jurnalistik.co.id – Rupiah melemah pada pembukaan perdagangan pasar spot hari Kamis (10/9/2026). Pada awal sesi, mata uang Indonesia dibuka di level Rp17.539 per US$, sebelum kemudian memangkas pelemahan sesaat setelahnya.
Di menit-menit awal, rupiah tercatat bergerak turun sekitar 0,15%. Namun, laju pelemahan itu berkurang menjadi sekitar 0,02% ketika nilai tukar bergerak ke kisaran Rp17.516 per US$.
Tekanan terhadap rupiah di awal perdagangan setidaknya terjadi di tengah kondisi pasar yang tidak sepenuhnya satu arah. Di kawasan Asia, sebagian besar mata uang justru berada pada area hijau, yang menunjukkan kecenderungan penguatan lebih dominan ketimbang pelemahan.
Salah satu faktor yang turut menopang pergerakan mata uang adalah harga minyak mentah yang masih bertahan tinggi. Minyak mentah tercatat berada di sekitar US$101,2 per barel, sehingga menjadi penahan laju rupiah pada awal sesi.
Dari sisi pergerakan mata uang utama di Asia, won Korea Selatan memimpin penguatan dengan kenaikan 0,21%. Yen Jepang ikut menguat sekitar 0,12% pada waktu yang sama, menguatkan gambaran bahwa arus di pasar regional cenderung mendukung mata uang sejumlah negara.
Sementara itu, dolar Singapura, yuan China, serta offshore tercatat menguat dengan besaran yang lebih terbatas. Di saat yang berbeda, tidak semua mata uang bergerak sejalan dengan kecenderungan mayoritas yang menguat, sehingga muncul variasi pergerakan di pasar.
Peso Filipina berada di zona merah, bersama ringgit Malaysia dan rupiah. Kondisi tersebut menegaskan bahwa pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri, melainkan terjadi dalam lanskap yang lebih luas di kawasan.
Berita Terkait
Dukungan domestik dari pasar surat utang, namun sentimen suku bunga masih membayangi Dari dalam negeri, aksi beli investor di pasar surat utang domestik menjadi salah satu penopang pergerakan rupiah. Arus itu membantu menopang laju pelemahan, setidaknya pada fase setelah pembukaan.
Meski demikian, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed masih menjadi faktor yang menahan laju pemulihan di pasar obligasi. Sentimen tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati, terutama terkait dinamika imbal hasil (yield) yang berpotensi berubah.
Selain itu, fokus pasar juga tertuju pada selisih yield antara INDON dan US Treasury. Teks ini menegaskan bahwa selisih tersebut berpeluang semakin tipis, sehingga investor perlu mempertimbangkan risiko kurs ketika posisi obligasi dikaitkan dengan pergerakan nilai tukar.
Pada pasar obligasi Amerika Serikat, yield US Treasury kembali naik sebesar 5,4 basis poin. Setelah kenaikan tersebut, yield berada di level 4,84% pada saat yang disebutkan, yang menjadi sinyal bahwa dorongan imbal hasil masih hadir dari sisi eksternal.
Sementara itu, yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun tercatat di 5,76%. Dengan perbedaan yang tetap ada, pasar menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan daya tarik imbal hasil terhadap potensi pergerakan kurs yang menyertai investasi.
Dalam konteks tersebut, disebutkan bahwa selisih dengan INDOGB 10 tahun berada di 7,08%. Meski angka selisih tersebut masih memberi ruang bagi perbedaan imbal hasil, risiko kurs dipandang tetap perlu diperhitungkan ketika pasar mencoba mengempit posisi obligasi di tengah pergeseran ekspektasi suku bunga global.
Secara keseluruhan, pergerakan rupiah pada pembukaan menggambarkan dua arus yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, rupiah sempat tertekan dan bergerak turun dari level pembukaan, sementara di sisi lain, dukungan dari pasar surat utang domestik membuat pelemahan tidak berlanjut terlalu dalam.
Namun, sentimen dari ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tetap menjadi penyeimbang yang dapat memengaruhi preferensi investor. Dengan latar kondisi yield US Treasury yang naik dan dinamika imbal hasil domestik, pasar cenderung bergerak selektif—mencerminkan upaya merespons perubahan faktor global tanpa mengabaikan risiko kurs.












