jurnalistik.co.id – Peretasan senilai US$320 juta terhadap Liquid Network yang terhubung dengan Bitcoin kembali menjadi tamparan bagi reputasi kripto. Insiden ini muncul di saat industri berupaya meyakinkan bank dan investor institusional bahwa aset digital layak diposisikan sebagai bagian dari infrastruktur keuangan arus utama.
Serangan yang dilaporkan Bloomberg tersebut tidak berhenti pada kehilangan aset yang dicuri. Liquid dibangun untuk membuat Bitcoin—yang dikenal sebagai kripto terbesar—lebih berguna dalam perdagangan dan penyelesaian transaksi.
Dengan demikian, dampaknya meluas ke keandalan sistem yang menyokong penggunaan sehari-hari. Saat ekosistem yang seharusnya memfasilitasi transaksi mengalami gangguan, kepercayaan pengguna turut diuji.
Pusat perhatian kini bergeser ke cara blockchain dan komponennya dipakai dalam praktik. Di balik narasi teknologi, ada lapisan-lapisan yang harus benar-benar bisa diandalkan, mulai dari dompet, pengaturan penyimpanan, hingga infrastruktur yang menjalankan transaksi.
Paparan insiden semacam ini memperlihatkan bahwa janji desentralisasi tidak selalu otomatis berujung pada keamanan yang merata. Di lingkungan blockchain, setiap bagian yang menjadi penghubung dapat menjadi permukaan risiko ketika serangan datang beruntun.
DeFi Disebut Belum Siap Memenuhi Standar Institusional
Gelombang peretasan yang terus berlanjut juga mengangkat kembali perdebatan tentang kesiapan keuangan terdesentralisasi (DeFi). Nikhil Raghuveera, CEO Predicate—penyedia infrastruktur kepatuhan blockchain—menilai serangan non-stop memperkuat keyakinan perusahaan fintech global dan lembaga-lembaga bahwa DeFi masih belum siap diterapkan secara luas.
Raghuveera menegaskan bahwa blockchain punya kekuatan tersendiri untuk settlement keuangan, tetapi DeFi dinilai belum memenuhi standar institusional yang lazim di pasar tradisional.
Berita Terkait
Pendapat tersebut menempatkan konteks yang lebih luas: institusi keuangan biasanya menilai bukan hanya kecepatan atau kemudahan teknologi, melainkan juga konsistensi penerapan dan kesiapan menghadapi skenario risiko. Dalam kerangka itu, insiden Liquid Network menjadi sinyal yang sulit diabaikan.
Bagi industri kripto, tantangannya adalah menjaga agar teknologi tidak berhenti sebagai konsep. Ketika protokol dan layanan yang terhubung dengan aset besar mengalami kebocoran, pertanyaan yang muncul menyangkut apakah ekosistem DeFi dapat ditanamkan dengan tingkat keyakinan yang setara standar lembaga keuangan.
Raghuveera menekankan titik pembeda tersebut: blockchain untuk settlement dinilai “sangat baik”, namun DeFi belum siap memenuhi standar yang dianggap umum. Pernyataan ini menyiratkan bahwa masalah bukan pada ide dasar ledger, melainkan pada kesiapan implementasi DeFi secara menyeluruh.
Dalam kasus ini, Liquid disebut menambah nilai dengan menjembatani Bitcoin untuk aktivitas transaksi dan penyelesaian. Namun serangan yang menarget infrastruktur seperti ini memperlihatkan bahwa integrasi fungsi tersebut ikut membawa risiko tersendiri.
Ketika risiko menjadi bagian dari persepsi pasar, reputasi komoditas digital seperti kripto ikut terdampak. Kepercayaan yang dibutuhkan untuk adopsi institusional biasanya dibangun lewat rekam jejak keamanan yang stabil, bukan hanya kemampuan teknis.
Lebih jauh, insiden juga menguji ketahanan “rantai” penggunaan kripto. Dompet dan mekanisme penyimpanan merupakan bagian yang menentukan bagaimana aset dan akses dikelola, sementara infrastruktur transaksi menentukan apakah proses berlangsung sesuai harapan.
Jika salah satu komponen itu tidak mampu menahan gempuran, dampaknya bisa menjalar ke keseluruhan ekosistem layanan. Di sinilah desentralisasi yang dulu dipuji sebagai keunggulan diposisikan sebagai titik lemah—ketika penguatan keamanan tidak merata atau ketika serangan menemukan celah pada lapisan pendukung.
Intinya, peretasan terhadap Liquid Network yang terhubung Bitcoin memperjelas bahwa reputasi kripto tidak hanya ditentukan oleh janji teknologi. Ia ditentukan juga oleh kemampuan sistem menjaga kepercayaan dalam kondisi nyata, terutama ketika serangan terjadi terus-menerus.
Bagi investor dan pihak institusional yang tengah mempertimbangkan aset digital, insiden ini menjadi pengingat bahwa pembicaraan tentang arus utama memerlukan bukti kesiapan. Blockchain mungkin menjadi pondasi settlement, tetapi DeFi membutuhkan pemenuhan standar institusional agar dapat dianggap siap diterapkan lebih luas.












