jurnalistik.co.id – CEO Aldi di Inggris, Giles Hurley, menuduh sebagian jaringan supermarket lain “dupe” pelanggan melalui skema diskon loyalitas yang, menurutnya, dibangun dari harga awal yang “unrealistically high prices”.
Dalam komentarnya, Hurley menyatakan diskon seharusnya membantu konsumen “when they’re real and when they show realistic reductions”. Namun, ia menyoroti diskon yang menurutnya hanya terlihat menarik di label, tetapi mengaburkan nilai pengurangan sebenarnya bagi pembeli.
Ia menilai promosi semacam itu “dupe customers” karena penetapan harga awal dibuat terlalu tinggi, lalu turun pada tingkat yang tidak kompetitif ketika harga promosi akhirnya berlaku. Hurley mengatakan model tersebut tidak sejalan dengan prinsip transparansi yang memudahkan orang untuk merencanakan dan mengatur anggaran belanja mereka.
Dalam konteks persaingan industri ritel, Aldi disebut sebagai satu-satunya supermarket besar yang tidak menjalankan skema loyalitas. Skema seperti itu, menurut artikel BBC, sangat populer dan digunakan oleh jutaan pembeli di Inggris.
Tahun 2024, pengawas persaingan resmi Inggris memeriksa praktik penetapan harga loyalitas tersebut. Hasilnya menyatakan konsumen “almost always make a genuine saving”, sebuah temuan yang bertolak belakang dengan pandangan Hurley soal diskon yang dinilai “dupe”.
Ged Futter, mantan pembeli Asda dan konsultan ritel, menilai pernyataan Hurley lebih mirip “a distraction” dibandingkan gambaran penuh persaingan Aldi. Ia menyebut Aldi berada dalam “meteoric rise” sampai sekitar dua tahun lalu, tetapi kemudian pertumbuhannya berjalan “behind the main supermarket pack”.
Futter juga menyinggung bahwa kesenjangan harga tidak lagi setajam dulu: “The price gap isn’t as clear as it once was,” katanya. Dengan demikian, ia menggambarkan lanskap pasar yang berubah, di mana pembeli mungkin tidak lagi merasakan perbedaan harga yang sama seperti periode awal lonjakan Aldi.
Berita Terkait
Sementara itu, Aldi melaporkan penjualan naik 5% menjadi £19 miliar untuk 2025 dibanding 2024. Meski pendapatan meningkat, laba operasi justru turun sedikit pada periode yang sama, yang menurut perusahaan berkaitan dengan kenaikan biaya upah staf serta investasi pada infrastruktur dan harga.
Hurley mengatakan Aldi tetap menarik pelanggan baru di tengah persaingan ketat lintas sektor ritel. Ia menekankan klaim soal harga mingguan, dengan menyatakan: “We are the only retailer where the price of your weekly shop is actually cheaper this summer than last summer”.
Ia juga menyebut strategi Aldi berfokus pada “everyday low prices, not short-lived offers that disappear the following week”. Menurutnya, promosi boleh melengkapi harga harian yang rendah jika promosi tersebut memang bermakna, “when they’re real and when they show realistic reductions”.
Namun, bila promosi dimulai dari harga yang terlalu tinggi lalu jatuh ke harga yang “aren’t that competitive” dan “dupe customers”, Hurley mengatakan pihaknya akan memandangnya sebagai loyalitas yang tidak mendukung, kurang transparan, dan tidak membantu konsumen menyusun rencana belanja.
Perusahaan juga menyampaikan upaya pemangkasan harga. Aldi mengatakan telah menghabiskan £340 juta tahun ini untuk menurunkan harga. Di saat yang sama, perusahaan mengumumkan rencana membuka 40 toko baru pada tahun depan, sebagai bagian dari program investasi senilai £900 juta.
Selain ekspansi gerai, Aldi berencana memperluas perjanjian jangka panjang dengan pemasok di Inggris. Langkah ini terkait upaya menjaga pasokan sekaligus memastikan kelangsungan harga dalam menghadapi tekanan biaya dan dinamika rantai pasok.
Hurley juga mengaitkan isu harga dengan ketahanan pasokan pangan. Ia menyatakan kekeringan baru-baru ini dan peristiwa global telah menyingkap kerentanan dalam rantai pasok makanan. Karena itu, ia mendorong peningkatan produksi domestik sebagai prioritas strategis nasional agar Inggris lebih kecil keterpaparannya pada guncangan yang dapat mendorong harga makanan naik.












