jurnalistik.co.id – Pengawas perlindungan konsumen Inggris, Competition and Markets Authority (CMA), sedang meneliti tiga perusahaan—Trainline, Virgin Atlantic, dan RED Driving School—atas dugaan praktik “drip pricing”. Intinya, regulator menilai apakah harga penuh untuk biaya wajib tidak ditampilkan sejak awal kepada pelanggan.
Menurut CMA, “drip pricing” adalah praktik yang dinilai melanggar karena biaya yang seharusnya wajib tidak dimasukkan dalam harga utama yang mula-mula terlihat oleh konsumen. Jika CMA memutuskan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut melanggar hukum, regulator dapat menjatuhkan denda atau memerintahkan kompensasi kepada pelanggan.
CMA menyebut bahwa ketiga perusahaan dinilai belum memberikan informasi harga secara penuh pada tahap awal pembelian atau pemesanan. Dalam proses pemeriksaan, CMA akan menilai bagaimana biaya tambahan ditampilkan dalam perjalanan pemesanan yang dilakukan pelanggan.
Temuan CMA pada Trainline
Untuk Trainline, CMA menyatakan pihaknya mengamati adanya biaya yang dapat ditambahkan ke tarif kereta yang ditampilkan sejak awal. Besaran yang disebut CMA mencakup biaya hingga ÂŁ2,79 yang ditambahkan pada tarif kereta, serta hingga ÂŁ1,50 untuk pemesanan bus.
CMA menilai bahwa biaya tambahan semacam itu dapat bertambah besar bagi penumpang yang sering melakukan perjalanan. Perusahaan ini, menurut CMA, juga pernah menghadapi tuduhan serupa sebelumnya.
Pada 2023, Office of Rail and Road menyatakan Trainline dan enam penjual tiket kereta pihak ketiga lainnya tidak cukup transparan soal biaya. Saat itu, perhatian diarahkan pada apakah biaya tidak diumumkan secara jelas sejak awal proses pembelian.
Pemeriksaan pada Virgin Atlantic terkait biaya paket liburan
CMA juga meneliti Virgin Atlantic, khususnya untuk dugaan apakah biaya resor yang bersifat wajib dan pajak lokal dimasukkan dalam harga awal yang terlihat ketika konsumen membeli paket liburan. CMA menyebut biaya-biaya tersebut dapat berbeda-beda, bahkan dapat meningkat hingga ratusan poundsterling.
Dampaknya, kata CMA, dapat membuat total biaya liburan menjadi jauh lebih mahal dibandingkan gambaran harga yang pertama kali muncul pada tahap pemesanan. Dengan demikian, penilaian regulator berfokus pada apakah konsumen memperoleh informasi biaya wajib sejak awal.
Virgin Atlantic Holidays menyatakan pihaknya menanggapi tanggung jawab kepada pelanggan “dengan sangat serius”. Mereka menegaskan, “we always want to ensure they can make an informed decision when booking a holiday with us,” lalu menyebut biaya wajib ditandai pada beberapa tahap selama proses pemesanan. Perusahaan juga menyatakan akan meninjau poin yang disampaikan CMA dan bekerja sama sepenuhnya dengan proses investigasi.
Berita Terkait
Pemeriksaan pada RED Driving School untuk biaya pemesanan
Sementara itu, CMA menyoroti apakah RED Driving School memasukkan biaya pemesanan wajib dan biaya digital dalam harga yang ditampilkan sejak awal saat membeli pelajaran mengemudi. CMA menyatakan biaya yang dimaksud dapat melebihi ÂŁ7 per pelajaran.
Regulator juga mengingatkan bahwa dalam pemeriksaan ini, fokus utamanya adalah transparansi harga. Di sisi lain, RED Driving School menyatakan merasa kecewa ikut dimasukkan dalam investigasi yang lebih luas.
Perwakilan RED Driving School menyampaikan, “Red Driver Training always values both transparency and consumer satisfaction in all of our interactions with our customers,” serta menegaskan bahwa pihaknya memandang kewajiban berdasarkan hukum konsumen “with utmost focus and seriousness”.
Langkah CMA dan pesan ke industri
CMA menyatakan memiliki wewenang untuk menetapkan bahwa hukum konsumen telah dilanggar tanpa harus membawa perusahaan ke pengadilan. Regulator mencontohkan bahwa pada awal tahun ini, CMA memerintahkan dua sekolah mengemudi lain memberi pengembalian dana kepada lebih dari 80.000 pelanggan.
Perintah pengembalian dana itu terkait karena kedua perusahaan tidak mengungkapkan harga total pelajaran mengemudi secara penuh sejak awal dalam proses pemesanan online. Dalam konteks tersebut, investigasi terhadap Trainline, Virgin Atlantic, dan RED Driving School diposisikan sebagai tindak lanjut untuk memastikan praktik penetapan harga tidak menyesatkan.
Emma Cochrane, executive director untuk consumer protection di CMA, menyampaikan: “The first price customers see should be the price they pay.” Ia menambahkan bahwa pada saat banyak rumah tangga memperhatikan setiap pengeluaran, penting agar orang tidak terkejut oleh biaya tambahan saat memesan tiket kereta dan bus, paket liburan, maupun pelajaran mengemudi.
Berkaitan dengan Trainline, pihak perusahaan mengatakan mereka berkomitmen menawarkan pengalaman pemesanan yang transparan dengan harga yang jelas dan nilai yang nyata. Perusahaan juga menyatakan sudah terlibat secara proaktif dengan CMA selama beberapa bulan dan mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki cara penyajian sejumlah biaya kepada pelanggan.
Reaksi Which? dan kutipan kebijakan konsumen
Kelompok advokasi konsumen Which? menyatakan CMA seharusnya tidak ragu menggunakan wewenang yang dimiliki, “especially after each firm has already received a warning advisory letter”. Pernyataan ini merujuk pada fakta bahwa masing-masing perusahaan telah menerima surat peringatan sebelumnya.
Sue Davies, head of consumer rights policy di Which?, menyampaikan: “Following comments made by the Prime Minister last week that unfair pricing practices have no place in our economy, this move sends a clear message to other businesses to follow the rules.” Ia juga menambahkan bahwa ketika anggaran rumah tangga sedang mendapat tekanan, konsumen harus memiliki keyakinan bahwa bisnis tidak “memanfaatkan” mereka dan regulator siap turun tangan untuk melindungi hak.







