jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,51% pada perdagangan Senin (28/9/2026), berada di 6.147,85.
Pergerakan indeks sepanjang sesi memperlihatkan dinamika yang cukup tajam, dengan IHSG sempat berada di rentang 6.227,89 hingga menyentuh titik terendah 6.140,34.
Dari sisi komposisi pergerakan saham, sebanyak 532 saham terkoreksi. Di saat yang sama, 180 saham tercatat menguat, sedangkan 81 saham lainnya bergerak stagnan.
Tekanan jual tampak lebih dominan sejak awal hingga akhir perdagangan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp12,58 triliun, dengan volume yang ditransaksikan sekitar 37,37 miliar saham melalui 1,65 juta kali frekuensi transaksi.
Pada penutupan, saham-saham besar menjadi faktor yang memberi beban pada indeks. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), hingga PT Bayan Resources Tbk (BYAN) disebut sebagai pemberat IHSG.
Selain faktor kontribusi saham-saham tertentu, pelemahan juga terlihat dari kinerja beberapa kelompok emiten. Saham teknologi, saham barang baku, serta saham konsumen non primer tercatat menjadi pendorong tren negatif dengan penurunan masing-masing 4,45%, 3,33%, dan 3,03%.
Minyak menguat, rupiah melemah
Phintraco Sekuritas menilai pelemahan hingga lebih dari 1% pada perdagangan Senin (28/9/2026) dipicu oleh meningkatnya kembali harga minyak mentah.
Menurut penilaian yang sama, koreksi IHSG juga berkaitan dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang berada di kisaran mendekati Rp18.000/US$.
Berita Terkait
Dengan kondisi tersebut, sentimen pasar cenderung lebih berhati-hati karena pergerakan komoditas dan mata uang biasanya ikut memengaruhi ekspektasi pelaku pasar terhadap biaya maupun arus transaksi di periode berjalan.
Meski perdagangan berakhir pada titik terlemah harian yang masih berada pada area kisaran rendah, data rentang pergerakan menunjukkan bahwa pasar sempat mencoba menahan laju pelemahan. Namun, tekanan jual tetap terlihat mengungguli dorongan beli sehingga indeks kembali terkonsolidasi di bawah level penutupan sebelumnya.
Kompleksitas tersebut juga tercermin dari komposisi saham yang bergerak, di mana jumlah emiten yang melemah jauh lebih besar dibanding yang menguat, sementara sebagian lainnya bertahan di posisi yang sama.
Secara keseluruhan, penutupan Senin (28/9/2026) memperlihatkan kombinasi pemberat dari saham-saham tertentu, koreksi pada beberapa sektor yang lebih sensitif, serta pengaruh lanjutan dari arah harga minyak mentah dan kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Pergerakan IHSG yang mencatat penurunan 1,51% ke 6.147,85 menjadi sinyal bahwa pasar masih berada dalam fase selektif. Fokus investor pada waktu yang sama terlihat mengarah pada respons terhadap faktor eksternal, terutama ketika rupiah mendekati level Rp18.000/US$ dan harga minyak kembali menunjukkan kenaikan.
Pelaku pasar terlihat menimbang ulang posisi karena arah pergerakan ditandai oleh fase naik-turun di tengah sesi. Saat indeks sempat mendekati area bawah harian, minat beli belum mampu membalik kecenderungan, sehingga tren negatif tetap lebih terjaga.
Gambaran dari komposisi pergerakan juga menguatkan kesan selektivitas. Emiten yang terkoreksi jumlahnya jauh melampaui yang menguat, sementara sisanya bergerak stagnan, menandakan ketidakseimbangan sentimen di level saham individual.
Di sisi lain, aktivitas perdagangan tetap ramai dengan nilai transaksi sekitar Rp12,58 triliun, volume kurang lebih 37,37 miliar saham, serta frekuensi 1,65 juta kali. Kondisi ini menunjukkan adanya respons cepat pelaku pasar, tetapi dominasi tekanan jual membuat indeks sulit kembali ke area penutupan sebelumnya.
Penurunan juga tercermin pada pergerakan beberapa kelompok emiten, terutama saham teknologi, saham barang baku, dan saham konsumen non primer yang masing-masing turun 4,45%, 3,33%, dan 3,03%. Pelemahan pada beberapa sektor ini menambah beban terhadap laju indeks.
Secara total, penutupan Senin memperlihatkan kombinasi faktor dari dua sisi: pergerakan komoditas yang mendorong menguatnya minyak mentah serta pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp18.000/US$. Dengan pengaruh tersebut, pasar cenderung lebih berhati-hati dan mempertahankan pola selektif dalam menyikapi katalis eksternal.












