Bisnis & Ekonomi

Destry Damayanti: Investasi Domestik Masih Banyak Ditopang Investasi Pemerintah

×

Destry Damayanti: Investasi Domestik Masih Banyak Ditopang Investasi Pemerintah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: BI Sorot Investasi Domestik yang Masih Didominasi Pemerintah - Market

jurnalistik.co.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyoroti bahwa investasi domestik hingga saat ini masih banyak ditopang oleh investasi yang berkaitan dengan pemerintah. Pernyataan itu ia sampaikan saat Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen pada Senin (28/9/2026).

Destry menegaskan bahwa dominasi investasi pemerintah menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan arah penguatan ekonomi ke depan. Ia menyebut perlunya menjaga sekaligus terus meningkatkan kontribusi investasi pemerintah dalam mendukung perekonomian domestik.

“Investasi saat ini masih banyak didukung oleh investasi yang government related sehingga menjadi tantangan ke depan agar peran investasi pemerintah itu dapat kita terus tingkatkan,” kata Destry, dikutip Selasa (29/9/2026).

Dalam penjelasannya, pertumbuhan ekonomi yang sedang berlangsung tidak berdiri sendiri, melainkan banyak ditopang oleh pengeluaran pemerintah dan investasi. Destry menyebut, dukungan tersebut terutama datang dari konsumsi pemerintah, serta sejumlah program strategis pemerintah yang memberi dampak pada perekonomian di dalam negeri.

Ia juga menyatakan bahwa kondisi pertumbuhan ekonomi domestik sejatinya tetap terjaga baik. Destry merujuk pada capaian pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 yang tumbuh 5,29%.

Selain itu, ia menilai kinerja pada periode lebih panjang juga menunjukkan penguatan, dengan pertumbuhan secara kumulatif pada semester I-2026 mencapai sekitar 5,45%. Dengan angka tersebut, Destry menggambarkan bahwa arah pertumbuhan masih bisa dipertahankan melalui kombinasi dorongan dari belanja dan program pemerintah.

Tantangan penguatan investasi pemerintah

Destry menempatkan “investasi yang government related” sebagai faktor yang masih dominan dalam menopang investasi domestik. Menurutnya, kondisi tersebut sekaligus menciptakan tantangan ke depan, khususnya dalam memastikan peran investasi pemerintah bisa terus ditingkatkan secara berkelanjutan.

Ia tidak memisahkan dukungan investasi dari konteks pengeluaran pemerintah dan investasi yang lebih luas. Penguatan yang terjadi, dalam pandangannya, muncul karena keterkaitan antara kebijakan pemerintah, pembiayaan program strategis, hingga alur dampak yang akhirnya kembali menyentuh aktivitas ekonomi di dalam negeri.

Poin penting lainnya adalah bagaimana belanja pemerintah dan investasi yang terkait kebijakan tersebut berkontribusi pada jalannya perekonomian. Destry menekankan bahwa konsumsi pemerintah menjadi salah satu komponen yang ikut memperkuat pertumbuhan.

Dalam konteks RDG, Destry menyampaikan pandangan tersebut setelah sebelumnya melakukan konferensi pers RDG di Gedung Bank Indonesia pada Rabu (23/9/2026). Setelah itu, ia melanjutkan penjelasan dalam agenda Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI pada Senin (28/9/2026).

Konsumsi rumah tangga sebagai key driver

Di tengah peran investasi dan pengeluaran pemerintah, Destry juga menempatkan konsumsi rumah tangga sebagai penopang yang menentukan. Ia menyebut bahwa konsumsi rumah tangga masih menjadi salah satu pendorong utama bagi pertumbuhan ekonomi.

“Konsumsi rumah tangga masih tetap menjadi salah satu key driver dalam pertumbuhan ekonomi kita,” ujar Destry sembari menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi domestik sejatinya tetap terjaga baik.

Pernyataan itu melengkapi gambaran Destry mengenai sumber-sumber penguatan pertumbuhan. Dengan menyebut kombinasi antara konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, serta program strategis, Destry menegaskan adanya keterhubungan antar-komponen dalam memengaruhi dinamika ekonomi.

Melalui penekanan tersebut, Destry juga memperjelas arah perhatian BI terhadap faktor-faktor yang menopang investasi domestik. Dominasi investasi yang berkaitan dengan pemerintah menjadi bagian dari pengamatan, sekaligus alasan mengapa ia menyebut kondisi itu sebagai tantangan ke depan.

Dengan rujukan pertumbuhan 5,29% pada kuartal II-2026 dan sekitar 5,45% untuk semester I-2026, Destry menempatkan pencapaian angka sebagai indikator bahwa dorongan kebijakan dan aktivitas ekonomi domestik masih berjalan. Ia kemudian mengarahkan perhatian pada kebutuhan peningkatan peran investasi pemerintah agar dukungan yang terbentuk dapat terus diperkuat dalam fase selanjutnya.