jurnalistik.co.id – Kelompok konsumen Which? menyatakan berhasil membuat iklan palsu untuk sebuah penginapan di alamat Perdana Menteri Inggris, yakni 10 Downing Street, di platform pemesanan Booking.com. Menurut laporan tersebut, peneliti Which? bahkan mampu melakukan pemesanan untuk tinggal “palsu” itu, lalu meninggalkan ulasan yang menyinggung “hanging out” dengan penghuni berupa kucing Larry.
Which? menilai temuan ini menunjukkan celah yang serius dalam proses deteksi penipuan di situs booking. Salah satu fokusnya adalah keterlambatan penghapusan listing setelah diunggah, meski tanda-tandanya dinilai jelas mencerminkan bahwa penawaran tersebut tidak sesuai dengan kenyataan.
Uji listing dan ulasan yang lolos
Menurut Which?, listing palsu bertaut pada alamat 10 Downing Street dan dipublikasikan dengan narasi seolah-olah unit tersebut layak dipilih wisatawan. Listing itu menggunakan foto yang menampilkan bagian depan 10 Downing Street sebagai ilustrasi, dengan deskripsi yang menyebut lokasi berada di alamat tersebut dan mengklaim jarak sekitar “400 metres” ke Big Ben.
Dalam unggahan yang dipermasalahkan, Which? menambahkan elemen yang bersifat ironi untuk menguji apakah sistem verifikasi mampu mengenali konten tidak wajar. Di bagian ulasan, peneliti menulis highlight pengalaman yang menyebut “hanging out” dengan resident mouser Larry, kucing yang dikenal tinggal di lingkungan pemerintahan.
Which? juga menyebutkan bahwa ulasan palsu itu tampaknya tetap melewati pemeriksaan internal platform. Booking.com disebut sempat menyatakan bahwa ulasan akan diperiksa oleh moderator, namun ulasan tersebut tetap terlihat telah dimasukkan ke listing segera setelahnya.
Booking.com menolak anggapan sebagai “representasi” nyata
Juru bicara Booking.com kepada BBC menyatakan, “This limited test is not a true reflection of the experience of millions of listings or reviews published on our platform”. Pihak perusahaan menegaskan bahwa uji terbatas tersebut tidak menggambarkan keseluruhan proses keamanan yang diterapkan pada skala besar di situs mereka.
Booking.com juga mengaitkan keterlambatan penghapusan dengan status listing saat pengujian. Menurut mereka, karena listing Which? tidak “live” di situs dalam rentang dua bulan saat keberadaannya terpantau, “some of our automatic fraud controls were not triggered to completely remove the closed listing”.
Which? memberi peneliti akses dengan membuka jendela percobaan pemesanan selama 20 menit. Selama waktu singkat itu, peneliti menyatakan ada 14 orang yang mengajukan permintaan untuk tinggal di properti fiktif tersebut. Namun, hanya permintaan dari peneliti yang diketahui berasal dari Which? yang diterima.
Berita Terkait
Jendela 20 menit dan pesan link eksternal
Selain pengujian pemesanan, Which? melaporkan adanya pesan di dalam sistem Booking.com yang mendorong peneliti untuk mengklik tautan eksternal guna “confirm their payment details”. Kelompok konsumen tersebut menyebut Booking.com tidak menandai atau menghapus link eksternal yang dikirim melalui sistem tersebut dalam kasus uji mereka.
Menanggapi hal ini, Booking.com menyatakan pihaknya memiliki “visible reminders to not click on links customers are not confident about”, serta konfirmasi pemesanan juga memberikan panduan lebih lanjut, termasuk rincian jadwal pembayaran yang disepakati. Booking.com juga menyebut berbagai “checks and verification measures” membantu menjaga keamanan, dan teknologi berbasis AI “help us detect and remove the majority of fraudulent listings within 24 hours”.
Kapan listing dihapus, dan apa saja klaim pada iklan
Which? menyatakan listing palsu tersebut diunggah pada 18 Juni. Setelah masa keberadaan yang dinilai panjang, Booking.com baru menghapus listing tersebut pada 27 Agustus. Dengan demikian, penghapusan terjadi setelah sekitar dua bulan sejak listing dipublikasikan.
Dalam deskripsi yang dipersoalkan, listing mempromosikan “1 bedroom apartment in the heart of London” dan menggunakan klaim lokasi yang terhubung langsung dengan 10 Downing Street. Which? menilai kombinasi penggunaan visual alamat yang sangat ikonik dan narasi lokasi yang spesifik justru seharusnya memicu pemeriksaan tambahan.
Which? menyebut sistem “unfit for purpose”
Rory Boland, Travel editor di Which?, mengatakan pemeriksaan yang dilakukan selama uji tersebut membuktikan sistemnya “unfit for purpose”. Ia menilai, jika sistem AI yang diklaim canggih tidak mampu menemukan bahwa 10 Downing Street bukanlah properti sewa liburan, maka potensi penyalahgunaan oleh pelaku penipuan akan semakin mudah terjadi. Boland mengungkapkan, “If Booking.com’s so-called sophisticated AI systems can’t spot that 10 Downing Street is not a holiday rental, then it’s no wonder scammers can exploit the platform so easily,” lalu menambahkan, “It would be laughable that we were able to list the UK’s most famous address for rent, if the consequences weren’t so devastating for holidaymakers, who risk losing thousands of pounds to bogus listings and phishing links.”
Desakan penguatan aturan penghapusan cepat
Which? juga mendorong agar aturan dan penegakan terkait konten ilegal dilakukan lebih tegas, khususnya dalam konteks Online Safety Act (OSA). Boland menyebut Ofcom, otoritas yang menegakkan OSA, perlu didorong untuk “crack down on irresponsible online platforms that leave consumers wide open to fraud”. Ia berpendapat bahwa platform booking perlu bertindak lebih cepat ketika menerima kesadaran tentang listing palsu yang jelas-jelas bersifat penipuan.
Sebagai respons kerangka hukum, juru bicara Ofcom menyampaikan bahwa untuk konten ilegal yang dihasilkan pengguna, platform memiliki kewajiban hukum untuk menurunkannya secara cepat setelah mereka menyadari adanya masalah tersebut. Dalam narasi yang sama, Booking.com juga menekankan bahwa penipuan memengaruhi banyak sektor, dan menyebut “80% of UK adults believe scams are becoming more sophisticated”, sekaligus menyatakan perusahaan terus memperkuat pertahanan menghadapi tantangan tersebut.












