Bisnis & Ekonomi

Kurs Rupiah Tembus Rp18.000 per US$ di Pasar Spot

×

Kurs Rupiah Tembus Rp18.000 per US$ di Pasar Spot

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Sentuh Rp18.000/US$ - Market

jurnalistik.co.id – Jakarta mencatat pelemahan rupiah yang akhirnya menembus ambang psikologis Rp18.000 per US$ di pasar spot pada Selasa (29/9/2026) sekitar pukul 10:15 WIB.

Pergerakan ini terjadi saat tekanan dari luar negeri terus bertahan, sekaligus memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi kenaikan inflasi. Sentimen tersebut menguat seiring harga minyak yang bergerak lebih tinggi.

Salah satu faktor yang disebut menjadi pemberat adalah minyak mentah Brent yang kembali bertahan di atas level US$106 per barel. Kenaikan energi dipandang dapat mendorong biaya dan memperkuat kekhawatiran terhadap tekanan harga di dalam negeri.

Di sisi lain, harga minyak yang tinggi juga berpotensi memperbesar kebutuhan devisa. Peluang kebutuhan pembiayaan untuk impor minyak serta produk turunannya disebut ikut menjadi alasan mengapa rupiah berada di bawah tekanan.

Tekanan eksternal tak berdiri sendiri. Pasar juga meningkatkan ekspektasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), yang pada akhirnya membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik bagi investor.

Penguatan sentimen dolar terlihat dari pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield US Treasury tenor 10 tahun tercatat naik hingga 5,24%, sehingga aliran dana menjadi lebih condong ke instrumen berdenominasi dolar.

Rambatan dari pasar obligasi AS kemudian terlihat merembet ke pasar obligasi domestik. Yield surat utang negara (SUN) tenor 5 tahun naik menjadi 7,06%, sementara tenor 10 tahun naik sebesar 4,2 basis poin menjadi 7,14%.

Namun, persoalan pada rupiah tidak hanya bersumber dari faktor eksternal. Dari dalam negeri, pasar menghadapi kombinasi beberapa kekuatan sekaligus yang membuat mata uang sulit memperoleh ruang penguatan.

Di antaranya adalah ekspektasi inflasi yang meningkat, prospek neraca perdagangan yang semakin tipis, serta kekhawatiran terkait kebutuhan pembiayaan fiskal. Kekhawatiran ini muncul di tengah kondisi yield global yang berada pada level tinggi.

Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar menilai tekanan terhadap rupiah kali ini bersifat menyeluruh, karena menggabungkan dorongan dari faktor global dan tekanan dari dinamika domestik. Imbal hasil global yang tinggi ikut memengaruhi preferensi investor, termasuk dalam menilai kebutuhan pendanaan di dalam negeri.

Sementara itu, perhatian juga tertuju pada rencana kebijakan yang akan dijalankan otoritas moneter. Disebutkan bahwa Bank Indonesia akan meluncurkan Rupiah Digital, yakni stablecoin Indonesia.

Secara keseluruhan, tembusnya Rp18.000 per US$ di pasar spot diposisikan sebagai hasil dari persilangan beberapa variabel: minyak mentah yang bertahan di atas US$106 per barel, ekspektasi perubahan kebijakan The Fed, pergerakan yield obligasi AS, serta tekanan domestik terkait inflasi, perdagangan, dan kebutuhan pembiayaan fiskal.

Dalam situasi seperti ini, pelemahan rupiah tidak hanya dibaca sebagai reaksi sesaat di pasar valuta, melainkan juga sebagai sinyal bahwa biaya ekonomi dapat merembet dari sektor energi ke variabel lain. Ketika harga minyak tetap tinggi, pelaku pasar cenderung memperhitungkan konsekuensi pada harga barang dan kebutuhan impor, sehingga biaya yang harus dibiayai dari devisa menjadi semakin besar.

Di saat yang sama, perubahan preferensi investor juga ikut membentuk arah kurs. Kenaikan imbal hasil di pasar surat utang Amerika Serikat membuat instrumen yang berbasis dolar dipandang menawarkan imbal hasil lebih menarik. Dampaknya tidak berhenti di luar negeri, karena penyesuaian arus dana kemudian turut tercermin pada pergerakan imbal hasil obligasi domestik, yang pada akhirnya menambah tekanan terhadap rupiah.

Dari dalam negeri, kombinasi ekspektasi inflasi, prospek neraca perdagangan yang cenderung menipis, dan kekhawatiran mengenai kebutuhan pendanaan fiskal mempersempit ruang bagi rupiah untuk bergerak stabil. Perhatian pasar selanjutnya juga tertuju pada rencana otoritas moneter, termasuk langkah Bank Indonesia meluncurkan Rupiah Digital sebagai stablecoin Indonesia, yang menunjukkan upaya penataan instrumen pembayaran di tengah dinamika pasar.