jurnalistik.co.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan Senin (21/9/2026) dengan pelemahan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 0,88% ke level 6.384.
Sepanjang sesi, pergerakan indeks terus berada di area negatif. IHSG sempat bergerak dalam rentang 6.451 hingga menyentuh level terdalam di 6.381.
Di bagian akhir perdagangan, sentimen terlihat menekan lapisan saham yang memiliki bobot besar terhadap indeks. Kondisi ini membuat indeks komposit sulit berbalik menguat.
Data BEI menunjukkan nilai transaksi mencapai Rp11,84 triliun. Sebanyak 26,9 miliar saham berpindah tangan melalui 1,83 juta kali transaksi.
Dari sisi arah pergerakan saham, masih ada 280 saham yang menguat. Sementara itu, 354 saham mengalami pelemahan dan 156 saham lainnya stagnan.
Tekanan Terpusat pada Saham Berbobot Besar
Berdasarkan data Bloomberg, melemahnya IHSG berkaitan erat dengan tertekannya sejumlah saham besar (big caps) yang berkontribusi signifikan terhadap pergerakan indeks. Ketika saham-saham dengan bobot tinggi bergerak turun, dampaknya langsung terasa pada IHSG.
PT Bayan Resources Tbk (BYAN) tercatat menjadi salah satu penekan utama indeks pada penutupan sesi. Arah saham BYAN ikut memberi tekanan pada performa indeks komposit.
Selain BYAN, pergerakan juga ditopang oleh pelemahan pada kelompok saham infrastruktur. Kombinasi tekanan dari saham-saham berpengaruh membuat indeks tetap terkunci di teritori merah.
Infrastruktur dan Beberapa Sektor Turut Membebani
Catatan pergerakan sektor memperlihatkan bahwa pelemahan tidak hanya terjadi pada satu kelompok saham. Saham-saham sektor infrastruktur menjadi salah satu pemberat dengan penurunan 1,37%.
Sektor konsumen primer juga ikut melemah, tercermin dari penurunan 0,94%. Pada saat yang sama, saham konsumen energi turun 0,93% sehingga menambah beban di laju indeks.
Berita Terkait
Saham barang baku turut ikut terkoreksi hingga 0,88%. Koreksi serupa juga terlihat pada saham perindustrian yang melemah 0,81%.
Dengan pola penurunan yang menyebar ke beberapa sektor, pemulihan indeks cenderung tertahan. Perbedaan arah saham yang menguat maupun melemah juga terlihat dari komposisi 280 saham naik versus 354 saham turun.
Rentang Perdagangan Menggambarkan Volatilitas di Zona Merah
Pergerakan IHSG yang bergerak dari 6.451 menuju level terdalam di 6.381 mengindikasikan dinamika yang cukup rapat. Namun, meski sempat berada di area yang lebih tinggi pada awal hingga pertengahan sesi, indeks akhirnya kembali melemah.
Rentang ini menunjukkan bahwa tekanan jual lebih dominan menjelang penutupan. Kondisi tersebut sejalan dengan data transaksi yang tetap besar, menandakan pelaku pasar aktif melakukan penyesuaian posisi.
Dari total frekuensi transaksi sebanyak 1,83 juta, terlihat bahwa aktivitas perdagangan cukup intens. Aktivitas yang tinggi ini umumnya muncul ketika pasar merespons pergerakan saham-saham penentu indeks.
Rangkuman Penutupan Sesi
Secara keseluruhan, IHSG ditutup melemah 0,88% ke 6.384 pada Senin (21/9/2026). Indeks bergerak dalam rentang 6.451 hingga 6.381, dengan nilai transaksi Rp11,84 triliun dari 26,9 miliar saham.
Pelemahan indeks terutama dipengaruhi tertekannya big caps berdaya bobot tinggi, termasuk BYAN. Di saat yang sama, saham-saham infrastruktur dan sejumlah sektor lain juga ikut menekan laju IHSG hingga tetap berada di zona merah.
Komposisi pergerakan saham juga memperlihatkan arah yang cenderung hati-hati. Dari total 280 saham yang menguat, jumlah yang mengalami pelemahan mencapai 354, sementara 156 lainnya stagnan. Selisih ini menggambarkan bahwa tekanan jual lebih dominan di ruang likuiditas yang terbentuk pada sesi tersebut.
Dengan indeks yang sempat bergerak di area lebih tinggi sebelum akhirnya kembali terkoreksi, terlihat bahwa dorongan beli tidak mampu mempertahankan momentum. Tekanan yang berasal dari saham-saham berdaya bobot besar, terutama BYAN, kemudian diperkuat oleh pelemahan di sektor infrastruktur dan sektor-sektor terkait lainnya, sehingga indeks tetap sulit beralih ke teritori positif.
Aktivitas perdagangan yang mencapai nilai transaksi Rp11,84 triliun sekaligus disertai perpindahan 26,9 miliar saham pada 1,83 juta kali transaksi menandakan pasar terus melakukan penyesuaian posisi. Situasi seperti ini biasanya muncul ketika pelaku pasar merespons pergerakan saham penentu indeks secara cepat, yang pada akhirnya menjaga IHSG berada dalam pola konsolidasi di bawah level penutupan yang lebih tinggi.












