Bisnis & Ekonomi

Jelang Keputusan BI Rate, 10 Saham dengan Net Sell Terbesar Investor Asing

×

Jelang Keputusan BI Rate, 10 Saham dengan Net Sell Terbesar Investor Asing

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 10 Saham Dihindari Investor Asing Jelang Keputusan BI Rate - Market

jurnalistik.co.id – Menjelang rapat Bank Indonesia, aktivitas investor asing masih didominasi aksi jual bersih atau net sell di pasar saham. Kondisi ini tercermin dari data transaksi terbaru yang berlanjut pada perdagangan Senin (21/9/2026).

Sepanjang sesi tersebut, net sell investor asing mencapai sekitar Rp509 miliar. Tekanan dari arus dana tersebut ikut menekan pergerakan indeks, sehingga IHSG berakhir turun 0,88% ke level 6.384,7 pada penutupan sore hari.

Aksi jual bersih itu berlangsung dalam konteks waktu yang berdekatan dengan agenda kebijakan moneter. Investor asing terlihat mengantisipasi keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang akan dimulai mulai besok, Rabu (23/9/2026), dan menjadi penentu arah suku bunga acuan atau BI rate.

Berdasarkan data BEI, berikut 10 saham dengan nilai net sell terbesar sepanjang perdagangan kemarin. Pada kelompok teratas, BMRI memimpin dengan net sell sekitar Rp140,6 miliar, disusul ANTM senilai Rp139,9 miliar.

Setelah dua saham tersebut, BBCA juga tercatat mengalami net sell sekitar Rp131,3 miliar. Berikutnya, TLKM mencatat net sell sekitar Rp114,5 miliar, sebelum nama-nama lain dengan nilai lebih kecil tetapi tetap menjadi perhatian investor asing.

Di peringkat berikutnya, MDKA membukukan net sell sekitar Rp32,4 miliar. ASII tercatat mengalami net sell sekitar Rp26,3 miliar, sedangkan CPIN sekitar Rp25,8 miliar, dan ADRO sekitar Rp22,3 miliar.

Masih dalam daftar 10 terbesar, BBNI tercatat mengalami net sell sekitar Rp21,9 miliar, sementara AMMN membukukan net sell sekitar Rp18,4 miliar. Komposisi nilai-nilai tersebut menunjukkan konsentrasi pelepasan kepemilikan pada sejumlah saham dengan kapitalisasi dan likuiditas yang menonjol.

Di luar pergerakan harian, sorotan juga mengarah pada kemungkinan kebijakan suku bunga BI. Ekonom menilai kombinasi kenaikan suku bunga acuan bank sentral negara-negara maju, yang diikuti peningkatan dinamika moneter dunia, dapat membuat BI rate berpotensi meningkat.

Dengan RDG BI yang dijadwalkan pada Rabu (23/9/2026), pasar menanti arah keputusan yang akan memengaruhi sentimen dan strategi penempatan dana. Dalam situasi seperti ini, arus dana investor asing yang net sell cenderung memberi sinyal bahwa pelaku pasar masih menunggu kepastian sebelum mengambil posisi yang lebih agresif.

Nilai net sell yang terkonsentrasi pada satu gelombang transaksi itu juga berdampak pada ritme perdagangan. Ketika tekanan jual bersih berlangsung konsisten selama sesi, pelaku pasar cenderung menyesuaikan posisi secara lebih selektif, sehingga pergerakan harga menjadi lebih defensif dan IHSG sulit membalikkan arah sebelum ada katalis dari agenda kebijakan.

Dari komposisi saham, pola yang terlihat menunjukkan bahwa arus pelepasan kepemilikan tidak tersebar merata. BMRI dan ANTM menjadi penopang terbesar dari daftar net sell, disusul BBCA serta TLKM. Setelah itu, daftar 10 terbesar masih diisi sejumlah emiten lain seperti MDKA, ASII, CPIN, ADRO, BBNI, dan AMMN dengan nilai yang lebih rendah namun tetap menjadi acuan pemantauan pelaku pasar dalam menilai arah transaksi investor asing.

Menjelang pertemuan RDG BI, fokus utama pasar diarahkan pada perkiraan langkah lanjutan terkait suku bunga acuan. Argumentasi yang mengemuka adalah bahwa ketika bank sentral negara maju menaikkan suku bunga, respons kebijakan moneter global dapat ikut membentuk ekspektasi di pasar domestik. Dalam kondisi seperti ini, pasar biasanya lebih sensitif terhadap perubahan persepsi, sehingga strategi penempatan dana cenderung menunggu kejelasan sebelum mengambil risiko tambahan.

Karena keputusan RDG BI dijadwalkan pada Rabu (23/9/2026), dinamika hari-hari setelah perdagangan Senin menjadi penentu bagi sentimen. Net sell yang masih terjadi memberi sinyal bahwa investor asing memilih untuk mengurangi eksposur sambil menunggu arahan resmi. Dengan demikian, ruang volatilitas jangka pendek berpotensi tetap terjaga, terutama pada saham-saham yang menjadi pusat transaksi, hingga keputusan BI rate dipastikan.