jurnalistik.co.id – Indonesia terus menyiapkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) agar dapat mengambil peran yang lebih luas dalam perdagangan komoditas global. Salah satu langkahnya diwujudkan lewat kerja sama pendidikan dan pelatihan bersertifikasi bersama asosiasi perdagangan komoditas dari Swiss.
Kerja sama tersebut dijalankan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia dengan Suissenegoce, asosiasi perdagangan komoditas Swiss. Melalui kemitraan ini, program pendidikan dan pelatihan yang dibuat mengarah pada praktik perdagangan komoditas dunia, sekaligus dilengkapi sertifikasi Suissenegoce.
Ketua Umum KADIN Indonesia Anindya Bakrie menyebut penguatan SDM menjadi bagian yang konkret dari strategi memperluas posisi pelaku usaha Indonesia dalam pasar komoditas internasional. Ia menegaskan, “Pengembangan SDM mengenai perdagangan komoditas global merupakan langkah konkret agar Indonesia tidak hanya menjadi negara produsen tapi juga bisa menjadi pemain yang berpengaruh di pasar perdagangan komoditas dunia,” di sela-sela penandatanganan perjanjian di Jenewa, Swiss, Kamis (20/8/2026).
Penandatanganan kerja sama di Jenewa
Perjanjian kemitraan ditandatangani Anindya Bakrie bersama Sekretaris Jenderal Suissenegoce Florence Schurch. Acara itu disaksikan Duta Besar Republik Indonesia untuk Swiss Ngurah Swajaya dan Francis Wanandi selaku Ketua Komite Bilateral KADIN Indonesia-Swiss.
Penandatanganan kerja sama tersebut juga bertepatan dengan peringatan 75 tahun hubungan bilateral Indonesia-Swiss. Di dalam konteks ini, KBRI Bern disebut telah menjajaki langkah kemitraan antara Suissenegoce dan KADIN Indonesia sebelum kesepakatan resmi ditandatangani.
Ngurah menyampaikan bahwa penandatanganan kerja sama menjadi tahap awal dan langkah yang konkret. Ia mengatakan, “KBRI Bern telah lama menjajaki upaya kemitraan Suissenegoce dengan KADIN Indonesia dan penandatanganan kerja sama ini merupakan langkah awal dan konkret yang dimulai bertepatan dengan perayaan 75 tahun hubungan bilateral Indonesia-Swiss.”
Kerja sama tersebut juga disebut sebagai kelanjutan dari kunjungan Menteri Federal Bidang Ekonomi, Pendidikan, dan Riset Swiss Guy Parmelin ke Jakarta pada Oktober 2025. Selain itu, kemitraan ini berkaitan dengan penandatanganan kerja sama pengolahan mineral dan metal Indonesia-Swiss yang dilakukan pada Juni 2026 oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani bersama Guy Parmelin.
Berita Terkait
Lingkup pelatihan dan fokus sektor komoditas
Suissenegoce menaungi sekitar 215 perusahaan yang bergerak di berbagai bidang untuk menunjang kegiatan perdagangan komoditas global. Aktivitas organisasinya dibagi ke dalam tiga sektor utama yang mencerminkan spektrum komoditas yang diperdagangkan secara internasional.
Sektor pertama adalah pertanian, meliputi sereal, kopi, minyak sawit, kakao, dan kapas. Sektor kedua mencakup mineral dan logam, baik logam besi maupun nonbesi. Sementara sektor ketiga berhubungan dengan energi, mulai dari bahan bakar fosil, energi terbarukan, hingga transisi energi.
Dalam pandangan implementasi kerja sama, keberadaan Suissenegoce diposisikan sebagai rujukan kelembagaan yang telah berpengalaman dalam ekosistem perdagangan komoditas dunia. Swiss sendiri disebut sebagai salah satu pusat perdagangan komoditas terbesar dengan pengalaman, jaringan, serta SDM di bidang tersebut.
Peran Swiss dalam perdagangan komoditas global
Posisi Swiss sebagai pusat perdagangan komoditas dunia disebut berkembang sejak era Perang Dingin sekitar 1950-an. Pada periode tersebut, Swiss diyakini menguasai sepertiga atau lebih pangsa pasar perdagangan komoditas global.
Aktivitas perdagangan yang mula-mula berangkat dari sereal kemudian berkembang dari kapas dan meluas ke berbagai komoditas lain, termasuk minyak mentah, batu bara, bijih besi, tembaga, kopi, dan kakao. Meski memiliki sumber daya alam yang terbatas, Swiss berperan sebagai pihak ketiga yang membeli komoditas dari negara pengekspor untuk kemudian menjualnya langsung ke negara ketiga.
Skema tersebut membuat komoditas yang diperdagangkan tidak masuk ke pasar domestik Swiss. Kekuatan sebagai pusat perdagangan komoditas dunia juga disebut ditopang oleh lembaga perbankan dan sistem perpajakan yang menyediakan layanan pembiayaan jangka pendek serta memudahkan perusahaan dalam menjalankan transaksi perdagangan komoditas.
Dengan demikian, kerja sama pendidikan dan pelatihan KADIN Indonesia bersama Suissenegoce diposisikan sebagai upaya meningkatkan kompetensi pelaku usaha Indonesia. Harapannya, SDM yang terlatih dapat memahami praktik perdagangan komoditas global sehingga Indonesia tidak hanya berada pada peran produsen, tetapi juga mampu menjadi pemain yang lebih berpengaruh di pasar internasional.












