jurnalistik.co.id – Presiden Direktur PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, menilai calon trader perlu menyiapkan pemahaman dasar sebelum terjun ke aktivitas trading di bursa berjangka komoditi. Menurutnya, kesiapan itu akan sangat menentukan cara seseorang mengambil keputusan dan mengelola risiko.
Ariston menekankan bahwa ada dua hal utama yang seyogianya dipahami sejak awal. Ia menghubungkan keduanya dengan keselamatan transaksi serta kualitas eksekusi yang diterima investor ketika masuk ke produk derivatif komoditi.
Poin pertama berkaitan dengan produk dan mekanisme transaksi di bursa berjangka komoditi. “Pertama adalah trader wajib memahami terlebih dahulu produk dan mekanisme transaksi di bursa berjangka komoditi. Hal ini penting dilakukan agar trader memahami bagaimana proses mencari cuan di bursa berjangka komoditi,” ujarnya.
Dalam pandangannya, pengetahuan tentang bagaimana transaksi berjalan tidak hanya membantu trader mengikuti ritme pasar, tetapi juga memberi gambaran yang lebih jelas mengenai alur potensi keuntungan maupun kemungkinan kerugian. Dengan pemahaman itu, trader tidak sekadar mengikuti pergerakan harga, melainkan memahami kerangka kerja di baliknya.
Poin kedua adalah aspek legalitas pialang. Ariston menyatakan bahwa trader perlu memastikan apakah perusahaan pialang berizin atau tidak, karena hal tersebut berdampak pada perlakuan dana nasabah. “Kemudian mereka juga harus tahu legalitas pialang itu apakah berizin atau bukan. Ini berpengaruh ke penyimpanan karena dana (pialang berizin) disimpan di rekening terpisah,” katanya saat menyampaikan pandangan dalam Road to CNBC Indonesia Awards 2026 bertajuk “Best Futures Companies” pada Kamis (29/10/2026).
Ia menyoroti bahwa keamanan penyimpanan dana merupakan bagian yang tak boleh diabaikan. Pemisahan rekening untuk pialang berizin menjadi penentu penting karena menyangkut bagaimana dana ditempatkan dan diperlakukan selama trader menjalankan transaksi.
Ariston juga mengamati perubahan perilaku transaksi yang terjadi seiring kondisi geopolitik global yang penuh ketidakpastian. Ia menyebut, pola seperti itu membuat durasi memegang posisi cenderung lebih singkat daripada kebiasaan pada kondisi pasar yang lebih stabil.
Berita Terkait
“Jadi karena volatilitas tinggi, perubahan harga naik, jadi banyak nasabah tidak meng-hold posisi lebih lama, dalam hitungan hari mungkin,” jelas dia. Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa ketika pergerakan pasar semakin cepat, strategi yang menekankan ketahanan posisi dalam waktu panjang tidak selalu menjadi pilihan utama.
Dalam konteks produk yang paling diminati trader, Ariston menyebut aset berjangka komoditi yang saat ini banyak dikejar. Ia mengatakan, emas menjadi dominasi dengan porsi sekitar 90%, sementara sisanya dipilih untuk aktivitas lain, termasuk forex dan valuta asing.
Ia menambahkan rincian preferensi pasar yang terlihat di lapangan. “Minyak tidak tahu kenapa sedikit sekali. Kalau komoditas, mereka (trader) ke emas. Forex itu Euro-USD dan SGD-USD,” pungkasnya. Dengan demikian, komposisi pilihan trader terlihat mengarah pada instrumen yang menawarkan daya tarik tertentu, terutama emas, sementara komoditas lain seperti minyak justru tidak menunjukkan minat yang sebanding.
Pandangan Ariston ini menegaskan bahwa sebelum memulai trading, calon trader tidak cukup hanya memahami istilah produk. Trader perlu menata pengetahuan dari dua sisi sekaligus: pemahaman teknis mengenai mekanisme transaksi dan kepastian legalitas pialang yang menangani transaksi.
Ketika dua fondasi tersebut dipenuhi, trader memiliki dasar yang lebih kuat untuk menilai keputusan di tengah volatilitas tinggi. Dengan pasar yang bergerak cepat dan durasi memegang posisi yang bisa berubah, persiapan yang matang menjadi semakin relevan agar proses trading berlangsung lebih terarah.
Menurut Ariston, pembelajaran awal juga membantu calon trader menempatkan ekspektasi secara lebih realistis. Ketika mekanisme transaksi dipahami, investor dapat menilai bagaimana proses eksekusi berjalan dan apa arti setiap keputusan terhadap potensi hasil, termasuk ketika kondisi pasar berubah lebih cepat dari perkiraan.
Di sisi lain, ia menilai kepastian legalitas pialang seharusnya menjadi bagian dari penilaian sebelum transaksi dilakukan. Jika pialang berizin, dana nasabah disimpan secara terpisah, sehingga aspek pengelolaan dana tetap berada dalam kerangka yang jelas saat aktivitas trading berlangsung.












