Bisnis & Ekonomi

IHSG Melonjak 1,96% usai ekonomi RI mencatat pertumbuhan di atas ekspektasi – Market

×

IHSG Melonjak 1,96% usai ekonomi RI mencatat pertumbuhan di atas ekspektasi – Market

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: IHSG Melesat 1,96% Usai Ekonomi RI Tumbuh di Atas Ekspektasi - Market

jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tajam pada penutupan Sesi I Kamis (5/11/2026), naik 1,96% ke level 5.016. Pergerakan ini mengindikasikan pasar sedang merespons positif data makro yang lebih kuat dari perkiraan.

Penguatan IHSG pada awal perdagangan itu ditopang sentimen pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 yang tercatat mencapai 5,47%. Angka tersebut disebut berada di atas ekspektasi pasar serta konsensus Bloomberg.

Selain IHSG, indeks LQ45 juga ikut bergerak searah. LQ45 terapresiasi 2,37% ke level 513,14, menandakan minat beli juga menyentuh saham-saham berkapitalisasi besar.

Dari sisi nilai tukar, rupiah menguat 0,39% hingga menembus level Rp18.095/US$ pada pukul 12:40 WIB. Menguatnya mata uang domestik turut menjadi latar yang mendukung pergerakan positif di lantai bursa.

Berdasarkan data BEI, aktivitas perdagangan pada hari tersebut mencapai total transaksi Rp6,02 triliun. Volume transaksi tercatat sebanyak 14,89 miliar saham, dengan frekuensi perdagangan sebanyak 827 ribu kali.

Sepanjang pagi hingga siang, IHSG terus berada di zona hijau dengan rentang pergerakan di level 4.995 sampai dengan tertinggi 5.072. Pada titik tersebut, komposisi pergerakan saham memperlihatkan dominasi emiten yang menguat.

Tercatat ada 431 saham mengalami penguatan, sementara 189 saham terkoreksi. Sisanya, 94 saham bergerak stagnan, menggambarkan bahwa laju kenaikan masih lebih luas dibanding pelemahan.

Adapun kelompok saham yang menjadi penggerak utama adalah saham barang baku, saham konsumen primer, dan saham perindustrian. Masing-masing kelompok mencatat kenaikan sebesar 4,17%, 1,93%, dan 1,51%, yang membantu menjaga IHSG tetap melaju di paruh waktu pertama perdagangan.

Secara keseluruhan, penguatan IHSG pada Sesi I terlihat selaras dengan respons pasar terhadap kinerja ekonomi kuartal III-2026 yang melampaui ekspektasi. Kombinasi data pertumbuhan 5,47%, penguatan LQ45 sebesar 2,37%, serta rupiah yang naik ke Rp18.095/US$ memperkuat sentimen saat sesi berjalan.

Di sepanjang Sesi I, arah pergerakan IHSG yang konsisten ke wilayah lebih tinggi memberi sinyal bahwa pelaku pasar cenderung mengejar momentum positif, bukan sekadar melakukan perburuan sesaat. Kenaikan yang mencapai 1,96% pada penutupan Sesi I juga memperlihatkan bahwa dorongan beli bertahan hingga akhir periode pengamatan.

Kondisi itu semakin terasa karena penguatan tidak hanya muncul pada satu indikator. Saat LQ45 ikut naik 2,37% ke 513,14, gambaran yang terbaca adalah minat terhadap saham-saham besar tetap terjaga. Dengan kata lain, kenaikan IHSG pada fase awal perdagangan mendapat dukungan dari segmen berkapitalisasi besar yang ikut mengangkat sentimen.

Faktor nilai tukar turut memperkuat narasi pasar pada jam-jam awal. Rupiah yang menguat 0,39% hingga menembus Rp18.095/US$ pada pukul 12:40 WIB memperlihatkan adanya dukungan dari sisi mata uang domestik. Keberhasilan rupiah mempertahankan penguatan selama sesi berjalan menjadi salah satu alasan mengapa suasana di lantai bursa cenderung tetap kondusif.

Dari sisi aktivitas, data BEI menunjukkan transaksi berjalan aktif dengan total nilai mencapai Rp6,02 triliun, volume 14,89 miliar saham, serta 827 ribu kali frekuensi perdagangan. Aktivitas yang besar seperti ini biasanya mengindikasikan likuiditas yang memadai, sehingga pergerakan indeks tidak hanya didorong oleh transaksi terbatas, melainkan oleh partisipasi yang lebih luas.

Lebar penguatan juga terlihat dari komposisi pergerakan saham: 431 saham menguat, sementara 189 saham terkoreksi dan 94 saham stagnan. Selain itu, rentang pergerakan IHSG di level 4.995 hingga 5.072 memperlihatkan adanya dinamika intraday, namun kecenderungannya tetap berada pada zona hijau. Di paruh waktu awal, kelompok saham barang baku, konsumen primer, dan perindustrian menjadi penggerak utama dengan kenaikan masing-masing 4,17%, 1,93%, dan 1,51%, sehingga IHSG tetap melaju meski terjadi variasi pergerakan antar emiten.