan, khususnya bagi posisi rupiah yang kini menempel di dekat area Rp17.600/US$.