jurnalistik.co.id – Harga Bitcoin mencatat kenaikan sekitar 23% dalam sepekan hingga Jumat, didorong kombinasi faktor makroekonomi dan dinamika pasar kripto yang makin rapat.
Kenaikan itu membuat Bitcoin diperdagangkan naik sekitar 6% ke kisaran 77.000 dollar AS, setara sekitar Rp1,36 miliar. Pada awal pekan, aset yang sama masih berada di sekitar 62.800 dollar AS atau Rp1,11 miliar.
Penguatan harga tersebut juga terlihat menular ke saham perusahaan yang terhubung dengan industri kripto. Saham Coinbase naik 8%, sementara Strategy menguat 6%.
Lonjakan mulai menonjol pada Rabu (19/8/2026), ketika sentimen pasar berubah menjadi lebih mendukung aset berisiko. Sejumlah pergeseran di pasar obligasi disebut menjadi pemicu awal sebelum minat investor merembet ke kripto.
Pergerakan harga Bitcoin kemudian makin menguat setelah yield atau imbal hasil obligasi pemerintah AS turun tajam. Penurunan yield membuat tekanan di pasar obligasi mereda, sehingga sebagian investor kembali mencari peluang pada aset berisiko.
Dalam kacamata pasar, kondisi ini membuka ruang bagi arus modal masuk ke aset seperti kripto. Bitcoin pun menjadi salah satu yang paling cepat merespons ketika minat terhadap risiko kembali tumbuh.
Di sisi lain, penguatan makin besar ketika terjadi short squeeze. Fenomena ini terjadi saat investor yang sebelumnya memasang posisi short terpaksa menutup posisi mereka karena harga bergerak berlawanan dengan perkiraan.
Data CoinGlass menunjukkan posisi short kripto senilai sekitar 2,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp47,7 triliun telah dilikuidasi. Likuidasi tersebut menggambarkan seberapa kuat pergerakan harga yang memaksa pelaku pasar menyesuaikan posisi secara cepat.
Berita Terkait
Menurut Max Stuedlein, Kepala Kemitraan Sygnum APAC, pergerakan Bitcoin mencerminkan pertemuan antara faktor ekonomi makro dan kebijakan pemerintah. Ia menilai keputusan otoritas terkait utang jangka panjang menjadi titik penting yang memengaruhi persepsi terhadap imbal hasil.
Stuedlein menyebut, keputusan Departemen Keuangan untuk melipatgandakan pembelian kembali (buyback) utang pemerintah berjangka panjang bertujuan mengatasi kekhawatiran mengenai imbal hasil jangka panjang. Ia juga menyinggung bahwa biaya pinjaman sempat meningkat akibat kekhawatiran terhadap tingkat utang AS dan efek crowding out parsial yang disebabkan oleh penerbitan utang perusahaan teknologi skala besar (hyperscaler).
Dalam kondisi seperti itu, penurunan yield tidak hanya meredakan kekhawatiran, tetapi juga mengubah perilaku investor. Ketika tekanan pasar obligasi berkurang, aset berisiko cenderung mendapatkan dorongan baru dari aliran dana.
Setelah dorongan makro terbentuk, mekanisme internal di pasar kripto ikut mempercepat laju kenaikan. Short squeeze kemudian memperbesar pergerakan karena penutupan posisi short terjadi serentak, menciptakan dorongan tambahan pada harga.
Gabungan antara pulihnya sentimen risk-on dan percepatan akibat likuidasi posisi short menjadi alasan mengapa kenaikan dalam sepekan bisa berlangsung cepat. Dari sisi harga, lonjakan dari kisaran 62.800 dollar AS ke 77.000 dollar AS menunjukkan besarnya perubahan ekspektasi pelaku pasar dalam waktu singkat.
Dengan saham terkait kripto yang ikut menguat, respons pasar tampak tidak hanya terjadi pada aset utamanya. Investor tampaknya membaca perubahan kondisi makro dan mengaitkannya dengan prospek industri kripto secara lebih luas.
Di tengah dinamika tersebut, perhatian pasar biasanya akan beralih pada arah yield obligasi AS serta kelanjutan sentimen kebijakan. Jika tekanan di pasar obligasi kembali mereda dan minat pada aset berisiko tetap terjaga, momentum penguatan berpotensi berlanjut, meski pergerakan berbasis short squeeze cenderung menciptakan volatilitas.
Selain pemicu eksternal, respons pasar juga terlihat dari cara pelaku memadukan sinyal makro dengan posisi perdagangan mereka. Ketika yield mereda, biaya peluang memegang aset berisiko ikut turun, sehingga lonjakan permintaan di kripto terasa lebih cepat terbentuk.
Likuidasi posisi short yang mencapai miliaran dollar memperlihatkan bahwa ruang gerak kenaikan tidak hanya datang dari pembelian baru, tetapi juga dari “pemaksaan” penyesuaian posisi. Proses penutupan itu membuat harga bergerak lebih jauh dalam waktu pendek, sekaligus menambah sifat volatil pada pergerakan lanjutan.












