Bisnis & Ekonomi

Mitratel (MTEL) Satukan PST dan UMT Efektif 1 Juli 2026, dorongan efisiensi serta peluang FWA dan fiberisasi

×

Mitratel (MTEL) Satukan PST dan UMT Efektif 1 Juli 2026, dorongan efisiensi serta peluang FWA dan fiberisasi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Mitratel (MTEL) Gabungkan Dua Anak Usaha, Efisiensi dan Bisnis Infrastruktur Digital Berpotensi Meningkat

jurnalistik.co.id – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (Mitratel/MTEL), anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk, resmi menggabungkan dua entitas anaknya, yakni PT Persada Sokka Tama (PST) dan PT Ultra Mandiri Telekomunikasi (UMT). Langkah korporasi ini efektif berlaku 1 Juli 2026 dan dipandang berpotensi memperkuat pertumbuhan sekaligus profitabilitas perusahaan.

Penggabungan PST dan UMT telah dipublikasikan pada 8 Mei 2026. Persetujuan regulator serta pemegang saham ditempuh melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar pada 30 Juni 2026.

Efisiensi struktur dan penguatan layanan

Manajemen Mitratel menyampaikan bahwa penggabungan kedua anak usaha ditujukan untuk menyederhanakan struktur grup sekaligus meningkatkan efisiensi serta efektivitas operasional. Integrasi ini juga diarahkan agar kemampuan MTEL dalam menyediakan layanan infrastruktur digital yang lebih terintegrasi semakin kuat.

Menurut penjelasan perseroan, sebelum digabungkan, PST dan UMT menjalankan sejumlah kegiatan usaha yang masih terkait dengan ekosistem telekomunikasi dan layanan digital. Setelah integrasi, Mitratel berpeluang memperluas jangkauan bisnisnya tidak hanya sebagai penyedia menara telekomunikasi, melainkan juga mengembangkan bisnis turunan dari ekosistem menara.

Bisnis turunan tersebut antara lain managed service Internet of Things (IoT), power service, serta berbagai solusi infrastruktur digital lainnya. Di sisi lain, Mitratel menilai langkah ini merupakan bagian dari transformasi strategis perusahaan yang sejalan dengan arah transformasi Danantara Indonesia dan Telkom Grup.

Perusahaan menargetkan terbentuknya struktur bisnis yang lebih ramping, efisien, dan agile. Dengan kerangka tersebut, Mitratel berharap dapat mengoptimalkan pemanfaatan aset, meningkatkan produktivitas operasional, serta memperkuat daya saing di tengah dinamika industri telekomunikasi.

Dari perspektif keuangan, konsolidasi dua entitas anak usaha memberi ruang untuk mempercepat pertumbuhan melalui optimalisasi sinergi, belanja operasional, dan belanja modal. Manajemen menyebut upaya ini diharapkan mampu menjaga efisiensi dan profitabilitas sekaligus mempertahankan kualitas layanan Mitratel.

Perusahaan juga melihat potensi sinergi yang signifikan, mulai dari peningkatan tenancy ratio, efisiensi biaya, hingga penguatan operating leverage. Serangkaian faktor tersebut diproyeksikan menjadi pendorong utama peningkatan profitabilitas ke depan.

Peluang dorong bisnis dengan FWA dan kebutuhan fiber

Mitratel memandang penggabungan PST dan UMT semakin memperkokoh posisi perseroan sebagai pemilik portofolio menara terbesar di Indonesia. Di saat bersamaan, perusahaan menilai masih terbuka peluang untuk meningkatkan utilisasi aset melalui kenaikan tenancy ratio secara bertahap menuju level di atas 1,6 kali dalam jangka menengah.

Hingga semester I-2026, tenancy ratio Mitratel tercatat sebesar 1,57 kali, meningkat dari 1,53 kali pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perseroan menilai kondisi itu sejalan dengan meningkatnya kebutuhan terhadap infrastruktur telekomunikasi, terutama di tengah ekspansi jaringan 5G dan layanan FWA.

Kebutuhan tersebut juga turut mendorong permintaan terhadap menara yang terintegrasi dengan konektivitas fiber. Dalam Info Memo MTEL semester I-2026, perseroan menyatakan permintaan terhadap tower yang terhubung dengan konektivitas fiber diperkirakan terus meningkat.

Menurut perseroan, peningkatan permintaan ini didorong kebutuhan operator untuk menyediakan layanan dengan latensi rendah, kapasitas tinggi, dan kualitas jaringan yang lebih andal seiring perkembangan teknologi. Perkembangan tersebut mencakup densifikasi 4G, 5G, dan FWA.

Sementara itu, Analis Mirae Asset Sekuritas Daniel Widjaja dan Wilbert Alfin menilai prospek Mitratel tetap ditopang sejumlah katalis positif. Salah satunya adalah pengembangan Fixed Wireless Access (FWA) dan fiberisasi untuk menopang ekspansi jaringan 5G operator seluler.

Dalam riset yang dikutip Senin (10/8/2026), Daniel Widjaja dan Wilbert Alfin menyampaikan, “Pengembangan FWA akan menjadi momentum MTEL untuk memanen hasil investasi jaringan menara dan fiber di masa lalu,” kata mereka dalam riset dikutip Senin (10/8/2026).

Dengan kombinasi penguatan struktur internal dan tuntutan pasar terhadap infrastruktur yang lebih terintegrasi, Mitratel menilai berbagai katalis tersebut dapat mendukung transformasi perseroan menuju Next-Generation Tower Company.

Melalui strategi tersebut, MTEL tidak hanya berfokus pada penyedia menara telekomunikasi, tetapi juga membangun ekosistem infrastruktur digital yang semakin terhubung dan saling melengkapi. Pada akhirnya, penggabungan PST dan UMT diposisikan sebagai langkah untuk memperbesar ruang efisiensi, memperjelas arah bisnis turunan, serta memperkuat posisi perusahaan di industri infrastruktur digital nasional.