jurnalistik.co.id – IHSG menutup perdagangan Jumat, 6 November 2026, dengan menguat 0,4% ke level 5.050,42. Pada akhir sesi, indeks berbalik arah dan tetap berada di zona hijau.
Pergerakannya sempat bergerak berlawanan sejak pembukaan. Indeks tertekan hingga menyentuh 4.925 pada pagi hari, sebelum akhirnya melakukan koreksi ke atas menjelang penutupan.
Menjelang akhir perdagangan, sentimen menguat dan IHSG melesat hingga membukukan level tertinggi hariannya di kisaran 5.050. Penguatan tersebut mengangkat indeks setelah sempat berada di jalur pelemahan sepanjang awal sesi.
Di saat yang sama, mayoritas bursa lain di Asia justru berakhir melemah dan ditutup merah. Berdasarkan data Bloomberg, indeks seperti KOSPI, NIKKEI 225, TOPIX, KOSDAQ, TAIEX, Shenzhen Comp, Straits Times, SETI, CSI 300, Hang Seng, KLCI, Shanghai Comp, Ho Chi Minh Stock, dan PSEI tercatat melemah.
Lonjakan IHSG di akhir perdagangan juga ditopang oleh dukungan fundamental Indonesia. Sentimen positif datang dari meningkatnya cadangan devisa yang, per Oktober 2026, tercatat menguat menjadi US$146,8 miliar.
Transaksi dan komposisi pergerakan saham
Aktivitas perdagangan pada sesi II turut menunjukkan dinamika yang cukup padat. Volume transaksi mencapai 47,38 miliar saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp10,32 triliun.
Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1,1 juta kali. Dari total emiten yang bergerak, sebanyak 192 saham menguat, sementara 381 saham melemah. Adapun 141 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Berita Terkait
Pendorong dari sektor tertentu
Penguatan IHSG pada penutupan hari ini dipimpin oleh saham-saham dari beberapa sektor. Saham keuangan mencatat kenaikan tertinggi dengan penguatan mencapai 1,51%.
Selain itu, saham konsumen primer juga ikut memberikan kontribusi. Sektor ini mengalami kenaikan sebesar 0,82%, yang membantu indeks bertahan dan kembali naik di penghujung perdagangan.
Dengan pergerakan yang berbalik dari titik terendah sekitar 4.925 menuju level 5.050, IHSG menunjukkan adanya dorongan beli yang muncul menjelang tutup pasar. Penutupan di 5.050,42 menjadi penanda bahwa sentimen positif berhasil mengangkat indeks setelah sempat terkoreksi di awal sesi.
Secara keseluruhan, kombinasi penguatan fundamental melalui cadangan devisa serta arus dukungan dari saham-saham berkapitalisasi besar berperan penting pada rebound di akhir perdagangan. Hasilnya, IHSG keluar sebagai salah satu yang menguat di tengah pelemahan bursa-bursa Asia lainnya.
Di sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dengan pola yang menegaskan dinamika “tekan lalu pulih”. Setelah sempat berada pada fase pelemahan sejak awal sesi dan sempat menyentuh area terendah di sekitar 4.925, indeks kemudian berangsur menguat. Menjelang berakhirnya sesi, tekanan jual berkurang dan terjadi pergeseran arah yang akhirnya membuat IHSG bertahan di zona hijau hingga penutupan.
Aktivitas pasar juga menunjukkan bahwa pelaku masih aktif menyerap informasi sepanjang sesi. Volume transaksi mencapai 47,38 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp10,32 triliun, sementara frekuensi perdagangan tercatat sekitar 1,1 juta kali. Dari sisi emiten, tercatat 192 saham menguat, 381 saham melemah, dan 141 saham lainnya tidak mengalami perubahan. Meski lebih banyak saham yang turun, penguatan yang muncul pada kelompok tertentu cukup untuk menopang pergerakan indeks.
Kenaikan IHSG pada fase penutupan relatif sejalan dengan kontribusi sektor-sektor yang tampil lebih kuat dibanding yang lain. Saham di sektor keuangan menjadi penopang utama dengan penguatan hingga 1,51%, disusul sektor konsumen primer yang naik 0,82%. Kombinasi dorongan dari kedua sektor tersebut membantu indeks yang sempat tertekan sejak pembukaan kembali naik, terutama saat memasuki periode menjelang akhir perdagangan.
Dari sisi sentimen, rebound juga mendapat dukungan dari indikator fundamental yang disebutkan dalam pembahasan hari ini. Cadangan devisa pada Oktober 2026 tercatat menguat menjadi US$146,8 miliar, yang memperkuat nada positif bagi prospek ekonomi. Saat sentimen menguat menjelang tutup pasar, IHSG pun mampu mempertahankan performa positif—bahkan ketika mayoritas bursa lain di Asia berdasarkan data Bloomberg justru berakhir melemah dan ditutup merah.












