jurnalistik.co.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Kecamatan Tulung Selapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, berkembang pesat. Kondisi di lapangan menunjukkan luas area terbakar diperkirakan mencapai sekitar 200 hektare, sementara petugas menghadapi kendala berupa terbatasnya sumber air dan sulitnya akses menuju titik api.
Menurut keterangan pejabat Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, eskalasi kebakaran berlangsung di tengah cuaca yang cenderung kering serta diperkuat oleh meningkatnya El Nino. Situasi ini membuat api lebih cepat menjalar dan pemadaman membutuhkan penanganan yang lebih terukur.
Hingga saat pelaporan, perhitungan luasan masih berlangsung. Ferdian Krisnanto menyampaikan bahwa estimasi awal berada di kisaran 200 hektare dan penanganan dilakukan dengan mengerahkan seluruh regu untuk memutus penjalaran api di wilayah tersebut. “Untuk lokasi Tulung Selapan, masih dalam proses perhitungan luasan, estimasi awal sekitar 200 hektare. Saat ini dikerjakan bersama dengan RPK Sinarmas, didukung excavator dan water bombing,” ujar Ferdian dalam keterangan tertulis, Senin (10/8/2026).
Dalam proses pemadaman, petugas juga membangun pengendalian lapangan agar operasi bisa berjalan aman dan efektif. Salah satu langkah yang disebutkan adalah pendirian tenda darurat yang difungsikan sebagai posko di sekitar lokasi kebakaran. “Kondisi (api) sudah mulai tersekat sehingga penjalaran api sudah mandek. Penempatan tenda ini sudah memperhitungkan arah angin, jarak aman, jalur evakuasi dan jalur logistik sehingga dipastikan aman,” katanya.
Upaya pemadaman tidak berhenti pada penghentian penjalaran. Setelah api dinyatakan mulai tersekat, tim tetap melakukan pemadaman lanjutan sekaligus penyekatan untuk memastikan titik yang sudah ditangani tidak kembali aktif dan merembet ke area lain.
Ferdian menjelaskan bahwa petugas masih menjalankan tahapan pemadaman dan penyekatan secara berkelanjutan. “Petugas saat ini masih melakukan pemadaman dan penyekatan untuk memastikan api tidak kembali menjalar ke area lain,” ujar Ferdian. Dengan cara tersebut, petugas berusaha menahan kemungkinan bara berpindah tempat serta mengunci batas-batas area yang sudah berhasil dikendalikan.
Berita Terkait
Kebakaran di Tulung Selapan dilaporkan telah berlangsung hampir sepekan. Tantangan utama dalam rentang waktu tersebut datang dari karakter bahan bakar di lokasi yang cukup melimpah, sehingga api relatif mudah terbakar dan respons pemadaman harus menyesuaikan kondisi lapangan yang dinamis.
Di sisi lain, proses penanganan turut dipersulit oleh faktor sumber air dan akses menuju titik-titik kebakaran. Ferdian menyebutkan bahwa kondisi bahan bakaran melimpah dan sangat mudah terbakar, sementara ketersediaan air serta jalur menuju lokasi cukup terbatas. “Kondisi bahan bakaran melimpah dan sangat mudah terbakar. Kondisi sumber air terbatas, akses juga lumayan berat sehingga pergerakan pasukan dan alat dibantu excavator menuju titik-titik pemadaman,” jelasnya.
Dengan keterbatasan tersebut, tim tidak hanya bergantung pada satu metode. Pemadaman dari darat tetap dilakukan, tetapi operasi juga mendapat dukungan dari water bombing untuk menjangkau titik yang sulit diakses petugas secara langsung. Pendekatan ini membantu menurunkan intensitas api di area-area yang tidak memungkinkan dijangkau dengan cepat melalui jalur darat.
Ferdian juga menekankan bahwa lahan yang terbakar berada dalam satu hamparan. Karena itu, strategi yang diterapkan berfokus pada upaya menghentikan penjalaran sejak awal agar api tidak meluas ke bagian lain yang berada di dalam hamparan yang sama.
Secara operasional, keberadaan posko darurat beserta pertimbangan keselamatan menjadi bagian dari manajemen risiko selama proses pemadaman berlangsung. Penempatan tenda disiapkan dengan memperhitungkan arah angin, jarak aman, jalur evakuasi, dan jalur logistik agar mobilisasi personel maupun kebutuhan operasional berjalan tanpa mengabaikan aspek keselamatan.
Meski penjalaran api telah berhasil dihentikan, petugas tetap harus menjaga ritme kerja agar penyekatan benar-benar efektif. Penguatan batas area dan pemadaman menyeluruh menjadi penentu apakah api dapat ditahan, terutama pada kondisi bahan bakar yang masih mudah terbakar.
Hingga saat ini, petugas terus memadankan api dan mencegah kemungkinan kebakaran kembali menjalar. Dengan keterbatasan sumber air dan akses yang masih menjadi hambatan, penggunaan kombinasi metode pemadaman darat dan water bombing menjadi kunci untuk memastikan seluruh titik api dapat dikendalikan secara bertahap.












