Bisnis & Ekonomi

BEI Pastikan Pencabutan Batas Bawah Saham Gocap Rp50 Bukan Pemicu Negatif IHSG

×

BEI Pastikan Pencabutan Batas Bawah Saham Gocap Rp50 Bukan Pemicu Negatif IHSG

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Tanggapan Bos BEI Soal IHSG Lanjut Melemah Usai Lepas Saham Gocap - Market

jurnalistik.co.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) menepis kekhawatiran bahwa penghapusan batas bawah harga saham gocap di level Rp50 akan menjadi katalis negatif bagi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini.

Pernyataan tersebut disampaikan Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik. Menurutnya, rencana pencabutan batas bawah harga saham Rp50 tidak otomatis memengaruhi sentimen pasar secara merugikan.

Jeffrey menilai, saham-saham yang sebelumnya bertahan di harga Rp50 memiliki bobot yang relatif kecil terhadap IHSG sebagai indeks komposit. Dengan demikian, perubahan ketentuan batas bawah tersebut tidak cukup besar untuk mendorong dampak negatif yang dominan ke arah indeks.

“Bobot dari saham-saham yang sudah lama di harga Rp50 itu terhadap IHSG tidak terlalu besar,” kata Jeffrey kepada awak media, Jakarta, pada Senin (28/9/2026).

Selain pertimbangan bobot terhadap indeks, BEI juga melihat respon pelaku pasar terhadap penghapusan batas bawah harga gocap cenderung positif. Jeffrey menyebut, pelaku pasar relatif menyambut baik rencana penghapusan batas bawah harga saham gocap yang sebelumnya telah ditargetkan.

Dalam penilaiannya, pergerakan IHSG yang belakangan mengalami koreksi bukan semata-mata dipicu oleh isu batas bawah saham gocap. Jeffrey menegaskan koreksi indeks terjadi karena adanya faktor yang beragam.

Jeffrey mengaitkan kondisi tersebut dengan situasi ekonomi global yang masih volatil. Kondisi yang dinamis di luar negeri, menurutnya, turut membentuk arah sentimen dan aktivitas pasar sehingga tekanan terhadap IHSG bisa muncul meskipun tidak terkait langsung dengan aturan batas bawah harga Rp50.

Dengan kerangka pikir itu, BEI memposisikan pencabutan batas bawah harga gocap sebagai kebijakan yang tidak serta-merta menjadi pemicu risiko bagi IHSG pada sesi saat ini. Sementara itu, pengaruh faktor eksternal dan berbagai dinamika lain dinilai lebih relevan untuk menjelaskan pelemahan indeks yang sempat terjadi.

Penegasan BEI ini sekaligus menjadi panduan bagi pelaku pasar dalam membaca arah pergerakan indeks. Pasar, kata Jeffrey, telah bereaksi terhadap rencana penghapusan batas bawah harga gocap dengan cara yang cenderung diterima, sehingga fokus pemantauan pergerakan IHSG dapat diarahkan pada faktor-faktor lain yang lebih menentukan.

Secara keseluruhan, BEI menutup ruang narasi bahwa pencabutan batas bawah saham Rp50 adalah “pemicu negatif” bagi IHSG hari ini. Jeffrey Hendrik menempatkan dampak kebijakan pada perhitungan bobot saham dan menekankan bahwa koreksi indeks dipengaruhi kombinasi beragam faktor di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Jeffrey juga memandang rencana pencabutan batas bawah harga saham gocap sebagai perubahan aturan yang dampaknya lebih bersifat teknis pada ruang pergerakan harga, bukan otomatis mengubah arah indeks secara langsung. Menurutnya, pengaruh kebijakan semacam itu perlu dilihat dalam konteks struktur komposisi emiten di IHSG.

Selain itu, perhatian pasar yang menguat pada langkah tersebut dinilai tidak berhenti pada angka batas harga. Reaksi yang relatif diterima mencerminkan ekspektasi pelaku pasar terhadap kelancaran aktivitas perdagangan, sehingga sentimen yang terbentuk lebih cenderung menambah keyakinan daripada memicu kepanikan.

Untuk IHSG, BEI menekankan bahwa penilaian menyeluruh lebih penting daripada menarik kesimpulan dari satu variabel. Koreksi yang terjadi, pada pandangan Jeffrey, lebih tepat dipahami sebagai hasil interaksi berbagai informasi yang berkembang, termasuk kondisi di luar negeri yang memengaruhi arus transaksi.

Dengan demikian, ketika pelaku pasar mengevaluasi pergerakan indeks, BEI mendorong agar analisis tidak terjebak pada narasi tunggal terkait batas bawah saham Rp50. Pemantauan dapat diarahkan pada sejumlah dinamika lain yang saat ini dinilai lebih dominan dalam membentuk arah IHSG.