jurnalistik.co.id – Sepanjang 2026, investor asing masih mencatatkan jual bersih (net sell) yang cukup besar di pasar modal Indonesia. Nilainya tercatat mencapai Rp71,41 triliun, mengindikasikan arus modal keluar yang konsisten sepanjang tahun berjalan.
Dari sisi pergerakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ikut tertekan dan bergerak di zona merah. Hingga Senin (14/9/2026), IHSG mengalami penurunan sekitar 25% dan berada di level 6.455.
Pelemahan IHSG tidak berdiri sendiri, melainkan muncul di tengah sentimen global yang sedang memanas. Konflik di Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS) dan Iran disebut tidak menunjukkan tanda-tanda mereda, karena kedua pihak tidak menunjukkan itikad untuk mundur atau membuka ruang perundingan baru.
Ketegangan tersebut kemudian berdampak pada pasar komoditas, terutama harga minyak mentah. Sepanjang 2026, harga minyak mentah disebut melesat hingga lonjakan 80%, dengan West Texas Intermediate (WTI) berada di atas US$104 per barel.
Sementara itu, harga Brent juga mengalami penguatan dan tercatat melesat di atas US$108 untuk kesekian kalinya. Kombinasi kenaikan kedua acuan minyak ini menambah tekanan bagi pelaku pasar karena memunculkan kekhawatiran terhadap gangguan ekonomi yang lebih luas.
Dalam konteks pasar keuangan, lonjakan harga energi turut memperbesar kecemasan mengenai potensi kenaikan suku bunga acuan. Pelaku pasar menilai, dinamika tersebut dapat memicu ekspektasi pengetatan kebijakan moneter, terutama bila risiko gangguan ekonomi berlanjut.
Di tengah kondisi itu, fokus perhatian kemudian mengarah pada daftar saham-saham yang mencatat jual bersih terbesar oleh investor asing. Berikut 10 saham dengan nilai net sell bersih terbesar berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang tahun 2026.
Saham dengan Jual Bersih Terbesar
Berita Terkait
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memimpin dengan net sell sebesar Rp31,04 triliun. Setelahnya, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat net sell Rp12,63 triliun, sementara PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berada di angka Rp11 triliun.
Di urutan berikutnya, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat net sell Rp9,43 triliun. Selanjutnya, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mencatat Rp7,38 triliun, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatat Rp5,24 triliun.
Tak hanya sektor perbankan dan komoditas besar, arus jual juga terlihat pada saham lain. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mencatat net sell Rp2,94 triliun, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar Rp2,77 triliun, serta PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mencapai Rp2,03 triliun.
Penutupan daftar 10 saham dengan net sell terbesar di sepanjang 2026 diisi oleh PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dengan net sell Rp2,01 triliun. Dengan demikian, kombinasi nilai jual bersih yang terkonsentrasi pada beberapa emiten besar turut menjelaskan mengapa sentimen bearish terhadap IHSG berlanjut hingga pertengahan September.
Secara keseluruhan, periode 2026 memperlihatkan bahwa keputusan investor asing bukan semata dipengaruhi faktor internal pasar. Sentimen konflik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak mentah hingga WTI di atas US$104 dan Brent di atas US$108, serta kekhawatiran potensi kenaikan suku bunga acuan menjadi rangkaian yang saling terkait dalam membentuk arah investasi.
Besarnya net sell yang terkonsentrasi pada beberapa emiten besar juga menandai bahwa tekanan tidak tersebar merata, melainkan berfokus pada nama-nama berkapitalisasi besar. Ketika BBCA, BMRI, dan BBRI menjadi bagian utama dari arus jual, dampaknya berpotensi lebih terasa pada arah pergerakan indeks dan sentimen di sepanjang hari.
Selain itu, penguatan harga minyak tidak hanya berhenti pada sektor komoditas, tetapi ikut merembet ke persepsi biaya ekonomi dan kebijakan. Dengan WTI tetap berada di atas US$104 per barel dan Brent kembali menguat di atas US$108, pelaku pasar semakin mempertimbangkan kemungkinan pengetatan kondisi moneter, yang pada akhirnya membuat posisi investor cenderung lebih berhati-hati.
Dalam situasi seperti ini, pergerakan IHSG yang sempat terkoreksi hingga sekitar 25% dan berada di level 6.455 dapat dibaca sebagai cerminan dari kombinasi sentimen global serta keputusan investor asing yang konsisten mencatat jual bersih. Karena itu, daftar emiten berkontribusi net sell besar menjadi indikator yang relevan untuk membaca arah pasar menjelang akhir semester.












