jurnalistik.co.id – Frank Lampard memasuki delapan tahun perjalanan karier kepelatihannya dan menegaskan bahwa Jose Mourinho serta Carlo Ancelotti menjadi dua pengaruh paling menonjol dalam membentuk gaya kerjanya di Coventry.
Menurutnya, keduanya tidak hadir sebagai figur yang sama persis, melainkan dua sisi yang saling melengkapi—memberi batas yang jelas kapan harus tegas dan kapan harus memberi ruang.
Mencari keseimbangan ala Mourinho dan Ancelotti
Lampard menyebut hubungan antara Mourinho dan Ancelotti ibarat perbandingan dua karakter yang berbeda. Ia mengatakan, “Jose and Carlo are like both sides of the coin,” dan menjelaskan bahwa Mourinho sangat kuat dalam memberi pesan langsung kepada pemain, termasuk rasa percaya diri.
Baginya, saat tim berada di bawah Mourinho, ada transmisi keyakinan yang terasa, namun jika pemain keluar jalur atau melakukan kesalahan, kekuatan karakter itu juga akan muncul.
Sementara itu, Lampard menggambarkan Ancelotti sebagai sosok yang lebih tenang dan stabil: “whereas Carlo was chilled and calm.” Ia menilai lingkungan kerja yang diciptakan Ancelotti terasa nyaman, karena ada unsur kepercayaan yang membuat pemain merasa didengar.
Ia kemudian merangkum cara ia menyerap pelajaran dari dua pendekatan itu. Lampard menyatakan, “It felt like he trusted you. So I try and take little snippets. I’m probably somewhere in the middle.”
Pengalaman Lampard saat masih menjadi pemain turut memperkuat penilaian tersebut. Ia pernah bekerja di Chelsea bersama Mourinho dan Ancelotti, serta meraih gelar Premier League dan FA Cup dengan masing-masing pelatih.
Ketika menatap target kesuksesan berikutnya bersama Coventry, Lampard mengatakan ia memilih perpaduan keduanya. Ia menegaskan, “I start to sometimes go towards being Jose, sometimes I go and be a bit more Carlo.”
Dalam penjelasannya soal pengelolaan pemain muda, Lampard menyoroti kecenderungan yang kerap muncul pada manajer yang masih baru. “I’ve learnt that young managers, you come in and feel like you have to to criticise a bad performance or say something about an individual that turns up late,” ujarnya.
Namun seiring waktu, ia melihat bahwa semua orang pada dasarnya adalah manusia, sehingga pendekatan perlu menyesuaikan konteks. “Sometimes a lad comes in late, you don’t know the back story,” kata Lampard, dan ia menambahkan bahwa dalam situasi seperti itu, sikap yang terlalu keras harus digantikan dengan corak yang lebih tenang ala Carlo.
Di sisi lain, ia juga menegaskan bahwa tidak semua momen menuntut relaksasi. Jika pemain di lapangan tidak menjalankan tugasnya, Lampard menyatakan ia bisa beralih menjadi lebih “Jose” ketimbang sekadar menjaga suasana tetap nyaman.
Menahan dorongan membuktikan keraguan
Meski Coventry berhasil kembali ke Premier League untuk pertama kalinya dalam 25 tahun, Lampard menegaskan ia tidak didorong oleh niat semata-mata untuk membungkam para skeptis.
Ia menyampaikan pandangannya tentang sepak bola modern kepada Tom Grennan, menyebut dinamika permainan yang berubah cepat. Lampard berkata, “The thing about modern-day football – you’re brilliant one minute, you might not be brilliant the next and then everyone will let you know that.”
Menurut Lampard, karena perubahan itu tak bisa dihindari, upaya untuk membuktikan setiap keraguan kepada semua orang juga tidak realistis. Ia mengingatkan, “You’ve got to be careful trying to prove every doubter wrong, because it’s not possible.”
Musim lalu, Lampard menuntun Coventry meraih kemenangan di Championship dengan 95 poin. Ia mulai memegang kendali klub pada November 2024, dan hasil itu membawa tim menapak ke level tertinggi.
