jurnalistik.co.id – Genap satu tahun Purbaya Yudhi Sadewa menjalani tugas sebagai Menteri Keuangan. Dalam rentang waktu itu, ia membeberkan suka duka yang dialami sekaligus menyoroti pentingnya menjaga optimisme masyarakat dan pelaku pasar terhadap perekonomian Indonesia.
Menurut Purbaya, salah satu tantangan yang paling menonjol muncul ketika masa awal pemerintahannya beririsan dengan situasi yang penuh ketidakpastian. Ia menegaskan bahwa pada fase tersebut, kepercayaan publik perlu dipulihkan agar arah ekonomi bisa kembali mendapat ruang untuk bergerak.
Ia menyampaikan pandangan itu saat konferensi pers Nota Keuangan dan RAPBN 2027 di Jakarta pada Jumat (14/8/2026). Poin yang ia tekankan kemudian juga dikutip pada Rabu (9/9/2026), ketika ia menuturkan pengalaman langsungnya sejak hari-hari pertama menjabat.
Pemulihan kepercayaan di tengah guncangan
Dalam keterangannya, Purbaya menautkan kondisi ekonomi pada setahun sebelumnya dengan momen demo besar saat proses penetapannya berlangsung. Baginya, konteks awal itu membuat keputusan kebijakan harus berjalan di atas kebutuhan mendasar: menumbuhkan kembali keyakinan publik.
“Pertama kan waktu saya jadi menteri, itu kan kita baru menghadapi demo besar. Saya mesti kembalikan confidence ke masyarakat,” kata Purbaya di Jakarta, dikutip Rabu (9/9/2026).
Ia menjelaskan bahwa pendekatan yang diambil tidak hanya berkutat pada instrumen teknis, tetapi juga pada pengelolaan persepsi. Optimisme yang terjaga di masyarakat, lanjutnya, menjadi faktor penting karena dapat memengaruhi cara orang dan pelaku usaha mengambil keputusan ekonomi.
Keyakinan yang memengaruhi perilaku
Purbaya mengaitkan hal tersebut dengan konsep ekonomi self-fulfilling prophecy. Konsep ini pada intinya menjelaskan bahwa ekspektasi seseorang atau kelompok terhadap kondisi ekonomi bisa mengubah perilaku ekonomi mereka, lalu pada akhirnya turut menentukan hasil yang terjadi.
Berita Terkait
Dari sudut pandangnya, ketika kepercayaan belum pulih, respons pasar cenderung lebih hati-hati dan ruang gerak ekonomi menjadi lebih sempit. Sebaliknya, jika optimisme meningkat dan ekspektasi menjadi lebih stabil, perilaku konsumsi, investasi, maupun aktivitas transaksi dapat ikut tertata.
Karena itulah, ia menekankan agar optimisme tidak dibiarkan jatuh hanya karena suasana sesaat. Ia ingin masyarakat dan pelaku pasar memandang perekonomian sebagai proses yang dapat dikendalikan, bukan sekadar sesuatu yang ditunggu perkembangannya dari luar.
Menjaga arah di tengah dinamika
Dengan menyebut pengalaman awal saat menghadapi demo besar, Purbaya seakan memberi garis besar hubungan antara momentum politik-sosial dan kepercayaan ekonomi. Dalam periode transisi seperti itu, pesan kebijakan perlu dibarengi upaya menjelaskan arah kerja pemerintah agar publik memahami tujuannya secara jelas.
Ia juga terlihat ingin memperkuat konsistensi komunikasi ketika pasar merespons cepat terhadap perubahan sentimen. Bagi Purbaya, menjaga optimisme bukan berarti menutup mata terhadap tantangan, melainkan mengarahkan ekspektasi agar tetap berada pada koridor yang produktif.
Dalam kerangka satu tahun masa jabatan, fokus tersebut menjadi benang merah yang membuat ia memandang persoalan ekonomi dari sisi kepercayaan. Stabilnya optimisme masyarakat dan pelaku pasar dinilainya berpengaruh terhadap perjalanan perekonomian, terutama pada saat ekonomi harus kembali menata ritme setelah periode penuh gejolak.
Setahun setelah ditetapkan sebagai Menteri Keuangan, Purbaya menempatkan pemulihan confidence dan pengelolaan ekspektasi sebagai bagian dari kerja yang tidak terpisah dari kebijakan fiskal. Ia berharap, dengan konsep yang menekankan hubungan antara ekspektasi dan hasil, arah ekonomi dapat terus dijaga agar tetap mendapat dukungan dari pelaku pasar dan masyarakat.
Dalam penjelasannya, Purbaya menggambarkan bahwa kepercayaan publik tidak muncul secara otomatis, melainkan dibentuk melalui rangkaian komunikasi yang konsisten. Ketika arah kebijakan dapat dipahami secara utuh, pelaku pasar cenderung lebih berani menyusun keputusan ekonomi dalam jangka yang lebih jelas.
Ia juga menekankan bahwa optimisme yang terjaga seharusnya disertai pengelolaan ekspektasi agar tidak liar berubah mengikuti isu sesaat. Dengan menjaga agar harapan publik tetap selaras dengan proses kebijakan, ekonomi dapat bergerak lebih terukur dan tidak mudah terdampak oleh gejolak sentimen.
Karena itu, Purbaya memandang kerja pemerintahan sebagai upaya membangun keyakinan sekaligus memperjelas langkah yang ditempuh. Baginya, ketika kepercayaan dan ekspektasi sudah kembali tertata, ruang bagi aktivitas konsumsi, investasi, dan transaksi akan lebih stabil, sehingga pemulihan dapat berlangsung lebih meyakinkan.












