Entertainment

Alan Carr Hampir Menangis di Malam Spesial National Television Awards, Celebrity Traitors Borong Kemenangan

×

Alan Carr Hampir Menangis di Malam Spesial National Television Awards, Celebrity Traitors Borong Kemenangan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Alan Carr holds back tears on special night at National Television Awards

jurnalistik.co.id – Alan Carr menjalani malam penuh emosi di gelaran 31st National Television Awards pada Selasa, saat ia akhirnya menerima penghargaan Special Recognition.

Acara itu diwarnai kejutan sejak awal. Penonton London terlebih dulu disuguhi pertunjukan musikal bertema The Traitors yang dipersembahkan khusus untuknya, termasuk kemunculan Paloma Faith dari sebuah peti.

Sebelum seremoni dimulai, Carr berbincang dengan BBC News di karpet merah. Ia meremehkan peluangnya lewat komedi bernuansa semi-autobiografis Changing Ends, sambil melontarkan candaan: “Comedy is so subjective… Mrs Brown’s Boys wins every year, why am I even here?”

Ucapan itu terbukti tepat. Saat penghargaan Comedy diumumkan, Mrs Brown’s Boys memang keluar sebagai pemenang.

Tetapi malam belum selesai bagi Carr. Ia justru kembali naik panggung untuk menerima Special Recognition, sebuah kategori yang tidak dipilih oleh publik.

Sebelumnya, Carr menyatakan bahwa jika ia benar-benar meraih trofi, situasinya akan berujung “ugly crying”. Nyatanya, ia memenuhi prediksinya sendiri ketika menerima penghargaan.

Keterlibatannya dalam The Celebrity Traitors juga menjadi alasan besar mengapa sorotan terus mengikuti dirinya. Carr mengatakan kepada BBC News, “I’ve never had popularity like it,” sambil menggambarkan acara tersebut sebagai “phenomenon”.

Kemenangan yang diraih The Celebrity Traitors melengkapi daftar hasil yang ia dapatkan di malam itu. Program tersebut menyingkirkan versi orisinal acara untuk merebut Reality Competition.

Charlotte Church, rekan main Carr di The Celebrity Traitors, memuji rangkaian penampilan mereka dengan menyebutnya sebagai “beautiful vignette of male tenderness and emotional expression”. Ia juga mengungkap pencapaian penonton: 15 juta penonton dalam tujuh hari.

Church turut menyampaikan apresiasi pada para pemeran lewat kalimat, “Alan, Nick (Mohammed) and David (Olusoga), you were just absolutely sublime,”. Pujian itu datang tepat setelah keputusan membawa acara mereka meraih kategori yang dimaksud.

Sementara itu, penghargaan lain jatuh ke Sir David Attenborough. Ia dinobatkan sebagai Best Presenter pada tahun ulang 100 kelahirannya, mengalahkan duo populer Ant dan Dec.

Attenborough tidak hadir dalam acara, namun Mark Brownlow yang menjadi kolaborator lamanya menerima penghargaan atas nama pembawa acara tersebut. Brownlow juga membacakan pesan dari broadcaster yang menekankan urgensi perlindungan lingkungan.

Dalam pesan itu, Attenborough menulis: “Humanity has always needed the natural world for all the practicalities of life and for our mental wellbeing,”. Ia melanjutkan, “Now the natural world needs us too: surely we must not ignore that simple fact.”

Clarkson’s Farm juga meraih hasil gemilang. Program tersebut memenangkan penghargaan Celebrity-Led Reality Docuseries untuk tahun kedua berturut-turut sekaligus menjadi pemenang pada kategori perdana yang dibentuk.

Kategori baru itu turut menampilkan program dari Stacey Solomon dan Joe Swash, Tyson Fury, Kelvin Fletcher, serta Bob Mortimer dan Paul Whitehouse. Di ranah lain, format celebrity-led tetap hadir dalam Authored Documentary.

Dalam Authored Documentary, nominasi di antaranya datang dari Olympian Sir Chris Hoy, mantan penyanyi Little Mix Jesy Nelson, dan film Sharon Osbourne tentang mendiang suaminya Ozzy. Pada kategori ini, keluarga Osbourne menyampaikan reaksi mereka melalui Kelly Osbourne.

Kelly Osbourne mengatakan kepada BBC News di karpet merah bahwa keluarganya merasa “honoured” atas nominasi tersebut. Ia juga menyebut kisah dokumenter itu sebagai “tragic but beautiful story” serta mengatakan ia sempat menghubungi ibunya Sharon sebelum tiba: “We are so close. I was on the phone with her before I got out of the car.”

Untuk pilihan publik di bagian drama, penghargaan akhirnya diberikan kepada Our Girls: The Southport Families. Program BBC itu mengikuti keluarga-keluarga yang berduka setelah pembunuhan yang menimpa Alice da Silva Aguiar (berusia sembilan tahun), Bebe King (enam), dan Elsie Dot Stancombe (tujuh) di sebuah kelas tari bertema Taylor Swift di Southport pada 2024.

Saat menerima penghargaan, Elsie Stancombe, Jenni Stancombe, menyampaikan kepada audiens: “We never expected to be stood up here, so I don’t know what to say. “We know you didn’t vote for us, you voted for our three girls.” Pasalnya, ia menegaskan pemirsa sebenarnya memilih mereka lewat perhatian pada tiga putri tersebut.

Di kategori penampilan drama, Vicky McClure meraih Best Drama Performance atas perannya dalam crime thriller Trigger Point. Ia menorehkan kemenangan itu dalam konteks daftar pendek yang untuk pertama kalinya berisi seluruh perempuan.

McClure menjelaskan di ruang pemenang bahwa situasinya berbeda dari tahun-tahun sebelumnya dengan kalimat: “Over the years it has not been our space, and here we are dominating that category. “I feel honoured to be amongst those wonderful women.” Kemenangan tersebut sekaligus menandai keberhasilan Trigger Point pada malam yang sama.

Di antara nama yang bersaing bersama McClure adalah Sheridan Smith. Ia berperan sebagai Ann Ming dalam drama true crime ITV berjudul I Fought The Law, dan meski tidak menang untuk kategori individu, serial itu tetap keluar sebagai pemenang untuk New Drama.

Di luar arena penghargaan, Graham Norton ikut menjadi perhatian. Ia mengungkapkan bahwa busana karpet merahnya sudah pernah dikenakan pada kesempatan profil tinggi tahun ini, dengan mengatakan: “This is what I wore to Taylor Swift’s wedding”.

Norton juga menyatakan para tamu sepakat untuk tidak membocorkan rincian perayaan. Ia menuturkan, “I had a wonderful time and we all agreed by saying yes to going, we weren’t going to blab about it,” sambil menyinggung bahwa bekerja dengan Taylor Swift membuatnya memahami pola kepemimpinan di level itu: “what leadership is like at that level”.

Ia menutup pengalamannya dengan menggambarkan suasana produksi sebagai tempat yang hangat. Norton berkata, “It was such a happy set. Everyone was working as hard as they could for her,”.