Sebelum pencapaian itu, pengalaman Lampard sebagai pelatih juga beragam. Ia mengambil alih Derby pada 2018 dan membawa tim hingga final playoff Championship, namun mereka kalah dari Aston Villa.
Berita Terkait
Setelahnya, Lampard menjalani masa yang tidak panjang di Premier League bersama Chelsea dan Everton. Di Stamford Bridge, ia bertahan 18 bulan sebelum dipecat pada Januari 2021, sedangkan di Goodison Park ia kurang dari setahun sebelum juga diberhentikan pada Januari 2023.
Dalam merefleksikan jalannya karier, Lampard mengakui bahwa ambisi untuk membuktikan skeptis pada dasarnya selalu ada, tetapi ia berusaha agar itu tidak menjadi penggerak utama. Ia menjelaskan, “My personal ambition to prove any doubters wrong is sort of always there, but I try not to let that be my driver.”
Ia menambahkan bahwa ia memahami tantangan Premier League—baik dari sisi ketika menjadi pemain maupun saat menjadi manajer. “I can’t get ahead of myself and I can’t worry too much about the outside world because otherwise you succumb to it, you’d be making different decisions,” ujar Lampard.
Promosi sebagai salah satu puncak pencapaian
Lampard menempatkan promosi Coventry sebagai sesuatu yang setara dengan sebagian pencapaian terbesarnya sebagai pemain. Ia pernah memenangkan tiga gelar Premier League serta meraih gelar Champions League pada 2012, selain empat Piala FA, dua Piala Liga, dan trofi Europa League.
Ketika membandingkan momen promosi, Lampard mengaitkannya dengan tugas berat yang sama-sama menuntut fokus. Ia mengatakan, “When you get promoted, it’s hard to balance against winning the Champions League with Chelsea.”
Ia juga menyinggung pengalaman pribadinya saat berada di puncak sebagai pemain. Lampard menilai, “Winning in Munich was the best footballing night of my life as a player by far.”
Namun, ia menekankan bahwa pencapaian bersama klub yang telah melalui banyak hal punya rasa berbeda. Ia menyebut bahwa keberhasilan itu lahir dari kelompok pemain yang luar biasa di ruang ganti, dan ia belum pernah merasakan kualitas seperti itu, terutama saat bekerja sebagai pelatih.
Tentang momen promosi, Lampard berkata bahwa ketika tim naik kasta setelah menghadapi Blackburn, ia merasakan “a rush of pure emotion.” Ia menambahkan, “It certainly goes right up there in things I’ve managed to achieve.”
Menghadapi tantangan Premier League
Setelah masuk ke kasta tertinggi, Lampard mengatakan tim harus beradaptasi dengan tantangan yang berbeda, khususnya dari sisi pertahanan.
Ia ingin Coventry tetap mempertahankan hal-hal baik yang berhasil ditunjukkan pada musim lalu. “We want to keep hold of the good things from last year,” ujarnya, sambil menegaskan bahwa tim tidak bisa berharap bermain dengan cara yang sama seperti ketika mendominasi banyak pertandingan di Championship.
Ia menegaskan, “We’d be fools to think that we’d just go and play like we did in the ‘Champ’ every week when we dominated a lot of games.”
Target utama: berani menjalankan rencana
Bagi Lampard, ambisi tim pada musim ini adalah mendorong keberanian para pemain. Ia menanggapi pertanyaan tentang target bertahan di liga sebagai “success,” tetapi ia mengemasnya sebagai tantangan besar yang harus dihadapi dengan sikap yang tepat.
Ia berkata, “Of course it would be success, because it’s such a big challenge for us, but in the beginning, we’ll go into it and go, ‘let’s stick our chests out and let’s be brave about it’.”
Ia menekankan bahwa para pemain sudah berhak sampai sejauh ini, sehingga mereka perlu masuk dengan mental itu. “These boys have earned where they’ve got to, so go in with that attitude. There’s a lot to lose, but go and show yourselves,” kata Lampard.
Di awal musim, Coventry kalah 3-0 dari Arsenal yang menjadi juara. Pada pertandingan berikutnya, mereka akan menjamu Hull City pada hari Sabtu, sekaligus laga kandang pertama kampanye ini.












