Bisnis & Ekonomi

Moody’s Turunkan Outlook BYAN di Tengah Risiko Profit Rp5 T, Haji Isam Masuk

×

Moody’s Turunkan Outlook BYAN di Tengah Risiko Profit Rp5 T, Haji Isam Masuk

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Haji Isam Masuk Saat BYAN Berpotensi Kehilangan Profit Rp5 T - Market

jurnalistik.co.id – Lembaga pemeringkat Moody’s Ratings menurunkan outlook PT Bayan Resources Tbk (BYAN) menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Keputusan ini tetap mempertahankan peringkat perusahaan pada Ba1.

Moody’s menyampaikan perubahan prospek tersebut dilakukan tak lama setelah BYAN mengumumkan pengambilalihan sekitar 30% saham perusahaan oleh Haji Isam. Namun, dalam penjelasan resminya, Moody’s menegaskan bahwa penurunan outlook tidak terkait dengan masuknya Haji Isam ke perseroan.

Menurut Moody’s, tekanan utama justru datang dari kondisi kahar (force majeure) yang dinyatakan BYAN. Force majeure itu muncul karena revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 belum disetujui.

Perubahan outlook dan alasan Moody’s

Moody’s menyatakan prospek negatif mencerminkan adanya ketidakpastian regulasi terkait alokasi kuota produksi. Ketidakpastian tersebut, dalam penilaian Moody’s, mendorong BYAN untuk menyatakan force majeure.

“Prospek negatif ini mencerminkan ketidakpastian regulasi terkait alokasi kuota produksi, yang telah mendorong BYAN untuk menyatakan force majeure . Jika tidak segera diselesaikan, ketidakpastian ini dapat menghambat produksi dan membebani kinerja keuangan,” ujar Anthony Prayugo, Assistant Vice President Moody’s Ratings dalam keterangan tertulis, Jumat (18/9/2026).

Dengan demikian, fokus Moody’s berada pada dampak operasional dan finansial yang berpotensi muncul apabila ketidakpastian kuota belum juga diselesaikan. Moody’s menempatkan risiko regulasi sebagai faktor yang dapat mengganggu kesinambungan produksi.

Lebih lanjut, Moody’s menyebut indikator kredit BYAN sebenarnya kuat. Penilaian ini antara lain didukung oleh posisi perusahaan yang masih bebas utang (debt free).

Meski indikator kredit dinilai kuat, Moody’s tetap menilai adanya risiko yang dapat membatasi kelanjutan pertumbuhan produksi perusahaan. Risiko tersebut berakar pada ketidakpastian kuota produksi akibat revisi RKAB 2026 yang belum disetujui.

Dampak terhadap profitabilitas dan potensi kehilangan laba

Dalam konteks tersebut, BYAN dipandang berpotensi mengalami penurunan kinerja ketika force majeure mulai memengaruhi aktivitas produksi. Moody’s memperkirakan BYAN bisa kehilangan EBITDA hingga US$300 juta (Rp5,32 T).

Perkiraan ini berkaitan dengan bagaimana ketidakpastian regulasi dapat menekan rencana operasional perusahaan pada periode pelaporan berikutnya. Jika produksi tidak berjalan sesuai rencana, pendapatan dan profitabilitas perusahaan berpotensi terdampak.

Moody’s juga menekankan bahwa keputusan outlook negatif bersifat respons terhadap situasi regulasi yang belum jelas, bukan terhadap perubahan kepemilikan yang terjadi di perusahaan. Dengan kata lain, pembahasan Moody’s pada dasarnya membedakan faktor regulasi dan faktor aksi korporasi.

Penurunan outlook yang diputuskan Moody’s ini tetap berada dalam kerangka peringkat Ba1. Ini menunjukkan bahwa perubahan berada pada arah prospek kredit, sementara level peringkat dasar perusahaan belum ikut berubah.

Untuk pemegang saham, perubahan outlook ini dapat menjadi sinyal agar perusahaan dan pemangku kebijakan mempercepat penyelesaian persoalan alokasi kuota produksi. Ketika ketidakpastian regulasi mereda, Moody’s menilai peluang untuk mengurangi hambatan produksi dan tekanan pada kinerja keuangan akan meningkat.

Anthony Prayugo menempatkan penyelesaian persoalan tersebut sebagai hal yang mendesak, karena apabila belum ditangani, kondisi yang tidak pasti dapat mengganggu proses produksi dan membebani kinerja keuangan. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan tertulis pada Jumat (18/9/2026).

Sementara itu, informasi mengenai masuknya Haji Isam tetap menjadi bagian dari dinamika perseroan. Namun, Moody’s menegaskan bahwa pada kesempatan ini, penilaian outlook negatif tidak ditarik dari faktor tersebut, melainkan dari adanya force majeure akibat revisi RKAB 2026 yang belum disetujui.

Dengan mempertahankan rating Ba1 dan mengubah outlook menjadi negatif, Moody’s menunjukkan kehati-hatian terhadap risiko operasional yang dapat berimbas pada profitabilitas. Pada saat yang sama, rujukan ke posisi debt free menandakan bahwa struktur kredit perusahaan tidak langsung dipandang melemah, tetapi ketidakpastian kuota produksi tetap menjadi penghambat.

Ke depan, perkembangan status persetujuan RKAB 2026 dan kepastian alokasi kuota produksi menjadi indikator yang menentukan arah prospek BYAN. Apabila ketidakpastian tersebut dapat ditutup, potensi gangguan produksi dapat berkurang dan tekanan pada kinerja keuangan juga dapat ditekan.