Daerah

Normal Suhu Indonesia September 26,56°C: Jakarta Terasa Panas

×

Normal Suhu Indonesia September 26,56°C: Jakarta Terasa Panas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Jakarta Terasa Panas, Berapa Suhu Normal RI di September?

jurnalistik.co.id – Suhu terasa lebih terik di Jakarta dalam beberapa hari terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi itu masih berlanjut pada akhir pekan ini.

Prakiraan suhu di Jakarta pada Sabtu

BMKG menyebut pada Sabtu, 19 September 2026, suhu di Jakarta berada pada kisaran 26–33°C. Wilayah dengan suhu paling tinggi diperkirakan berada di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

Untuk Jakarta Pusat, perkiraan berada di rentang 26–31°C. Walau begitu, ada kemungkinan suhu melampaui kisaran tersebut, mengikuti dinamika kondisi setempat.

Pada Sabtu pukul 10.36 WIB, suhu di Jakarta Pusat tercatat 32°C. Angka ini menggambarkan potensi intensitas panas yang bisa meningkat pada jam-jam tertentu.

Suhu normal September di Indonesia

Selain memantau suhu harian, BMKG juga merujuk data klimatologis untuk menggambarkan “normal” temperatur pada musimnya. Untuk September, normal suhu udara klimatologis untuk periode 1991–2020 di Indonesia adalah sebesar 26,56°C.

BMKG menjelaskan, nilai normal tersebut berada dalam kisaran 19,87°C hingga 29,01°C. Dengan kata lain, distribusi suhu September secara klimatologis memang memiliki rentang yang cukup lebar.

Rata-rata suhu September pada rentang data 1981–2025 tercatat sebesar 26,58°C. Walaupun demikian, pada beberapa tahun suhu September dapat berada jauh di atas rata-rata tersebut.

Dalam periode 1981–2025, suhu tertinggi rata-rata September tercatat pada 2024, yaitu sebesar 27,5°C. Temuan ini menunjukkan bahwa pada tahun-tahun tertentu, September dapat mengalami pemanasan yang lebih kuat dibanding kondisi rata-rata historis.

Alasan kondisi lebih kering dan panas

BMKG sebelumnya mengingatkan adanya fenomena El Niño kategori sangat kuat yang berbarengan dengan musim kemarau. Kondisi ini membuat sebagian wilayah Indonesia lebih kering dibanding biasanya.

Menurut BMKG, minimnya tutupan awan menjadi faktor lain yang ikut mendorong kenaikan suhu permukaan. Ketika pembentukan awan dan proses peneduhan berkurang, panas dari radiasi matahari cenderung lebih efektif memengaruhi suhu di permukaan.

BMKG juga menyebut sejumlah wilayah selatan Indonesia mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) ekstrem, yaitu lebih dari 60 hari tanpa hujan. Wilayah yang disebut antara lain sebagian Sumatra, Jawa, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Maluku, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua Selatan.

Prakiraan curah hujan hingga pertengahan Oktober

Karena kondisi kering diperkirakan masih berlanjut, BMKG memproyeksikan curah hujan pada akhir September hingga pertengahan Oktober 2026. Sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi menerima hujan dengan kategori rendah hingga menengah, sekitar 0–150 mm per dasarian.

Meskipun demikian, BMKG menegaskan peluang hujan masih ada pada periode 18–24 September. Peluang tersebut diperkirakan terjadi di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Papua Pegunungan, dan Papua.

BMKG mengaitkan potensi hujan dengan dinamika atmosfer skala besar. Aktivitas Gelombang Rossby dan Kelvin, ditambah potensi sirkulasi siklonik di Laut Cina Selatan, dinilai dapat memicu pertumbuhan awan dan memunculkan hujan di sejumlah wilayah.

Sementara itu, pada Oktober 2026, BMKG menyebut pesisir barat Aceh dan Sumatera Utara berpotensi mengalami hujan lebih dari 150 mm per dasarian. Ini menunjukkan adanya variasi respons hujan antarwilayah meski musim kemarau tetap mendominasi.

Dengan mempertimbangkan gabungan prakiraan suhu dan pola curah hujan tersebut, masyarakat dapat mengantisipasi cuaca yang cenderung panas, terutama pada jam-jam dengan suhu maksimum. Pemantauan lanjutan tetap diperlukan karena kondisi dapat berubah mengikuti dinamika atmosfer dan sebaran awan.

Dari sisi kondisi harian, BMKG menekankan bahwa suhu yang terasa panas di Jakarta diperkirakan tidak hanya terjadi pada satu titik waktu. Pemanasan dapat lebih terasa ketika suhu maksimum muncul pada jam tertentu, sehingga aktivitas luar ruang sebaiknya menyesuaikan dengan perubahan intensitas panas dari waktu ke waktu.

BMKG juga menggambarkan bahwa kenaikan suhu di musim ini berkaitan dengan kombinasi El Niño yang sangat kuat dan kemarau, yang membuat sebagian wilayah lebih kering dibanding kondisi biasanya. Selain itu, berkurangnya tutupan awan membuat proses peneduhan ikut menurun, sehingga radiasi matahari lebih efektif memengaruhi suhu permukaan, sementara tren Hari Tanpa Hujan ekstrem di berbagai wilayah turut menguatkan karakter cuaca kering.