jurnalistik.co.id – Erupsi Gunung Anak Krakatau yang mulai terjadi pada Jumat (4/9/2026) diperkirakan memberi tekanan pada kinerja ekonomi Indonesia pada Kuartal III-2026, terutama karena gangguan aktivitas lintas wilayah dan mobilitas masyarakat.
Menurut Syafruddin Karimi, ekonom dari Universitas Andalas, dampak awal abu vulkanik dari letusan tersebut sudah menimbulkan konsekuensi nyata di lapangan. Abu vulkanik disebut berimbas pada 3 kabupaten dan 15 kecamatan di Banten serta Lampung.
Dalam penilaiannya, gangguan tidak hanya berhenti pada wilayah terdampak secara langsung, tetapi juga merambat ke rantai aktivitas ekonomi lain yang terkait dengan penerbangan dan pergerakan barang. Letusan tersebut juga menyebabkan penutupan sementara operasional tujuh bandar udara.
Rute penerbangan ikut terganggu
Syafruddin menyoroti bahwa saluran mobilitas udara adalah salah satu yang paling cepat merasakan imbas ketika abu vulkanik mengganggu keselamatan penerbangan. Pada Senin (7/9/2026), skala dampak awal sudah menunjukkan angka yang cukup besar, yakni 2.961 penerbangan terdampak.
Di waktu yang sama, sekitar 341 ribu penumpang mengalami gangguan akibat kondisi tersebut. Angka ini, menurut ekonom, menunjukkan bahwa gangguan operasional tidak bersifat parsial, melainkan memengaruhi volume perjalanan dalam waktu dekat.
“Terutama melalui penerbangan, pariwisata, logistik, perdagangan, dan jasa perkotaan,” kata Syafrudin kepada Bloomberg Technoz, Selasa (8/9/2026).
Dengan gangguan yang terjadi pada sektor penerbangan, efek lanjutannya berpotensi menimpa sektor turunan yang bergantung pada ketepatan jadwal dan ketersediaan rute. Pariwisata, misalnya, cenderung terdampak melalui perubahan rencana perjalanan, sementara logistik menghadapi hambatan dalam distribusi dan pergerakan barang.
Tak hanya itu, Syafruddin juga mengaitkan dampak dengan perdagangan dan jasa perkotaan yang biasanya menerima aliran permintaan yang lebih stabil ketika mobilitas berjalan normal. Dalam kondisi gangguan, aktivitas yang mengandalkan pergerakan orang maupun distribusi dapat mengalami penurunan intensitas.
Berita Terkait
Dampak ke pertumbuhan masih bisa dibatasi
Meski demikian, Syafruddin menyatakan bahwa dampak terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional kemungkinan tetap terbatas bila normalisasi berlangsung cepat. Artinya, besarnya tekanan pada pertumbuhan sangat terkait dengan seberapa cepat penerbangan dan aktivitas terkait kembali pulih.
Jika pemulihan terjadi dalam waktu yang relatif singkat, pemotongan aktivitas pada Kuartal III-2026 berpotensi tidak melebar menjadi gangguan berkepanjangan. Sebaliknya, bila gangguan berlangsung lebih lama, peluang perluasan dampak ke sektor-sektor ekonomi lain akan semakin besar.
Berdasarkan keterangan tersebut, penilaian pada kuartal berjalan pada dasarnya berangkat dari kombinasi: luas wilayah terdampak, besarnya gangguan operasional bandar udara, serta indikator gangguan penerbangan dan penumpang pada tanggal-tanggal awal kejadian.
Dengan adanya penutupan sementara tujuh bandar udara dan angka 2.961 penerbangan terdampak, tekanan pada kegiatan ekonomi dapat muncul lebih cepat dibanding sektor lain yang membutuhkan penyesuaian waktu lebih panjang. Namun, proyeksi dampak tetap bergantung pada kecepatan kembali normalnya sistem transportasi dan mobilitas masyarakat.
Ke depan, pemantauan terhadap perkembangan kondisi letusan dan respons operasional penerbangan menjadi penentu penting bagi arah pertumbuhan Kuartal III-2026. Apabila normalisasi berjalan sesuai harapan, dampak yang semula muncul di awal kejadian dapat dipersempit, sehingga gangguan terhadap perekonomian nasional tidak berkembang menjadi kontraksi yang lebih luas.
Karimi juga menekankan bahwa perubahan kondisi di bandar udara dan penyesuaian rute biasanya memicu “efek jeda” pada aktivitas ekonomi. Ketika penerbangan terganggu, jadwal perjalanan dan ketersediaan waktu tempuh ikut bergeser, sehingga pelaku usaha perlu melakukan penjadwalan ulang untuk menyesuaikan arus orang serta pengiriman barang.
Besaran gangguan yang terlihat pada hari-hari awal kejadian menjadi salah satu petunjuk untuk membaca arah tekanan terhadap Kuartal III-2026. Di sisi lain, pemulihan tidak hanya diukur dari berapa penerbangan yang kembali normal, tetapi juga dari berapa banyak penumpang yang kembali dapat melakukan perjalanan dalam pola pergerakan yang lebih teratur.
Dengan kondisi tersebut, penilaian awal terhadap dampak ekonomi pada kuartal berjalan pada dasarnya menempatkan erupsi sebagai pemicu gangguan mobilitas, lalu menghubungkannya ke sektor-sektor yang bergantung pada ketepatan jadwal. Karena itu, perkembangan respons operasional penerbangan dan kecepatan normalisasi menjadi faktor penentu apakah tekanan yang semula muncul di tahap awal akan tetap terkendali atau merambat lebih luas.












