Bisnis & Ekonomi

Rupiah Diperkirakan Tetap Stabil Saat Dolar AS Melemah & Dana Masuk ke Surat Utang Menguat

×

Rupiah Diperkirakan Tetap Stabil Saat Dolar AS Melemah & Dana Masuk ke Surat Utang Menguat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Rupiah Diprediksi Stabil Saat Dolar AS Landai & Arus Modal Deras - Market

jurnalistik.co.id – Rupiah diperkirakan masih punya ruang untuk menjaga stabilitasnya pada perdagangan pasar spot hari ini, seiring tekanan dolar Amerika Serikat yang mulai mereda.

Di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF), pergerakan rupiah tidak berubah banyak dan berada di kisaran Rp17.635–17.639 per US$.

Meskipun demikian, penguatan rupiah berpotensi tertahan oleh harga minyak yang tetap bertahan tinggi. Di waktu yang sama, harga minyak disebut berada di level US$99,53 per barel.

Sementara itu, pergerakan dolar AS menunjukkan pelemahan. Indeks dolar Amerika Serikat tercatat di 98,79, yang dinilai memberi dukungan bagi mata uang Asia, termasuk rupiah.

Di kawasan Asia yang sudah lebih dulu dibuka, yen Jepang menjadi mata uang yang menguat paling tajam. Yen menguat sebesar 0,33%, disusul won Korea Selatan yang bergerak naik 0,16%.

Adapun dolar Singapura, ringgit Malaysia, serta yuan offshore bergerak menguat, tetapi tidak seluas yen dan won. Kenaikan masing-masing disebut lebih terbatas dibanding dua mata uang tersebut.

Penguatan yen ditopang oleh ekspektasi perubahan kebijakan moneter Jepang. Pasar menantikan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan pekan depan.

Pertemuan yang menjadi rujukan ekspektasi itu berlangsung pada 17–18 September. Dengan skenario tersebut, posisi yen terhadap dolar AS dinilai berpotensi makin menguat.

Di saat yang sama, Menteri Keuangan AS Scott Bessent ikut mewarnai dinamika pasar valuta. Bessent menantang para trader untuk bertaruh melawan yen.

Bessent menyampaikan bahwa dirinya memiliki informasi yang lebih baik mengenai langkah Bank of Japan (BoJ) dan pemerintah Jepang terkait kebijakan yen.

Pernyataan tersebut kemudian memperkuat spekulasi di pasar mengenai kemungkinan intervensi atau koordinasi kebijakan untuk menopang yen. Anggapan ini berangkat dari cara Bessent menilai posisi dan prospek kebijakan yang memengaruhi pergerakan mata uang.

Dengan kombinasi faktor domestik dan global tersebut, rupiah diproyeksikan tetap berada dalam kondisi terawasi. Pasar akan mempertimbangkan arah indeks dolar AS, ketahanan harga minyak, serta perkembangan ekspektasi kebijakan suku bunga di Jepang.

Di sisi lain, pergerakan mata uang Asia yang lebih luas juga menjadi indikator sentimen. Kenaikan yen dan won yang relatif lebih kuat dibanding beberapa mata uang Asia lain menunjukkan adanya pergeseran minat pasar antarvalas.

Namun, karena dolar AS disebut melandai, ruang penyesuaian rupiah masih terbuka. Dalam konteks itu, kestabilan rupiah berpotensi terjaga selama tekanan dari faktor seperti harga minyak belum menekan laju penguatan.

Dengan kurs NDF yang relatif bertahan di kisaran Rp17.635–17.639 per US$, proyeksi stabilitas rupiah tetap menguat. Meski begitu, pergerakan lanjutan akan sangat ditentukan oleh seberapa jauh indeks dolar AS terus bergerak dan bagaimana pasar merespons perkembangan seputar kebijakan Jepang.

Secara keseluruhan, kondisi pasar valuta saat ini memperlihatkan dua arus yang saling memengaruhi: dolar AS yang melemah memberi dukungan, sementara harga minyak yang tinggi berpotensi membatasi penguatan rupiah. Di saat yang sama, perhatian pasar juga mengarah pada yen, terutama setelah ekspektasi kenaikan suku bunga 25 bps dan sinyal dari Scott Bessent yang memicu spekulasi intervensi atau koordinasi kebijakan.

Dalam perdagangan spot, arah rupiah diperkirakan tetap sangat terkait dengan dinamika yang terlihat di NDF. Kurs NDF yang tidak banyak bergerak di rentang Rp17.635–17.639 per US$ memberi sinyal bahwa pelaku pasar masih menilai mata uang berada dalam fase penyesuaian, sambil menunggu perkembangan lanjutan dari dolar AS dan komoditas.

Perhatian pasar, pada saat yang sama, juga tertuju pada hubungan antara pelemahan dolar dan faktor pengimbang dari harga minyak. Ketika indeks dolar AS berada di 98,79 dan dolar melandai, minat terhadap mata uang Asia cenderung mendapat dukungan. Namun, bertahannya minyak di sekitar level US$99,53 per barel membuat ruang penguatan rupiah tidak langsung melebar, sehingga pergerakan dinilai akan lebih terukur.