jurnalistik.co.id – Bank Indonesia memasuki periode kepemimpinan baru untuk 2026–2031. Dalam tonggak tersebut, Destry Damayanti resmi menjabat Gubernur BI.
Penunjukan ini juga menempatkan Destry sebagai perempuan pertama yang menduduki kursi nomor satu di lembaga tersebut. Ia memaknai jabatan itu sebagai momentum yang menegaskan bahwa kesempatan memimpin tidak bisa dibatasi oleh anggapan lama.
Dalam pernyataan yang disampaikan saat ditemui di Hotel Kempinski, Jakarta, Kamis (3/9/2026), Destry menilai faktor gender seharusnya tidak lagi menjadi penghalang ketika seseorang ingin berkontribusi dan memegang peran strategis.
Menurutnya, penilaian terhadap figur pemimpin semestinya berangkat dari kualitas. Baik laki-laki maupun perempuan, katanya, memiliki kesempatan yang sama selama memenuhi kompetensi dan kemampuan yang dibutuhkan untuk menjalankan tanggung jawab tersebut.
Destry juga mengaitkan pandangannya dengan pesan yang dikenal luas tentang persamaan peran perempuan dan laki-laki. Ia menyebut ajaran tersebut tercermin dalam keteladanan Kartini.
“Ibu Kartini kan sudah menunjukkan bahwa laki-laki perempuan itu sama. Yang penting dia punya kompetensi, dia punya integritas, dan juga dia mempunyai leadership,” kata Destry.
Kalimat itu menjadi benang merah penjelasannya mengenai kepemimpinan. Baginya, integritas dan kepemimpinan adalah unsur yang menentukan, bukan identitas personal yang melekat sejak awal.
Destry menekankan bahwa kepemimpinan tidak semata-mata soal posisi, tetapi juga menyangkut kemampuan membawa arah kerja melalui leadership. Dengan cara pandang tersebut, ia ingin pesan yang sampai kepada publik menjadi lebih substansial.
Berita Terkait
Selain menekankan prinsip kesetaraan kesempatan, Destry menyoroti perubahan yang ia lihat di lingkungan internal BI. Ia menyebut semakin banyak perempuan yang kini menempati posisi-posisi strategis di lembaga keuangan sentral.
Destry memandang perkembangan tersebut sebagai tanda bahwa stigma tentang keterbatasan perempuan untuk bekerja di sektor tertentu semakin kehilangan relevansinya. Dengan kata lain, narasi yang menyatakan perempuan kurang cocok memegang peran kepemimpinan dinilai tidak lagi sejalan dengan kenyataan.
Pada kesempatan yang sama, Destry menyampaikan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya. Ia mengaitkan kepercayaannya tersebut dengan proses penetapan yang melibatkan Presiden dan DPR.
“Saya berterima kasih terhadap kepercayaan yang diberikan oleh Presiden dan juga oleh DPR kepada saya dan beberapa teman-teman saya juga yang perempuan, yang ada di BI saat ini, DGS [Deputi Gubernur Senior] saya juga perempuan, Bu Aida,” katanya.
Uraian itu disampaikan setelah Destry mengikuti uji kelayakan dan kepatutan di DPR di Jakarta pada Rabu (26/8/2026). Proses tersebut menjadi bagian dari rangkaian tahapan yang mengantarkannya pada periode jabatan 2026–2031.
Bagi Destry, kehadirannya di posisi tersebut tidak hanya soal simbol. Ia ingin pesan kepemimpinan yang ingin dibawa dari peristiwa ini dapat dibaca sebagai penguatan bahwa kompetensi yang teruji dan kemampuan memimpin dapat membuka jalan, apa pun gendernya.
Ia juga menegaskan bahwa keberadaan perempuan dalam peran strategis di BI tidak berdiri sendiri. Destry melihat hal tersebut sebagai cerminan semakin luasnya ruang yang tersedia bagi perempuan untuk menunjukkan kemampuan di bidang-bidang penting.
Dengan demikian, pernyataan Destry pada akhirnya berujung pada satu arah yang jelas: kepemimpinan perlu dilihat dari integritas, kompetensi, serta kemampuan memandu organisasi. Dalam kerangka itulah, ia berharap lebih banyak perempuan dapat memperoleh kepercayaan untuk mengambil tanggung jawab serupa.
Penegasan tersebut sekaligus merangkum isi pesan yang ingin dibawa Destry. Bahwa kesempatan memimpin mesti sejalan dengan kualitas, dan kepercayaan publik perlu ditopang oleh integritas serta leadership yang dapat dipertanggungjawabkan.












