Bisnis & Ekonomi

IHSG Merah, Investor Asing Tambah Beli BBRI Rp150 Miliar saat Perdagangan Rabu (2/9)

×

IHSG Merah, Investor Asing Tambah Beli BBRI Rp150 Miliar saat Perdagangan Rabu (2/9)

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Investor Asing Diam-diam Borong BBRI Rp150 Miliar Kala IHSG Merah - Market

jurnalistik.co.id – Rabu (2/9/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 4,17 poin atau 0,06% ke level 6.595. Meski pergerakan indeks cenderung turun, aktivitas investor asing justru menarik untuk dicermati.

Di sepanjang perdagangan, investor asing mencatat jual bersih (net sell) sebesar Rp326,61 miliar di seluruh pasar. Pada sesi pasar reguler, angkanya lebih rendah namun tetap mencerminkan kecenderungan pelepasan posisi, yakni Rp235,16 miliar.

Jual bersih investor asing menekan sebagian besar saham unggulan

Dari sisi saham, tekanan paling besar terjadi pada PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM). Investor asing membukukan net sell sebesar Rp101,84 miliar pada saham ini, sejalan dengan melemahnya TLKM sebesar 0,7% ke harga Rp2.590 per saham.

Setelah TLKM, beberapa saham juga menjadi sasaran aksi jual bersih. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mencatat net sell Rp89,99 miliar, disusul PT Astra International Tbk (ASII) sebesar Rp63,72 miliar, serta PT Petrosea Tbk (PTRO) senilai Rp58,88 miliar.

Selain itu, pelemahan juga tergambar pada saham berbasis komoditas dan sektor lain yang turut ditekan oleh arus keluar dana. PT Timah Tbk (TINS) mencatat net sell Rp53,61 miliar, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) sebesar Rp53,56 miliar, dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencapai Rp51,7 miliar.

Di kelompok berikutnya, investor asing juga melakukan net sell pada PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar Rp40,72 miliar. PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) mencatat net sell Rp33,72 miliar, sedangkan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) berada pada Rp30,23 miliar.

Di tengah IHSG merah, investor asing menambah beli BBRI

Berbeda dengan kecenderungan jual bersih di banyak saham, investor asing juga terlihat melakukan akumulasi pada sektor perbankan. Dari informasi yang sama, investor asing “diam-diam” menambah beli BBRI sekitar Rp150 miliar, dengan nilai net buy mencapai Rp155,28 miliar.

Tindakan tersebut berdampak pada pergerakan harga saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Saham BBRI menguat 0,3% dan ditutup di level Rp3.390 per saham.

Perpaduan antara jual bersih yang masih dominan dan pembelian yang terkonsentrasi pada BBRI menjadi gambaran bahwa pergerakan IHSG pada hari itu bukan sekadar refleksi satu arah. Investor asing tetap membedakan strategi antar-saham, menekan sejumlah emiten melalui net sell, sementara pada saat yang sama memperbesar posisi pada BBRI lewat net buy.

Dengan IHSG yang berakhir melemah tipis di 6.595, komposisi transaksi investor asing pada 2/9/2026 memperlihatkan adanya selektivitas. Saham-saham yang menerima net sell terbesar—mulai dari TLKM hingga DEWA—menjadi penopang utama tekanan, sementara BBRI menjadi titik penyeimbang berkat net buy Rp155,28 miliar.

Secara keseluruhan, catatan net sell Rp326,61 miliar di seluruh pasar menunjukkan bahwa sentimen global dan preferensi portofolio investor asing masih mengarah pada pengurangan kepemilikan di banyak saham. Namun, penguatan BBRI yang didorong net buy mengindikasikan bahwa di tengah kondisi IHSG merah, masih ada ruang untuk akumulasi pada emiten tertentu.

Dari komposisi arus dana tersebut, TLKM tampak menonjol sebagai sumber tekanan paling besar. Nilai net sell TLKM mencapai Rp101,84 miliar, sehingga porsi utamanya terhadap total net sell investor asing Rp326,61 miliar terlihat signifikan. Setelah TLKM, ADRO, ASII, dan PTRO juga memberi kontribusi yang cukup besar terhadap pelepasan posisi, yang kemudian berlanjut ke sejumlah saham lain seperti TINS, AMMN, dan BREN.

Sementara itu, keberadaan net buy pada BBRI menjadi penanda bahwa strategi investor asing tidak seragam di seluruh papan. Net buy BBRI sekitar Rp155,28 miliar, atau mendekati separuh dari total net sell di seluruh pasar. Perbedaan ini selaras dengan fakta bahwa BBRI justru menguat dan ditutup lebih tinggi, sehingga IHSG yang berakhir melemah tipis mencerminkan adanya tarik-menarik antara dominasi penjualan dan selektivitas akumulasi pada emiten tertentu.