Bisnis & Ekonomi

Sepuluh Saham Dilepas Investor Asing, IHSG Berakhir di Zona Merah

×

Sepuluh Saham Dilepas Investor Asing, IHSG Berakhir di Zona Merah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Investor Asing Lepas 10 Saham Ini, Seret IHSG ke Zona Merah - Market

jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin, 21 September 2026, ditutup melemah dan berada di zona merah. Indeks turun 56,44 poin atau 0,88% ke level 6.384.

Tekanan jual terutama datang dari transaksi investor asing yang mencatat net sell sebesar Rp510,07 miliar sepanjang perdagangan saham seluruh pasar. Arah arus dana ini membuat sentimen pasar cenderung tertekan di akhir sesi.

Di pasar reguler, investor asing juga tetap membukukan net sell dengan nilai Rp503,12 miliar. Kondisi tersebut mempertegas bahwa penurunan IHSG bukan hanya dipengaruhi satu segmen transaksi, melainkan terlihat dari aktivitas asing secara lebih luas.

Dari daftar emiten yang paling banyak dilepas asing, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi kontributor net sell terbesar. Nilai pelepasan saham BMRI oleh investor asing tercatat Rp140,61 miliar, sejalan dengan harga saham yang ikut melemah 1,41% ke level Rp4.200 per saham.

Saham BMRI yang terkoreksi tersebut menunjukkan bagaimana aksi jual investor asing dapat langsung menekan pergerakan harga pada emiten berkapitalisasi besar. Perubahan sentimen ini kemudian turut memengaruhi persepsi pelaku pasar pada arah indeks secara keseluruhan.

Setelah BMRI, PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) juga masuk dalam kelompok pelepasan terbesar dengan net sell Rp139,92 miliar. Berikutnya, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami net sell sebesar Rp131,34 miliar, sementara PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mencatat net sell Rp114,61 miliar.

Di luar kuartet teratas tersebut, tekanan jual asing masih berlanjut pada sejumlah saham lain. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mengalami net sell Rp32,41 miliar, sedangkan PT Astra International Tbk (ASII) mencatat pelepasan sebesar Rp26,38 miliar.

Masih dalam daftar net sell terbesar, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) mencatat net sell Rp25,8 miliar. PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) berada di kisaran Rp22,31 miliar, sementara PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mengalami net sell Rp21,98 miliar.

Pada bagian bawah daftar sepuluh terbesar, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatat net sell Rp18,46 miliar. Secara keseluruhan, komposisi arus jual tersebut menggambarkan pola pelepasan yang menyebar pada beberapa sektor dan karakter emiten, sehingga memperbesar efeknya ke pasar.

Meski demikian, tidak semua pergerakan dana asing bernada negatif. Investor asing justru membukukan net buy terbesar pada PT Timah (Persero) Tbk (TINS) senilai Rp50,02 miliar, yang terlihat sejalan dengan penguatan saham TINS.

Terdorong pembelian tersebut, saham TINS menguat 3,16% hingga berada di level Rp4.900 per saham. Kenaikan emiten yang menjadi tujuan belanja asing ini memberi gambaran bahwa arus dana tidak sepenuhnya keluar, namun lebih bersifat selektif terhadap saham tertentu.

Dari dinamika penutupan sesi tersebut, IHSG yang berakhir di zona merah menjadi cerminan dominasi net sell investor asing dibanding net buy. Dengan komposisi net sell yang besar pada sejumlah nama utama serta net buy yang lebih terkonsentrasi pada TINS, pasar pada akhirnya menyesuaikan arah indeks mengikuti tekanan transaksi yang lebih dominan.

Pelaku pasar selanjutnya biasanya akan menunggu kelanjutan arah transaksi asing dan reaksi harga pada saham-saham dengan nilai net sell terbesar. Jika arus dana asing tetap berat di sisi pelepasan, tekanan pada indeks berpotensi berlanjut, sedangkan bila selektivitas net buy meningkat, peluang pemulihan arah indeks akan semakin terbuka.

Secara nominal, pelepasan investor asing tampak membentuk tekanan yang merata pada beberapa nama besar dan tidak berhenti pada satu emiten saja. Ketika penurunan juga menyertai saham-saham berkapitalisasi tinggi seperti BMRI, BBCA, dan TLKM, dampaknya cenderung langsung terbawa ke pergerakan IHSG karena perubahan harga pada konstituen utama berlangsung bersamaan.

Namun, keberadaan net buy pada TINS memperlihatkan bahwa arus dana asing masih bisa bergerak ke arah yang berbeda untuk saham tertentu. Penguatan TINS yang disertai transaksi beli terbesar menandakan ada selektivitas dalam penempatan dana, sehingga evaluasi berikutnya biasanya akan menitikberatkan pada apakah minat tersebut berlanjut dan apakah tekanan jual di emiten lain berkurang.

Dengan kondisi penutupan yang mencerminkan dominasi pelepasan dibanding pembelian, pelaku pasar umumnya akan memantau perkembangan arus transaksi asing pada sesi lanjutan, termasuk apakah net sell kembali melebar atau justru ada pergeseran ke net buy pada beberapa saham lain. Bila arus pelepasan tetap lebih kuat, indeks berpotensi mempertahankan tekanan, sedangkan jika keseimbangan transaksi asing bergeser, ruang pemulihan akan lebih terbuka.