jurnalistik.co.id – Pemerintah Skotlandia menerapkan aturan baru di supermarket yang membatasi penempatan dan promosi produk dengan kadar tinggi lemak, gula, dan garam. Aturan ini bertujuan mengurangi paparan produk “kurang sehat” di lokasi-lokasi paling menonjol di toko.
Sejumlah produk yang selama ini mudah terlihat—mulai dari minuman manis hingga makanan ringan dan produk beku—tidak lagi boleh diletakkan pada slot ujung lorong atau posisi utama lainnya. Selain pembatasan penempatan, pemerintah juga melarang berbagai jenis promo khusus untuk kategori tertentu.
Siapa yang terkena aturan
Regulasi ini berlaku untuk bisnis dengan lebih dari 50 karyawan. Pemerintah menyebut sejumlah pihak yang termasuk di dalamnya, seperti supermarket, toko di pusat kota, rumah makan, apotek, stasiun pengisian bahan bakar, hingga pusat kebun.
Dengan aturan ini, pelaku usaha tidak lagi diperbolehkan menampilkan makanan siap kemas, termasuk minuman ringan manis, makanan manisan (confectionery), biskuit, serta sereal sarapan, di lokasi yang dianggap paling “prime”. Lokasi yang dimaksud mencakup area masuk, kasir, ujung lorong, dan area antrian yang ditetapkan.
Promo dan skema multi-penawaran yang dilarang
Selain pembatasan display, pemerintah juga mencabut kesempatan promosi untuk item-item tersebut. Skema promosi seperti “three for the price of two”, “three for £10”, atau “buy five and save 20%” tidak lagi diperbolehkan.
Multi-buy offers juga dilarang, termasuk penawaran yang disertai poin loyalitas tambahan. Termasuk pula skema “beli satu gratis satu” untuk produk dengan kadar gula, lemak, atau garam tinggi—misalnya gratis satu batang cokelat dengan pembelian sebuah koran.
Namun, aturan ini tidak melarang diskon umum yang tidak berbentuk ketentuan promosi seperti di atas. Diskon seperti setengah harga, atau skema “save £1”, tetap diizinkan.
Jenis produk yang berpotensi masuk kategori pembatasan
Pembatasan ini tidak hanya menyasar satu jenis barang. Untuk produk yang kandungan gula, garam, atau lemaknya cukup tinggi, regulasi dapat berlaku pada beberapa kelompok produk berikut.
Untuk minuman, contoh yang disebut meliputi lemonade, soda, squash, chocolate milk, almond milk, ready-made coffee, kombucha, energy drinks, dan hot chocolate—khususnya minuman dengan tambahan gula. Dari sisi makanan ringan gurih, aturan dapat mencakup crisps dan tortilla chips, termasuk lentil-based crisps serta seaweed snacks, tergantung kandungannya.
Di kategori sarapan, pembatasan bisa menyasar breakfast cereals, granola, muesli, serta sereal berbahan dasar oat. Produk lain yang disebut dalam aturan juga termasuk pre-made pizzas, roast potatoes, chips, fish fingers, dan chicken nuggets.
Berita Terkait
Untuk makanan siap saji, aturan dapat mencakup ready meals, termasuk pasta, rice, atau noodles yang memiliki bahan tambahan atau isian. Contoh yang disebut adalah ravioli dan tortellini.
Kelompok confectionery juga masuk daftar kemungkinan, seperti popcorn, chocolate, chewing gum, dan sweets. Produk dingin seperti ice cream, sorbets, ice lollies, sponge cakes, custard, jelly, crumbles juga berpotensi terkena aturan, sejalan dengan kandungan gula/lemak/garamnya.
Selain itu, aturan dapat mencakup cereal bars, biscuits, scones, flapjacks, doughnuts, dan Danish pastries. Yogurt yang diberi pemanis, termasuk gaya Greek-style, probiotic, untuk anak-anak, serta drinking yoghurts, juga disebut sebagai kategori yang dapat dibatasi.
Apakah “meal deal” ikut berakhir
Meal deals dikecualikan dari regulasi ini, demikian pula penawaran “dine for two”. Meski begitu, makanan yang termasuk kategori dalam aturan tetap tidak boleh ditempatkan di lokasi yang dibatasi, seperti area pintu masuk toko, baik jika makanan itu merupakan bagian dari meal deal maupun tidak.
Dengan kata lain, pengecualian meal deal tidak otomatis berarti seluruh komponennya bebas display. Jika suatu item memenuhi kriteria gula, lemak, atau garam tinggi yang disebut dalam regulasi, maka posisi penempatannya tetap akan tunduk pada pembatasan.
Penjualan daring dan iklan di laman beranda
Retailer daring juga menghadapi pembatasan. Regulasi mencakup pelarangan mengiklankan beberapa jenis makanan pada homepage, sehingga promosi berbasis tampilan utama di kanal digital turut dibatasi.
BBC News juga menyebut bahwa pembatasan serupa telah diterapkan di Inggris dan Wales. Artinya, pendekatan ini mengikuti langkah yang sebelumnya dilakukan di wilayah lain.
Alasan kebijakan: mendorong pilihan makan lebih sehat
Pemerintah Skotlandia mengatakan aturan ini dirancang untuk mendorong pola makan yang lebih sehat. Di negara tersebut, Public Health Minister Maree Todd menyoroti bahwa dua dari tiga orang dewasa di Skotlandia mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, dengan kelompok yang tinggal di area berpendapatan paling rendah paling terdampak.
Dalam pernyataannya, Maree Todd menyatakan, “We know that promotions and prominent product placement can encourage over-consumption and impulse buying of foods with high levels of calories, fat, sugar and salt.” Ia menambahkan, “By restricting the promotion of less healthy food and drink we can make it easier for people to make healthier choices, improving health and wellbeing, and create a Scotland where everyone eats well and has a healthy weight.”
Dengan pembatasan penempatan produk dan pelarangan berbagai promo bernuansa “dorongan belanja”, pemerintah berharap konsumen dapat lebih mudah mengambil keputusan yang mendukung kesehatan jangka panjang. Kebijakan ini juga menargetkan pengurangan paparan item berkalori tinggi, lemak, gula, dan garam di titik-titik paling strategis di dalam toko maupun dalam kanal daring.












