jurnalistik.co.id – Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail meninjau pekerjaan pembangunan RSUD Ainun, Jumat (11/9/2026). Kunjungan itu menegaskan keseriusan pemprov dalam melanjutkan proyek rumah sakit yang sempat terhenti di beberapa masa pejabat gubernur.
Bangunan RSUD Hasri Ainun Habibie yang menjadi rumah sakit kebanggaan pemprov sebelumnya mengalami jeda panjang karena persoalan pendanaan dan keberlanjutan kontrak. Proyek layanan rawat inap dan fasilitas terkait kanker berhenti di tengah jalan, sehingga target penyediaan layanan kesehatan canggih tidak bisa langsung terpenuhi.
Menurut keterangan Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan Jamal Nganro, pembangunan fasilitas RSUD Ainun menjadi perhatian utama Gusnar setelah melihat persoalan yang berulang terjadi pada periode pejabat sebelumnya. Ia menuturkan bahwa upaya perpanjangan dukungan tidak datang sekali jalan, melainkan melalui proses yang panjang dan membutuhkan penyesuaian strategi.
Awal persoalan di beberapa masa pejabat gubernur
Di era Pj Gubernur Hamka Hendra Noer, rencana pembangunan yang dirintis pada masa sebelumnya melalui Dana PEN harus dikembalikan. Alasannya, waktu pelaksanaan dinilai terlalu mepet sehingga program tidak bisa dilanjutkan sesuai rencana.
Memasuki periode Pj Gubernur Ismail Pakaya dan Rudi Salahuddin, pekerjaan pembangunan juga kembali menghadapi hambatan yang sama, yakni putus kontrak di tengah jalan. Kondisi tersebut membuat pembangunan tidak tuntas, dan akhirnya tidak ada capaian berkelanjutan sampai masa berikutnya.
“Nah di era Pak Gusnar, pembangunan fasilitas RSUD Ainun jadi atensi beliau. Pak Gubernur menghadap Menteri Kesehatan untuk meyakinkan agar diberi kucuran dana kembali supaya ruang rawat inap lima lantai dapat dilanjutkan pembangunannya,” jelas Jamal Nganro usai mendampingi Gubernur Gusnar meninjau pekerjaan pembangunan di RSUD Ainun, Jumat (11/9/2026).
Jamal Nganro juga menjelaskan bahwa upaya meyakinkan Kementerian Kesehatan tidak mudah, mengingat anggaran sudah pernah dikucurkan pada tiga masa PJ Gubernur. Namun, meski dana sempat mengalir, penyelesaian pembangunan tidak kunjung rampung, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih terukur agar pekerjaan bisa berjalan penuh.
Langkah Gusnar: menghitung ulang dan memakai APBD
Sebagai bagian dari strategi serius, Gusnar menghitung ulang rencana kerja dan menggunakan APBD untuk melanjutkan kembali proyek yang sebelumnya mengalami putus kontrak. Dengan langkah itu, pemprov berupaya memastikan ruang rawat inap lima lantai tetap bergerak meski terdapat jeda pada pendanaan sebelumnya.
Bila melihat rangkaian proses tersebut, keputusan untuk melanjutkan dari sisi daerah menunjukkan upaya pemprov menjaga kesinambungan, bukan menunggu tanpa kepastian. Proyek yang sempat tertunda lalu kembali mendapat pijakan pelaksanaan, sehingga kebutuhan layanan lanjutan dapat dikerjakan secara bertahap.
Berita Terkait
- Gubernur Gusnar Tinjau Percepatan Gedung Pusat Kanker RSUD Ainun
- Warga Konsumsi Bitule, Gubernur Gusnar Ismail Perintahkan Bulog Gorontalo Salurkan Beras CPP di Hunggaluwa dan Tenilo
- Warga Huntu Batudaa Konsumsi Bitule, Gusnar Ismail Perintahkan Bulog Salurkan Beras CPP di Hunggaluwa–Tenilo (didampingi Sofyan Puhi)
Selanjutnya, Menkes RI memberi respons positif terhadap langkah pemprov. Gusnar menerima persetujuan kelanjutan pembangunan ruang rawat inap sekaligus dukungan untuk gedung layanan kanker.
Persetujuan Kemenkes dan rancangan layanan kanker
Gusnar menyebut bahwa persetujuan tidak hanya memulihkan rencana pembangunan ruang rawat inap, tetapi juga menambah alokasi untuk pembangunan gedung layanan kanker. Pada rancangan tersebut, fasilitas akan dilengkapi perangkat medis seperti LINAC atau Linear Accelerator (Akselerator Linier), layanan CT Cimulator, serta ruang layanan Brachtherapy atau terapi radioaktif.
“Dana ini pernah kembali lagi ke pusat karena pekerjaan kita kurang tidak maksimal, akhirnya kita berdiskusi lagi dengan Pak Menteri dan alhamdulillah Pak Menteri setuju untuk melanjutkan pembangunannya,” kata Gusnar saat diwawancarai di tempat yang sama.
Dengan kelengkapan fasilitas yang disebutkan, RSUD Ainun diproyeksi menjadi rumah sakit rujukan kanker di Indonesia Timur. Proyeksi itu muncul karena pembangunan yang direncanakan tidak sebatas sarana ruang, tetapi juga menyasar tersedianya layanan dengan dukungan teknologi medis.
Gambaran yang disampaikan dalam peninjauan juga menekankan bahwa gedung layanan kanker yang dibangun bukan sekadar fasilitas “kaleng-kaleng”. Hal ini terlihat dari spesifikasi perangkat yang direncanakan serta rancangan teknis bangunan untuk kebutuhan perawatan radioaktif.
Gedung LINAC direncanakan memakai mesin medis canggih dengan gelombang elektromagnetik untuk menghasilkan sinar-X atau foton berenergi tinggi. Sementara itu, terapi radioaktif diarahkan untuk jaringan tumor, sehingga layanan yang tersedia bisa menyesuaikan kebutuhan penanganan penyakit.
Selain perangkat, aspek keselamatan menjadi perhatian dalam perencanaan gedung. Ketebalan dinding dirancang berlapis hingga tiga meter, itulah sebabnya gedung tersebut sering disebut sebagai bunker untuk menjegah radioaktif keluar dari gedung tersebut.
Dampak bagi layanan kesehatan daerah
Jika dua gedung yang menjadi fokus kelanjutan ini rampung, masyarakat Gorontalo dipandang siap mewujudkan rencana memiliki rumah sakit dengan fasilitas canggih. Dengan selesainya ruang rawat inap lima lantai, kapasitas layanan dapat ditingkatkan, sementara gedung layanan kanker diharapkan memperluas akses terapi berbasis teknologi.
Rangkaian proses dari tertundanya pembangunan, upaya mengatasi hambatan masa lalu, hingga persetujuan kelanjutan dari Jakarta menunjukkan bahwa proyek RSUD Ainun kembali berada di jalur yang lebih jelas. Bagi pemprov, keberhasilan ini juga menjadi penanda bahwa persoalan yang pernah menghentikan pekerjaan dapat dipulihkan lewat perencanaan yang lebih matang dan koordinasi yang terus dijalankan.












