jurnalistik.co.id – Tinggi badan ternyata ikut menentukan cara pebalap mengendalikan motor di MotoGP. Postur tubuh bisa memengaruhi bermanuver, keseimbangan saat berubah arah, serta pada akhirnya berdampak pada performa ban dan pengereman.
Dalam balapan, mengubah posisi tubuh bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan bagian dari strategi kendali. Perbedaan ukuran tubuh membuat pebalap memiliki karakter gerak yang berbeda ketika memindahkan bobot, mengatur sudut tikungan, dan menjaga stabilitas jelang aksi pengereman.
Keunggulan postur bagi pebalap bertubuh lebih tinggi
Toprak Razgatlioglu menjadi contoh yang merasakan langsung efek dari postur. Pebalap asal Turki itu tercatat sebagai rider tertinggi di grid MotoGP saat ini dengan tinggi 185 cm.
Menurut Toprak, tubuh yang lebih tinggi menghadirkan keuntungan pada beberapa aspek kendali di atas motor. “Dalam beberapa aspek saya punya keuntungan karena saya tinggi,” kata Toprak, dikutip MotoGP, Rabu (17/6/2026).
Tuas saat memindahkan bobot pada saat menikung
Keuntungan itu juga dijelaskan dari sisi mekanisme kendali. Kepala kru Toprak, Alberto Giriboula, menilai postur yang lebih tinggi membuat efek tuas menjadi lebih besar ketika pebalap memindahkan bobot tubuh saat menikung atau mengubah arah motor.
Giriboula menyebut, “Jika Anda pebalap yang tinggi, Anda bisa memaksa motor sedikit lebih jauh karena efek tuasnya lebih besar. Anda juga bisa lebih banyak menggantungkan tubuh tanpa kehilangan pijakan di footstep,” katanya.
Pernyataan itu menekankan keterkaitan antara tinggi tubuh dan rentang gerak saat mengarahkan motor. Dengan efek tuas yang lebih besar, gerakan tubuh yang dilakukan pebalap saat mengubah posisi dapat diterjemahkan menjadi kendali yang lebih jauh pada motor, khususnya pada fase perubahan arah dan proses mendekati titik tikungan.
Keseimbangan motor dengan ruang gerak yang lebih leluasa
Luca Marini juga mengaitkan tinggi badannya dengan kemampuan mengelola keseimbangan. Adik tiri Valentino Rossi tersebut memiliki tinggi 184 cm, dan menurutnya tubuh yang lebih tinggi memberinya keleluasaan untuk memainkan keseimbangan motor.
Marini menjelaskan, “Anda bisa banyak memainkan tubuh dan mengubah keseimbangan motor secara signifikan,” kata Marini.
Kalimat tersebut menggambarkan bahwa perbedaan postur dapat memengaruhi seberapa besar pebalap bisa mengatur keseimbangan ketika motor berada dalam kondisi yang dinamis. Saat tubuh dapat “dimainkan” lebih leluasa, perubahan keseimbangan menjadi lebih terasa, sehingga kendali terhadap motor ketika mengubah arah bisa lebih terstruktur.
Ukuran tangan dan kaki: kendali tanpa tenaga berlebih
Sementara itu, Fermin Aldeguer yang memiliki tinggi 181 cm membawa perspektif berbeda. Ia menilai ukuran tubuhnya—terutama tangan dan kaki yang panjang—membantunya mengendalikan motor tanpa harus mengeluarkan tenaga berlebih.
Aldeguer mengatakan, “Saya memiliki tangan dan kaki yang panjang, dan itu membantu saya mengendalikan motor tanpa harus mengeluarkan terlalu banyak tenaga,” kata Aldeguer.
Di sini, hubungan antara postur dan performa muncul lewat efisiensi gerak. Ketika anggota tubuh lebih panjang, pebalap bisa mendapatkan jalur kendali yang lebih nyaman untuk merespons perintah pada motor, tanpa harus memaksakan tenaga secara berlebihan.
Footstep, manuver, dan dampak lanjutan pada performa
Pada motor MotoGP modern, posisi berkendara menjadi aspek yang sangat diperhatikan tim, termasuk bagaimana pebalap menggunakan footstep sebagai tumpuan saat mengubah arah. Giriboula menyinggung bahwa pebalap tinggi dapat lebih banyak menggantungkan tubuh tanpa kehilangan pijakan pada footstep, yang menegaskan pentingnya stabilitas pijakan saat tubuh bekerja sebagai komponen kendali.
Gabungan dari efek tuas, pengaturan keseimbangan, serta dukungan ukuran tangan dan kaki lalu menjadi faktor yang memengaruhi cara pebalap mengeksekusi manuver. Dari sinilah pengaruh terhadap performa ban dan pengereman dapat muncul, karena keduanya sangat terkait dengan kemampuan pebalap mengatur motor secara presisi pada momen-momen krusial.
Dengan demikian, tinggi badan tidak hanya dipandang sebagai data fisik di lembar biografi pebalap, melainkan sebagai variabel yang turut membentuk strategi gerak di atas motor. Toprak, Marini, dan Aldeguer menunjukkan bahwa masing-masing pebalap dapat menemukan keuntungan yang berbeda—mulai dari efek tuas, keleluasaan mengubah keseimbangan, hingga kendali yang lebih efisien—untuk menjaga performa di sepanjang balapan.












