Teknologi

Arus Modal Jumbo “Meledak”: Infrastruktur Digital & AI Disebut Jadi Mesin Duit Baru

×

Arus Modal Jumbo “Meledak”: Infrastruktur Digital & AI Disebut Jadi Mesin Duit Baru

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Arus Modal Jumbo "Meledak", Proyek Ini Jadi Mesin Duit Baru

jurnalistik.co.id – Pada paruh pertama 2026, pola investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) dalam proyek baru atau greenfield menunjukkan pergeseran yang makin jelas menuju infrastruktur digital dan kecerdasan buatan (AI). Sepanjang Januari hingga Juni, nilai FDI greenfield tercatat sekitar US$538 miliar atau setara Rp9.549 triliun dengan asumsi kurs Rp17.750 per US$.

Lonjakan tersebut tidak merata di semua sektor. Sektor komunikasi menjadi magnet utama penanaman modal asing, dengan realisasi mencapai US$139,3 miliar pada periode yang sama.

Dari total investasi pada sektor komunikasi itu, porsi terbesar dialokasikan untuk proyek pusat data (data center). Nilainya menembus lebih dari US$131 miliar dan menyumbang lebih dari 94% investasi di sektor komunikasi, sekaligus mencerminkan fokus global yang kuat pada infrastruktur komputasi dan konektivitas pendukung AI.

Secara proporsional, capaian pusat data juga disebut setara dengan 24,5% dari keseluruhan rencana belanja modal FDI greenfield di tingkat global pada semester I 2026. fDi Intelligence juga mencatat proporsi tersebut sebagai rekor tertinggi yang pernah terekam dalam fDi Markets, baik untuk skala semesteran maupun tahunan.

Jika ditarik lebih luas, fDi Intelligence merangkum sepuluh sektor dengan nilai FDI greenfield terbesar di dunia berdasarkan alokasi belanja modal pada paruh pertama 2026. Urutan teratas tetap dipimpin komunikasi (US$139,3 miliar), disusul energi terbarukan (US$73,3 miliar). Setelah itu muncul batu bara, minyak, dan gas (US$44,7 miliar), semikonduktor (US$38,8 miliar), transportasi serta pergudangan (US$24,9 miliar), real estat (US$23,9 miliar), logam (US$23,7 miliar), peralatan industri (US$14,6 miliar), komponen elektronik (US$13,7 miliar), serta perangkat lunak dan layanan TI (US$13,7 miliar).

Proyek pusat data dan kapasitas AI berskala besar

Besar aliran modal tersebut tercermin dari sejumlah proyek berskala jumbo yang diproyeksikan menopang kebutuhan AI. Pada Mei 2026, SoftBank mengumumkan komitmen investasi sebesar €45 miliar, atau sekitar Rp919,6 triliun dengan asumsi €1 = Rp20.435, selama lima tahun untuk membangun infrastruktur AI di Prancis.

Komitmen SoftBank itu menargetkan pembangunan infrastruktur dengan kapasitas data center sebesar 3,1 gigawatt yang tersebar di tiga lokasi. Nilai investasi proyek tersebut juga disebut berpotensi diperluas hingga €75 miliar. Reuters menyebut proyek awal tersebut sebagai salah satu investasi terbesar di Eropa untuk infrastruktur AI.

Efek turunan ke energi, semikonduktor, hingga rantai pasok teknologi

Investasi yang berkaitan dengan AI juga tampak mendorong sektor energi. Energi terbarukan tercatat sebagai sektor terbesar kedua, menarik sekitar US$73,3 miliar, atau sekitar US$28,6 miliar lebih tinggi dibandingkan investasi pada batu bara, minyak, dan gas yang mencapai US$44,7 miliar.

Di sektor energi terbarukan, dana diarahkan terutama ke proyek tenaga surya, kemudian diikuti hidrogen, teknologi bersih, serta tenaga angin. Di sisi lain, dampak langsung dari kebutuhan AI pada ekosistem teknologi terlihat pada semikonduktor, di mana investasi mencapai US$38,8 miliar pada enam bulan pertama 2026.

Untuk semikonduktor, salah satu komitmen yang disebut adalah investasi Micron sebesar US$24 miliar untuk membangun fasilitas produksi NAND flash di Singapura. Chip jenis tersebut disebut sebagai salah satu komponen penting dalam infrastruktur AI.

Selain semikonduktor, sektor transportasi dan pergudangan juga menerima dana sebesar US$24,9 miliar. Sementara itu, peralatan industri tercatat sebesar US$14,6 miliar, dan komponen elektronik serta perangkat lunak serta layanan TI masing-masing membukukan investasi US$13,7 miliar.

Kebutuhan listrik untuk menopang AI turut mendorong investasi pada energi fosil. Sekitar US$33 miliar dari investasi sektor batu bara, minyak, dan gas berasal dari rencana anak usaha SoftBank, SB Energy Corp, untuk membangun pembangkit listrik berbahan bakar gas berkapasitas 9,2 gigawatt di Ohio, Amerika Serikat.

Pembangkit tersebut dirancang untuk memasok listrik ke kompleks data center yang sedang dikembangkan. Dengan demikian, arus investasi yang terkait AI tidak berhenti pada infrastruktur komputasi, melainkan juga merembet ke pembangkitan listrik dan penguatan dukungan energi.

Belanja modal AI dan proyeksi lonjakan ke depan

Besarnya aliran modal dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat pembangunan ekosistem AI berjalan sangat cepat. Perusahaan teknologi tidak hanya menanamkan dana untuk mengembangkan model AI, tetapi juga membangun kapasitas komputasi yang dibutuhkan agar teknologi dapat dilatih dan digunakan dalam skala besar.

Skala kebutuhan tersebut bahkan disebut melampaui pembangunan data center konvensional. PwC memperkirakan belanja modal data center global mencapai sekitar US$800 miliar per tahun pada 2026 dan berpotensi meningkat menjadi US$1,8 triliun per tahun pada 2050. Secara kumulatif, PwC juga memperkirakan investasi infrastruktur AI global dapat mencapai US$31,6 triliun hingga 2050.

Dengan makin besarnya model AI, investasi dalam jumlah besar mengarah pada data center, chip, jaringan listrik, dan berbagai infrastruktur pendukung lainnya. Akibatnya, lonjakan investasi AI tidak hanya mengubah industri teknologi, tetapi juga mulai membentuk arah aliran modal global, sekaligus mendorong pembangunan infrastruktur energi dan digital dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.