jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sepanjang sepekan terakhir. Berdasarkan catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), kinerja indeks membukukan pelemahan hingga 7,03% secara point-to-point.
Pergerakan IHSG yang menurun juga terlihat dalam aktivitas perdagangan di awal pekan, termasuk pada Senin (19/10/2026). Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar biasanya menilai arah lanjutan dari akumulasi data transaksi dan arus dana yang terjadi selama beberapa hari perdagangan.
Performa IHSG dalam sepekan
Sepanjang pekan ini, IHSG mencatat penurunan yang konsisten dari awal hingga akhir periode pengamatan. Angka koreksi tersebut mencapai 7,03% (point-to-point), yang menggambarkan tekanan terhadap nilai indeks secara keseluruhan.
Meski demikian, dinamika perdagangan tetap menunjukkan adanya aktivitas yang cukup ramai. Total volume perdagangan selama pekan ini mencapai 162,14 miliar unit saham, sementara frekuensi transaksi yang terjadi berjumlah 7,71 juta kali jual-beli.
Nilai transaksi dan arus dana asing
Dari sisi nilai transaksi, pasar mencatat total sebesar Rp 71,69 triliun. Aktivitas dengan nilai sebesar itu menunjukkan bahwa meski IHSG berada dalam fase koreksi, transaksi tetap berlangsung dalam volume yang besar.
Selain itu, pergerakan dana asing turut menjadi salah satu indikator yang dicermati. Selama pekan ini investor asing melanjutkan aksi jual, dengan posisi asing mencatat net sell sebesar Rp 3,06 triliun.
Indikator valuasi IHSG
Untuk penilaian valuasi, IHSG tercatat memiliki Price-Earnings Ratio (P/E) sebesar 10,76 kali pada Jumat (30/10/2026). Di sisi lain, apabila ditinjau dari Price-Book Value (P/B), valuasi indeks berada pada level 1,32 kali.
Berita Terkait
Perpaduan antara koreksi indeks, pola arus dana asing, serta level valuasi yang terukur pada akhir periode menjadi bahan pertimbangan bagi pelaku pasar saat menilai kondisi terbaru dan kemungkinan kelanjutan pergerakan.
Saham-saham yang memberi tekanan
Sejumlah saham termasuk ke dalam jajaran top laggards pada pekan ini, dengan penurunan yang tercatat dalam besaran poin. PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengalami penurunan sebesar 26,2 poin.
Berikutnya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) terkoreksi sebesar 23,94 poin. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) turun 22,72 poin, sedangkan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) melemah 21,58 poin.
Adapun PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) mencatat penurunan sebesar 16,9 poin. Pergerakan saham-saham tersebut tercatat terjadi bersamaan dengan pelemahan IHSG selama sepekan, sehingga menjadi gambaran adanya tekanan pada beberapa emiten dalam periode berjalan.
Dengan data IHSG yang terkoreksi 7,03%, nilai transaksi Rp 71,69 triliun, volume 162,14 miliar unit saham, serta net sell asing Rp 3,06 triliun, pasar kini menunggu perkembangan lanjutan yang tercermin dari transaksi berikutnya. Catatan BEI pada periode ini dapat menjadi rujukan awal untuk melihat arah pergerakan pada perdagangan pekan berikutnya.
Penurunan IHSG hingga 7,03% dalam satu periode pengamatan membuat pelaku pasar cenderung lebih selektif dalam menentukan posisi. Meski begitu, sinyal dari aktivitas perdagangan yang tetap berjalan menunjukkan adanya upaya pencarian harga yang sesuai selama koreksi berlangsung.
Besarnya volume transaksi serta frekuensi jual-beli yang mencapai 7,71 juta kali mengindikasikan bahwa pasar tidak sepenuhnya menahan diri. Nilai transaksi total Rp 71,69 triliun juga memperlihatkan bahwa perputaran tetap terjadi, sehingga pergerakan indeks lebih mencerminkan tekanan dan penyesuaian ekspektasi secara bertahap.
Dari sisi penilaian, level P/E 10,76 kali dan P/B 1,32 kali menjadi rujukan yang kerap dipakai untuk menilai seberapa jauh koreksi telah memengaruhi valuasi. Dengan aksi jual investor asing yang tercermin melalui net sell Rp 3,06 triliun, pasar kemudian membandingkan ulang daya tarik valuasi terhadap arah arus dana yang masih berlanjut.
Tekanan pada beberapa emiten top laggards juga menjadi bagian dari gambaran koreksi pekan ini, seperti BYAN yang turun 26,2 poin, TLKM terkoreksi 23,94 poin, serta BREN dan BRPT yang masing-masing melemah 22,72 poin dan 21,58 poin. MORA yang turun 16,9 poin menambah konsistensi bahwa pelemahan tidak hanya tercermin pada indeks, tetapi juga pada saham-saham tertentu dalam periode berjalan.












