Bisnis & Ekonomi

Langkah Agoes Projosasmito memborong saham BRMS

×

Langkah Agoes Projosasmito memborong saham BRMS

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Upaya Agoes Projosasmito Menjaga Saham BRMS - Market

jurnalistik.co.id – Agoes Projosasmito, Direktur Utama PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), belakangan ini tercatat menambah kepemilikannya di perseroan melalui pembelian saham di pasar.

Menurut informasi yang dihimpun, manajer yang juga dikenal sebagai veteran bankir investasi tersebut melakukan akumulasi sebanyak 15,16 juta lembar saham BRMS pada akhir Oktober 2026.

Langkah pembelian itu terjadi di tengah tekanan jual investor asing yang berlangsung sepanjang tahun ini, sehingga pergerakan saham emiten tambang cenderung mendapat sentimen negatif dari luar.

Di sisi valuasi, kepemilikan Agoes atas nama pribadi disebut mencapai Rp6,45 miliar, dengan rata-rata perolehan Rp425,49 per saham.

Pergerakan tersebut juga sejalan dengan kondisi sektor, ketika saham-saham terkait tambang emas kongsi grup Salim dan Nirwan Bakrie mengalami tren pelemahan.

Meski demikian, Agoes menyampaikan keyakinan bahwa kinerja BRMS dapat terus bertumbuh dalam jangka panjang.

Dalam penilaiannya, salah satu dorongan berasal dari penyelesaian kegiatan pushback di Pobaya, Palu, yang menjadi bagian dari proses operasional di lokasi tambang.

Optimisme terhadap produksi semester berikutnya

Ia menilai penyelesaian kegiatan tersebut akan berdampak pada kelanjutan produksi. “Oleh karenanya produksi emas dari lokasi tambang terbuka diharapkan dapat meningkat pada semester II-2026,” kata Agoes lewat keterangan resmi, dikutip Jumat (6/11/2026).

Dengan demikian, fokus perseroan diarahkan pada kelancaran tahap operasional yang diyakini mendukung target produksi pada paruh kedua tahun berjalan, sejalan dengan pembenahan dan penyelesaian tahapan kerja di area tambang terbuka.

Keputusan untuk memborong saham dalam rentang waktu tersebut turut mencerminkan pandangan internal yang tetap melihat potensi perbaikan fundamental BRMS, meski sentimen pasar saat itu belum sepenuhnya kondusif.

Di saat investor asing cenderung menekan dengan aksi jual, pergerakan kepemilikan oleh pihak direksi dapat menjadi sinyal bahwa manajemen memandang prospek perusahaan tidak hanya bergantung pada fluktuasi jangka pendek.

Harga rata-rata perolehan yang disebut sebesar Rp425,49 per saham juga memberikan gambaran bahwa akumulasi dilakukan pada level tertentu di tengah dinamika pergerakan saham sektor tambang emas.

Dengan kepemilikan yang valuasinya mencapai Rp6,45 miliar untuk porsi pribadi, Agoes tercatat memperbesar eksposurnya pada BRMS pada periode akhir Oktober 2026.

Langkah ini sekaligus menegaskan bahwa, menurut keterangan yang disampaikan, strategi manajemen perseroan berorientasi pada keberlanjutan operasi dan peningkatan produksi, khususnya dari lokasi tambang terbuka yang disebut diharapkan lebih meningkat pada semester II-2026.

Di tengah kondisi pasar yang cenderung fluktuatif, aksi akumulasi saham oleh direktur utama tersebut menambah gambaran bahwa manajemen memantau perkembangan perseroan secara langsung. Perubahan kepemilikan melalui transaksi di pasar juga memperlihatkan adanya upaya memperkuat posisi pribadi pada BRMS saat sentimen luar masih menekan harga.

Pernyataan mengenai penyelesaian pushback di Pobaya, Palu, dapat dibaca sebagai bagian dari tahapan kesiapan kerja di area tambang. Ketika hambatan operasional pada lokasi tersebut telah dituntaskan, perseroan berharap proses lanjutan dapat berjalan lebih konsisten, sehingga target produksi dari tambang terbuka pada semester II-2026 tetap menjadi fokus yang dikejar.

Kompasinya terlihat dari penekanan pada kesinambungan operasi setelah rangkaian pekerjaan di lokasi tambang berlanjut. Dengan produksi emas yang diharapkan meningkat pada paruh kedua tahun berjalan, manajemen mencoba menjaga momentum kinerja sekaligus merespons tantangan eksternal, seperti tekanan jual investor asing dan pelemahan yang ikut melanda saham-saham sektor tambang emas.

Lebih jauh, akumulasi 15,16 juta lembar saham pada akhir Oktober 2026 yang disertai rata-rata perolehan Rp425,49 per saham menjadi penanda bahwa pergerakan kepemilikan mengikuti dinamika harga saat itu. Nilai kepemilikan pribadi yang disebut mencapai Rp6,45 miliar turut memperkuat narasi keberlanjutan, yakni keyakinan bahwa perbaikan operasional di tambang terbuka dapat memberi dukungan pada prospek jangka panjang BRMS.