jurnalistik.co.id – Bank Mandiri menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 menjadi 5,34%. Revisi ini naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 5,2%.
Head of Macroeconomic & Financial Market Research Departemen Bank Mandiri, Dian Ayu Yustina, menyampaikan revisi tersebut dalam Indonesia Economic Outlook: Building Domestic Resilience in the Midst of Global Vulnerability, Kamis (3/9/2026). Dalam penilaiannya, angka 5,34% menunjukkan pertumbuhan ekonomi berpotensi berada di atas kisaran 5,3%.
“Jadi kalau kita lihat prognosa di 2026, kami melihat mungkin pertumbuhan ekonomi bisa di atas 5,3%, ini angkanya 5,34%, di atas proyeksi kami sebelumnya di 5,2%,” kata Dian Ayu Yustina.
Menurut Dian, salah satu faktor yang mendorong pandangan tersebut datang dari daya tahan belanja masyarakat. Ia menekankan bahwa belanja tetap terjaga, sehingga memberikan momentum yang membantu menopang kinerja pertumbuhan pada paruh tahun berikutnya.
Ia merujuk pada data Mandiri Spending Index yang tercatat hingga 23 Agustus 2026. Dari data tersebut, pertumbuhan belanja masyarakat disebut mencapai 6%.
Di sisi lain, perbandingan antar-kuartal juga menunjukkan pola yang mendukung kelanjutan tren. Belanja pada kuartal I-2026 tercatat tumbuh 6,4%, lalu pada kuartal II-2026 melambat menjadi 6,1%.
Dian menilai dinamika itu tidak serta-merta memutus dorongan permintaan domestik. “Jadi ini menunjukkan momentum belanja di kuartal ke-2 ini sebenarnya masih berlanjut ke kuartal ke-3 2026,” katanya.
Pemantauan belanja masyarakat menjadi pijakan penting dalam membaca arah ekonomi pada kuartal berikutnya. Dengan adanya kesinambungan momentum tersebut, proyeksi Mandiri untuk pertumbuhan 2026 mengalami penyesuaian ke angka 5,34%.
Selain proyeksi setahun penuh, Dian juga menilai perkembangan ekonomi pada semester pertama 2026. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester I 2026 mencapai 5,45%.
Berita Terkait
Rincian pertumbuhan semester tersebut memperlihatkan kontribusi dari kuartal I yang lebih kuat. Pada kuartal I-2026, pertumbuhan ekonomi disebut sebesar 5,6%.
Namun, pada periode berikutnya terjadi moderasi. Dian menyatakan pertumbuhan pada kuartal II-2026 tercatat 5,29%.
Dengan pola tersebut, evaluasi Mandiri cenderung melihat adanya pergeseran kekuatan pertumbuhan dari kuartal I menuju kuartal II, sebelum kemudian momentum belanja diharapkan berlanjut ke kuartal III. Penekanan pada keberlangsungan belanja ini menjadi jembatan argumentasi untuk revisi proyeksi ke 5,34%.
Revisi angka tersebut juga menempatkan proyeksi Mandiri pada posisi yang lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya untuk akhir tahun mendatang. Dari semula 5,2%, proyeksi naik menjadi 5,34%, yang berarti terdapat penyesuaian sekitar 0,14 poin persentase.
Dalam narasi yang disampaikan, arah revisi tidak digambarkan lepas dari data yang dicatat secara berkala. Mandiri menggunakan indikator belanja sebagai salah satu sinyal untuk menilai kekuatan konsumsi rumah tangga dan kelanjutan momentum pada periode setelah kuartal II.
Secara keseluruhan, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 versi Bank Mandiri bertumpu pada keyakinan bahwa belanja masyarakat tetap terjaga, sebagaimana tampak dari Mandiri Spending Index hingga 23 Agustus 2026 serta tren pertumbuhan belanja pada kuartal I hingga kuartal II-2026.
Langkah menaikkan proyeksi ini sekaligus menegaskan pandangan Mandiri bahwa pertumbuhan masih memiliki ruang untuk berada di atas kisaran sebelumnya. Dengan angka proyeksi akhir 5,34%, Bank Mandiri berharap kinerja ekonomi 2026 dapat melanjutkan momentum yang telah terbaca pada semester pertama dan berpotensi berlanjut pada kuartal berikutnya.
Dian juga menyoroti bahwa perlambatan di kuartal II tidak otomatis berarti permintaan melemah secara permanen. Dalam logika penilaiannya, turunnya laju belanja dari 6,4% menjadi 6,1% masih dapat dibaca sebagai fase transisi sebelum belanja kembali mempertahankan ritme pada periode berikutnya.
Dengan demikian, evaluasi Mandiri tidak berhenti pada angka semester I, tetapi menggunakan pembacaan lintas kuartal sebagai dasar pembaruan. Saat kuartal I mencatat pertumbuhan lebih kuat, lalu moderasi terjadi pada kuartal II, momentum belanja yang dinilai berlanjut ke kuartal III menjadi elemen penting yang menguatkan arah revisi menuju 5,34%.
Mandiri memandang perubahan proyeksi itu sebagai penyesuaian yang mengikuti data, bukan langkah yang berdiri sendiri. Keterkaitan antara Mandiri Spending Index hingga 23 Agustus 2026, pola pertumbuhan belanja kuartal I-2026 dan II-2026, serta estimasi pertumbuhan semester pertama, kemudian dirangkai untuk memperkirakan keberlanjutan konsumsi domestik sepanjang tahun.












