jurnalistik.co.id – Kapolda Gorontalo, Irjen Pol Drs. Widodo, S.I.K., M.H., membuka kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Cipayung Plus Provinsi Gorontalo pada Jumat (28/8/2026). Acara tersebut mengangkat pembahasan isu LGBT dengan pendekatan lintas perspektif.
FGD mengusung tema “LGBT dalam Kajian Lintas Perspektif untuk Penguatan Generasi Muda, Ketahanan Keluarga, dan Kehidupan Sosial Masyarakat”. Kegiatan berlangsung di Ballroom Pyur For Gorontalo, Jalan H. Joesoef Dalie, Kecamatan Kota Utara, Kota Gorontalo.
Dalam pelaksanaan diskusi, hadir pula Dir Intelkam Polda Gorontalo, Dir Umum, Dirreskrimsus, dan Dir Samapta. Forum itu juga dihadiri para Presiden BEM, organisasi Cipayung Plus, serta sekitar 100 peserta.
Narasumber dari berbagai bidang
Sidang FGD mempertemukan narasumber dengan latar belakang yang beragam. Tokoh Adat Gorontalo, Ir. Alim S. Niode, M.S., ikut menyampaikan pandangan sesuai perspektif sosial-budaya.
Ketua MUI Gorontalo, Dr. Zulkarnain Suleman, S.H., M.H.I., juga hadir sebagai narasumber. Selain itu, Ketua Pansus Perda LGBT/Anggota DPRD Kota Gorontalo, Susanto H. Liputo, S.H., tampil sebagai praktisi hukum yang ikut mengulas isu dari sisi kebijakan.
FGD turut menghadirkan akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Kusumawati Matara, M.A. Rangkaian materi juga diperkuat oleh Ketua Program Studi Psikologi UNG, Irvan Usman, S.Psi., M.Si., serta Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo, Dr. dr. Abang Otoluwa, MPPM.
Latar belakang isu dan tujuan forum
Penyelenggaraan FGD dilatarbelakangi berkembangnya isu terkait Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) di tengah masyarakat maupun media sosial. Karena itu, forum diarahkan agar pembahasan dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan berbagai unsur dan sudut pandang.
Melalui kegiatan ini, para peserta mendapatkan kesempatan untuk bertukar pandangan serta mendiskusikan isu LGBT dari aspek sosial, budaya, hukum, kesehatan, psikologi, keagamaan, dan pendidikan. Harapannya, diskusi tidak berhenti pada perbedaan pendapat, tetapi bermuara pada pemahaman yang lebih utuh dan langkah yang konstruktif.
Berita Terkait
Di momen yang sama, Kapolda Gorontalo menekankan pentingnya komunikasi dan kolaborasi antarelemen masyarakat, terutama generasi muda, dalam menyikapi berbagai persoalan sosial yang muncul. Menurutnya, perbedaan pandangan perlu dijembatani melalui dialog yang sehat, berdasarkan data serta perspektif keilmuan, dengan tetap mengedepankan nilai kebersamaan, penghormatan terhadap sesama, dan ketertiban sosial.
“Forum seperti ini menjadi ruang yang baik untuk berdiskusi secara terbuka dan objektif. Kita berharap generasi muda dapat memiliki pemahaman yang utuh dalam menyikapi berbagai persoalan sosial yang berkembang di masyarakat,” ujar Kapolda.
Sinergi untuk penguatan generasi muda dan ketahanan keluarga
Kapolda juga menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif Cipayung Plus Provinsi Gorontalo yang menghadirkan berbagai unsur dalam kegiatan tersebut. Ia menilai penguatan generasi muda dan ketahanan keluarga membutuhkan sinergi dari banyak pihak.
Sinergi itu, menurut Kapolda, perlu melibatkan pemerintah, aparat penegak hukum, tokoh masyarakat, akademisi, organisasi kepemudaan, serta seluruh elemen masyarakat. Dengan cara tersebut, dinamika sosial yang berkembang dapat dihadapi secara lebih terarah, tanpa mengabaikan prinsip penghormatan dan keteraturan di ruang publik.
Selama berlangsungnya FGD, suasana diskusi berjalan terbuka dan interaktif. Para peserta menyampaikan pandangan dan berdialog langsung dengan para narasumber mengenai berbagai aspek yang berkaitan dengan isu LGBT dan dinamika kehidupan sosial masyarakat.
Melalui rangkaian diskusi ini, diharapkan terbangun pemahaman bersama sekaligus rekomendasi yang bersifat konstruktif. Output tersebut dimaksudkan sebagai bagian dari upaya memperkuat generasi muda, ketahanan keluarga, serta kehidupan sosial masyarakat di Provinsi Gorontalo.
Dalam forum tersebut, pembahasan tidak hanya diarahkan pada satu sudut pandang, melainkan disusun agar peserta dapat melihat isu LGBT melalui ragam referensi yang berbeda. Kehadiran pejabat dan unsur terkait membuat diskusi berlangsung dengan format yang memungkinkan berbagai masukan saling melengkapi, termasuk dari sisi kebijakan, pengamanan sosial, serta kebutuhan masyarakat dalam menjaga ketertiban.
Keragaman latar narasumber juga menjadi bagian penting dari upaya forum untuk membangun cara pandang yang lebih menyeluruh. Tokoh adat, pimpinan keagamaan, akademisi, serta praktisi hukum dan unsur kesehatan ikut menyampaikan pendapat sesuai bidangnya, sehingga peserta memperoleh gambaran yang lebih luas mengenai bagaimana isu tersebut dipahami dalam konteks sosial, budaya, dan kehidupan publik.
Selain bertukar pemikiran, peserta dalam FGD juga diarahkan untuk menempatkan dialog sebagai sarana mencari titik temu yang tetap menjunjung penghormatan antarsesama. Kapolda menilai perbedaan pandangan dapat dikelola melalui komunikasi yang sehat, bertumpu pada data dan penjelasan keilmuan, sekaligus mendorong langkah yang konstruktif. Dengan demikian, rangkaian kegiatan diharapkan menjadi penguatan bagi generasi muda dan ketahanan keluarga, termasuk dalam merawat kehidupan sosial masyarakat di Provinsi Gorontalo.












