Bisnis & Ekonomi

IHSG Dibuka Melemah, Level 6.030 Jadi Acuan Awal Perdagangan

×

IHSG Dibuka Melemah, Level 6.030 Jadi Acuan Awal Perdagangan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: IHSG Dibuka Melemah Pagi Ini, Tembus 6.030 - Market

jurnalistik.co.id – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pagi ini, Selasa (29/9/2026), dibuka dengan kecenderungan melemah. Hingga pukul 9.20 WIB, indeks kehilangan 116 poin atau setara dengan penurunan 1,91% menuju level 6.030.

Pergerakan pada fase awal sesi memperlihatkan dominasi saham yang terkoreksi. Dari data BEI setelah dua puluh menit perdagangan, tercatat 591 saham melemah, sedangkan 74 saham menguat.

Di sisi lain, 91 saham lainnya tidak mengalami perubahan. Komposisi ini menggambarkan tekanan jual yang masih lebih kuat dibanding dorongan beli.

Dari sisi aktivitas, volume perdagangan mencapai 9,74 miliar saham. Nilai transaksi tercatat sebesar Rp2,84 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 384.403 kali.

Memantau dinamika pergerakan, IHSG diperkirakan melanjutkan tekanan jual di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. Rupiah tercatat berada di kisaran Rp17.992/US$, dan pergerakannya mendekati level psikologis Rp18.000/US$.

BRI Danareksa Sekuritas menilai pelemahan ini turut dipicu sejumlah faktor eksternal yang saling menguatkan. Kenaikan yield US Treasury menjadi salah satu pendorong, bersamaan dengan penguatan dolar AS.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik juga disebut berperan dalam menjaga harga energi tetap tinggi. Kondisi tersebut cenderung membuat sentimen pasar berhati-hati, khususnya pada instrumen yang sensitif terhadap dinamika biaya dan risiko global.

Pada saat yang sama, fokus pelaku pasar juga tertuju pada proses penyesuaian terhadap kebijakan BEI. Dalam laporan tersebut, disebutkan bahwa BEI menurunkan batas harga minimum saham menjadi Rp1, sehingga pasar tengah beradaptasi dengan aturan baru.

Dengan kombinasi pelemahan rupiah, penguatan dolar, serta tekanan dari imbal hasil obligasi AS, pergerakan IHSG pada sesi awal tampak masih dibayangi sentimen negatif. Meski demikian, aktivitas perdagangan yang tinggi menunjukkan pasar tetap aktif memantau peluang pergerakan berikutnya.

Sejauh awal perdagangan, struktur pergerakan memperlihatkan bahwa kenaikan masih menjadi minoritas dibanding penurunan. Data yang mencakup frekuensi transaksi, volume, dan komposisi saham yang melemah memberi sinyal bahwa kontrol arah pasar masih berada pada pihak penjual.

Pelaku pasar kemungkinan akan terus menilai kelanjutan arus transaksi serta respons terhadap faktor eksternal. Di saat yang sama, proses adaptasi terhadap ketentuan batas harga minimum diharapkan turut memengaruhi cara harga saham terbentuk pada sesi-sesi berikutnya.

Melihat gambaran tersebut, pelaku pasar tampak memprioritaskan penilaian terhadap arah pergerakan harga dibanding mengejar kenaikan cepat. Rasio saham yang melemah dibanding yang menguat menunjukkan keseimbangan kekuatan masih condong ke penjual, sementara kelompok yang tidak berubah ikut menandakan bahwa pembeli belum cukup agresif untuk mengubah tren.

Besarnya aktivitas transaksi juga mencerminkan bahwa koreksi yang terjadi tidak berlangsung pasif. Volume sebesar 9,74 miliar saham, nilai transaksi sekitar Rp2,84 triliun, serta frekuensi perdagangan yang mencapai 384.403 kali menandakan pasar terus melakukan penyesuaian posisi di sepanjang fase awal. Dengan kata lain, meski indeks bergerak melemah, aktivitas tetap ramai sehingga sinyal arah berikutnya akan ditentukan oleh kelanjutan arus transaksi.

Dari sisi sentimen, pelemahan IHSG pada sesi pagi ini berkaitan dengan tekanan dari faktor eksternal yang saling terhubung. Rupiah yang berada di sekitar Rp17.992/US$ dan pergerakannya yang mendekati level Rp18.000/US$ memperkuat kehati-hatian pelaku pasar, sementara penguatan dolar AS serta kenaikan yield US Treasury disebut menjadi pendorong tambahan. Di saat yang sama, ketidakpastian geopolitik dinilai turut menjaga harga energi tetap tinggi, sehingga pasar cenderung mempertimbangkan dampaknya pada biaya dan risiko global.

Selain faktor makro, perhatian pasar juga tertuju pada penyesuaian terhadap kebijakan BEI yang menurunkan batas harga minimum saham menjadi Rp1. Perubahan aturan tersebut dapat memengaruhi cara pelaku membentuk harga, karena ruang penetapan harga menjadi lebih lebar dibanding sebelumnya. Karena itu, pergerakan sesi-sesi berikutnya diperkirakan akan sangat dipengaruhi respons pasar terhadap ketentuan baru, termasuk bagaimana pembeli dan penjual merespons transaksi pada rentang harga yang lebih fleksibel.