jurnalistik.co.id – Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, mengambil langkah cepat menyusul laporan warga yang menggunakan bitule sebagai makanan pokok sehari-hari.
Gusnar memerintahkan Bulog Gorontalo agar segera menyalurkan beras Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) kepada masyarakat di Desa Huntu, Kecamatan Batudaa, Kabupaten Gorontalo.
Menurut keterangan yang diterima Gusnar, sebagian warga di desa tersebut sedang mengonsumsi bitule sebagai sumber karbohidrat utama untuk kegiatan sehari-hari.
Di wilayah Gorontalo yang berdekatan dengan hutan atau daerah berbukit, bitule memang dikenal sebagai alternatif cadangan pangan ketika musim kering atau kondisi kelangkaan terjadi.
Bitule yang dimaksud adalah tanaman dengan nama ilmiah Dioscorea hispida. Rasa buahnya dikenal pahit dan tanaman ini diketahui mengandung senyawa kimia yang dapat bersifat toksik bila tidak diolah dengan benar.
Penyaluran beras CPP di Hunggaluwa dan Tenilo
Dalam kesempatan peninjauan, Gusnar Ismail didampingi Bupati Sofyan Puhi turut menyerahkan bantuan beras CPP kepada penerima di dua wilayah, yakni Kecamatan Hunggaluwa dan Kecamatan Tenilo.
Untuk Kecamatan Hunggaluwa, jumlah keluarga penerima mencapai 850 rumah tangga, sedangkan di Kecamatan Tenilo sebanyak 300 rumah tangga.
Setiap keluarga penerima memperoleh 30 kilogram beras. Bantuan tersebut ditujukan untuk memenuhi jatah alokasi selama periode bulan Juli, Agustus, dan September.
Gusnar menyampaikan bahwa penyaluran bantuan pangan dilakukan secara terarah agar kebutuhan warga tetap tercukupi, terutama ketika akses pangan berbasis bahan pangan alternatif tengah menjadi pilihan sebagian masyarakat.
Berita Terkait
Langkah penguatan cadangan pangan melalui CPP ini diharapkan membantu mengurangi beban warga dan memastikan distribusi logistik kebutuhan dasar berjalan tepat waktu.
Dengan adanya intervensi melalui beras CPP, penerima di Hunggaluwa maupun Tenilo dapat memiliki kepastian pemenuhan kebutuhan selama tiga bulan ke depan.
Penyerahan bantuan juga menjadi bentuk respons langsung atas informasi lapangan yang sampai ke Gubernur, sekaligus menegaskan perhatian pemerintah daerah terhadap situasi pangan di tingkat komunitas.
Terutama di konteks pemanfaatan bitule, pemerintah menempatkan dukungan pangan yang aman dan terukur melalui skema CPP agar warga tidak bergantung penuh pada bahan pangan yang memerlukan pengolahan khusus.
Bitule sendiri memang tumbuh liar di hutan-hutan Gorontalo, namun pengetahuan mengenai risiko kandungan toksik pada tanaman tersebut tetap menjadi perhatian, karena pengolahan yang tidak tepat dapat menimbulkan bahaya bagi kesehatan.
Karena itu, penyaluran beras CPP yang segera dilakukan diharapkan memberi ruang bagi warga untuk tetap memperoleh asupan pangan yang lebih stabil, sementara kebutuhan masyarakat dalam periode musim dan kondisi ekonomi terus dipantau.
Melalui instruksi Gusnar Ismail kepada Bulog Gorontalo, distribusi CPP diarahkan agar sampai kepada keluarga penerima sesuai data penerima di masing-masing kecamatan, mulai Hunggaluwa hingga Tenilo, selama periode Juli hingga September.
Gusnar juga menekankan agar pelaksanaan bantuan tidak berhenti pada penyaluran fisik, melainkan memastikan barang pangan sampai kepada rumah tangga yang telah terdata. Dengan demikian, distribusi CPP dapat mengikuti alokasi periode yang ditetapkan, sekaligus mengurangi potensi keterlambatan yang sering muncul saat kondisi pangan sedang tidak menentu.
Di sisi lain, pemanfaatan bitule sebagai karbohidrat alternatif tetap memerlukan kewaspadaan karena tanaman tersebut dikenal mengandung senyawa yang dapat bersifat toksik apabila pengolahan tidak dilakukan secara benar. Karena itu, penyaluran beras dari skema CPP diposisikan sebagai dukungan yang lebih aman dan terukur, sehingga pemenuhan kebutuhan dasar warga tidak semata bergantung pada bahan pangan alternatif yang menuntut keterampilan pengolahan.
Langkah ini sekaligus menjadi bantalan ketika akses pangan berbasis bahan lain ikut tertekan, terutama di wilayah yang berdekatan dengan hutan atau daerah berbukit. Dengan tersedianya beras CPP untuk periode bulan Juli, Agustus, dan September, penerima di dua kecamatan yang disasar dapat memperoleh kepastian ketersediaan selama tiga bulan ke depan.
Pemerintah daerah juga memperlakukan penyerahan bantuan sebagai respons terhadap informasi yang sampai ke pimpinan daerah dari kondisi lapangan. Keterlibatan Bulog Gorontalo dan kehadiran Bupati Sofyan Puhi saat peninjauan menunjukkan adanya koordinasi penanganan kebutuhan warga dari tingkat provinsi hingga kabupaten, sesuai penerima yang ditentukan di Kecamatan Hunggaluwa dan Kecamatan Tenilo.












