Bisnis & Ekonomi

Shein menargetkan valuasi nyaris US$27 miliar untuk debut bursa 1 September

×

Shein menargetkan valuasi nyaris US$27 miliar untuk debut bursa 1 September

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Shein aims for almost $27bn valuation in 1 September stock market debut

jurnalistik.co.id – Perusahaan ritel fesyen cepat asal Singapura, Shein, menyatakan berencana memulai perdagangan sahamnya di Bursa Efek Hong Kong pada 1 September. Dalam dokumen yang diajukan pada Senin, perusahaan mengungkap target penghimpunan dana sekaligus kisaran nilai perusahaan yang menyertai penawaran umum perdana ini.

Shein menargetkan untuk menghimpun dana hingga HK13,86 miliar (sekitar ÂŁ1,3 miliar; $1,77 miliar) saat sahamnya mulai diperdagangkan. Di tahap penawaran, perseroan berencana menerbitkan hampir 280 juta saham dengan harga antara HK$47,60 hingga HK$49,50.

Jika mengacu pada batas atas kisaran harga yang disebutkan perusahaan, valuasi Shein diperkirakan mencapai hampir $27 miliar (setara dengan ÂŁ19,8 miliar). Namun angka tersebut jauh di bawah valuasi sekitar $100 miliar yang pernah diraih Shein pada putaran pendanaan privat pada 2022.

Penurunan penilaian ini, menurut dokumen yang disampaikan, berkaitan dengan pertumbuhan penjualan yang melemah serta kenaikan biaya. Dengan kondisi tersebut, perusahaan menghadapi tantangan untuk mempertahankan laju ekspansi yang pernah mendorong valuasi lebih tinggi pada periode pendanaan sebelumnya.

Upaya listing yang sempat tertunda

Debut Shein yang sudah lama dinantikan datang setelah serangkaian kegagalan upaya pencatatan saham di bursa Amerika Serikat maupun London. Langkah tersebut tersendat akibat tantangan regulasi, sementara perusahaan juga menghadapi pengawasan yang intensif.

Shein memang berkantor pusat di Singapura, tetapi didirikan di Tiongkok. Kombinasi jejak perusahaan dan karakter bisnisnya menjadi salah satu faktor yang membuat rencana listing tidak berjalan mulus di beberapa yurisdiksi.

Penawaran umum perdana ini juga disebut didukung oleh sejumlah raksasa investasi di Wall Street. Shein menyatakan IPO-nya dibackup oleh Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan JP Morgan.

Kinerja keuangan terakhir dan dampak kebijakan

Dalam keterangan yang disampaikan pada bulan Juli, Shein menyebut telah beralih ke kerugian pada basis kuartalan. Perusahaan mengaitkan perubahan tersebut dengan perlambatan penjualan yang terjadi setelah Presiden Donald Trump menghapus pengecualian tarif impor untuk paket berukuran kecil.

Shein melaporkan kerugian sebesar $99 juta pada tiga bulan pertama tahun ini. Angka tersebut kontras dengan pendapatan bersih sebesar $395 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain faktor kebijakan perdagangan AS yang memengaruhi arus barang dan biaya, perusahaan juga menyoroti bahwa ketidakpastian masih membayangi situasi tarif timbal balik antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Meski saat ini perang tarif tersebut dikatakan sempat dijeda, risiko perubahan kebijakan tetap dapat memengaruhi proyeksi bisnis.

Dengan demikian, IPO Shein di Hong Kong bukan sekadar peristiwa pencatatan saham, melainkan rangkaian proses yang bersinggungan dengan dinamika regulasi lintas negara, kondisi keuangan yang sedang bergejolak, serta tekanan dari biaya dan pertumbuhan penjualan. Penetapan harga penawaran—di rentang HK$47,60 hingga HK$49,50—akan menjadi penentu penting bagi persepsi pasar terhadap valuasi hampir $27 miliar yang ditargetkan perusahaan.

Rencana perdagangan yang mulai berlaku pada 1 September itu datang dengan rincian yang relatif rinci mengenai jumlah saham dan rentang harga. Dengan penerbitan hampir 280 juta saham, perbedaan lebar kisaran HK$47,60 hingga HK$49,50 dapat menentukan seberapa besar dana yang benar-benar terkumpul serta bagaimana pasar menilai komposisi penawaran perdana ini.

Dokumen yang sama juga menegaskan bahwa Shein tidak berjalan sendirian dalam prosesnya. Dukungan dari bank-bank besar Wall Street disebut menjadi bagian dari penguatan penawaran, sementara jejak perusahaan yang berpindah-pindah antara basis kantor pusat di Singapura dan asal pendirian di Tiongkok turut menjelaskan mengapa rencana pencatatan sempat menghadapi hambatan lintas yurisdiksi. Kegagalan di bursa Amerika Serikat maupun London menjadi konteks yang menunjukkan betapa ketatnya peninjauan regulasi yang dihadapi.

Dari sisi internal, perusahaan juga memaparkan perubahan kinerja yang memperjelas mengapa prospek ekspansi menghadapi tekanan. Pergeseran ke kerugian kuartalan, termasuk angka rugi $99 juta dibanding pendapatan bersih $395 juta pada periode tahun sebelumnya, dipengaruhi perlambatan penjualan serta kenaikan biaya yang berkaitan dengan kebijakan tarif. Di saat ketidakpastian tarif timbal balik AS-Tiongkok masih dapat berubah, keputusan pasar atas harga penawaran menjadi cerminan langsung terhadap keyakinan investor pada valuasi sekitar $27 miliar.